Sekolah Hebat Tanpa Bullying: Tanggung Jawab Kita Semua
Bullying merusak rasa aman siswa di sekolah. Lingkungan belajar harus dibangun lewat empati dan keberanian bersama
- 29 Nov 2025
- Komentar
- 80 Kali
Sumber Gambar: Pexels
Akhir-akhir ini kasus bullying di sekolah menjadi topik utama berita yang hampir selalu kita dengar. Siswa memulai aktivitas di sekolah dengan antusias yang sama: Keinginan memperoleh ilmu, berinteraksi dengan rekan-rekan, dan menikmati suasana kelas yang menyenangkan.
Namun, tidak semua dari mereka datang dengan hati yang tenang. Di balik tawa dan obrolan di koridor, ada sebagian siswa yang datang dengan perasaan takut dan cemas.
Mereka khawatir akan ejekan, hinaan, atau perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Mereka adalah korban bullying yang seharusnya tidak pernah ada di lingkungan pendidikan.
Bullying di sekolah seringkali diremehkan. Alasan yang sering dikemukakan adalah “itu hanya candaan”. Padahal bagi pihak yang menjadi sasaran, candaan tersebut dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam.
Satu ungkapan ejekan bisa membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri. Satu hinaan bisa menghapus senyum yang seharusnya menghiasi wajah seorang siswa. Bullying bukan sekadar tindakan kecil yang bisa diabaikan, melainkan masalah besar yang dapat meninggalkan trauma jangka panjang, bahkan setelah korban lulus sekolah.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Sebuah ruang di mana setiap pelajar merasakan penerimaan, penghargaan, dan kebebasan ekspresi diri. Namun, ketika bullying terjadi, semua itu sirna.
Korban merasa sendirian, pelaku merasa berkuasa, dan teman-teman lain memilih diam karena takut ikut menjadi sasaran. Diam, dalam hal ini, justru memperkuat keberanian pelaku. Bullying akan terus hidup jika tidak ada yang berani menghentikannya.
Lingkungan sekolah yang bebas bullying tidak mungkin tercipta tanpa kerja sama semua pihak. Guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai empati dan menghargai perbedaan kepada siswa. Mereka harus peka terhadap perubahan perilaku siswa, terutama yang tampak murung atau menarik diri.
Melalui pendidikan dan contoh-contoh yang diberikan oleh guru, siswa dapat mengubah perilaku mereka menjadi lebih positif dan menghindari perilaku bullying. Guru dapat memberikan pemahaman tentang cara berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, dan membangun hubungan yang sehat.
Orangtua pun memiliki tanggung jawab besar. Orangtua perlu mendengarkan anak-anaknya, memahami keluh kesah mereka, dan menanamkan sikap menghormati sesama sejak dini.
Sementara itu, siswa juga memegang peran paling penting dalam menciptakan budaya sekolah yang positif. Saling menghargai, menolong teman yang kesulitan, dan berani berkata “stop” saat melihat teman di-bully adalah tindakan sederhana yang memiliki dampak besar.
Satu orang yang berani melawan ketidakadilan bisa menjadi awal perubahan besar di lingkungan sekolah.
Korban bullying terkadang takut melaporkan kejadian yang mereka alami. Oleh karena itu, sekolah perlu mengadakan Satuan Tugas (Satgas) Anti Bullying agar korban bullying di sekolah merasa aman dalam melaporkan kejadian yang dialami.
Hal ini akan membuat siswa tidak ragu lagi mengatakan yang sebenarnya dan tidak takut akan balasan dari pelaku. Peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam mengatasi bullying.
Orang tua perlu mengetahui perubahan anak dari segi tingkah laku dan emosional. Sehingga dalam hal ini komunikasi antara guru dan siswa harus berjalan agar orang tua dan guru peka saat ada perubahan yang terjadi pada anak.
Bullying tidak hanya menimbulkan rasa takut pada korban, tetapi juga menjadikan suasana sekolah yang dingin dan penuh ketegangan. Tidak ada siswa yang merasa nyaman di tempat di mana ejekan dianggap hal yang biasa terjadi.
Maka, perubahan harus dimulai dari kesadaran bersama bahwa setiap siswa berhak merasa aman dan bahagia di sekolahnya.
Sekolah hebat bukanlah sekolah yang hanya unggul dalam prestasi akademik. Sekolah hebat adalah sekolah yang menumbuhkan kasih sayang, rasa hormat, dan kebersamaan.
Tempat di mana siswa tidak hanya diajarkan berhitung dan membaca, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang berempati.
Ketika semua pihak mencakup guru, siswa, orang tua, dan masyarakat bersatu melawan bullying, maka sekolah akan menjadi tempat yang benar-benar mendidik, bukan sekadar tempat belajar.
Mari kita mulai perubahan itu dari diri sendiri. Jangan menertawakan orang lain hanya karena mereka berbeda. Jangan ikut menyebarkan gosip atau komentar jahat di media sosial. Jadilah teman yang mampu menguatkan, bukan menjatuhkan.
Sekecil apa pun tindakan positif yang kita lakukan, itu bisa menjadi cahaya yang menerangi lingkungan sekolah. Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan anak-anak.
Keberadaan bullying dapat merusak iklim sekolah, mengganggu proses belajar mengajar, dan menciptakan ketidakamanan.
Sekolah bebas bullying bukan mimpi. Ia bisa menjadi nyata jika setiap orang mengambil bagian. Karena pada akhirnya, menghentikan bullying bukanlah tugas satu orang saja, tetapi tanggung jawab kita semua.
Sekolah yang hebat lahir dari hati yang saling menghargai, dari senyum yang tulus, dan dari keberanian untuk berkata: “Cukup, hentikan bullying sekarang juga”.
Opini ini ditulis oleh Nafa Riska Ayuni, mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Biologi FKIP Unmul 2025