Puisi

Keadilan Telah Mati

Rintihan mereka yang tidak menikmati keadilan

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Keadilan telah mati

Bersama ratusan mayat yang terbunuh dalam kepulan asap gas air mata

Dentuman tembakan gas air mata, derap langkah serdadu

Memecah ratusan tangis ketakutan

Dalam hitungan menit kepulan asap memenuhi tempat itu dan menyesakkan dada yang tak berdosa

Di bawah langit merah

Ratusan jiwa berguguran di atas tanah lapang

Kami terlahir di zaman ketika uang menggantikan posisi Tuhan

Di mana para hakim dan jaksa

Disogok untuk membebaskan pelakunya

Siapakah yang bertanggung jawab?

Terhadap ribuan mayat dari zaman ke zaman

Yang dibunuh oleh aparat penegak hukum

Siapa!?

Kemerdekaan kami telah direnggut sejak dalam rahim Ibu

Keberanian dirampas

Kreativitas direbut

Nalar kritis kami dilumpuhkan

Dengan dalil persatuan

Sehingga perbedaan dijadikan sebagai dosa dan aib di negeri ini

Demokrasi hanyalah igauan pejabat yang tertidur pada saat rapat paripurna

Membuat gaduh negara ini

Dengan aturan-aturan yang mengancam para buruh dan petani

Begitulah! Hukum lahir hanya sebagai alat yang melindungi kepentingan penguasa

Di balik tembok istana yang menjulang

Para penguasa sibuk mempersiapkan rencana masa depan mereka

Terkadang saling bunuh demi merebut kuasa

Dan anak-anak kurang gizi tanpa pendidikan termangu menyaksikan peperangan yang mengatasnamakan pemilu atau pesta demokrasi

Mereka tak peduli pada ribuan mayat

Yang terbunuh oleh keberingasan iblis-iblis berseragam coklat bersenjata laras panjang

Keadilan telah mati berkali-kali

Bersama ribuan mayat yang dibuang dalam lubang di belakang halaman negeri ini

Sementara penguasa, hakim, jaksa, dan politikus beramai-ramai menutupi bau busuk mayat-mayat itu

Dan melenyapkan ingatan kami tentang dosa-dosa mereka

Puisi ditulis oleh Muh. Fajrul Karnivan, mahasiswa Ilmu Hukum, FH Unmul 2022.



Kolom Komentar

Share this article