Opini

Pemahaman dan Respon Publik Mengenai Child Grooming: Menyalahkan atau Melindungi Korban?

Perlunya peningkatan kesadaran publik terhadap child grooming mendorong pengawasan digital serta perlindungan yang berpihak pada korban

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Pexels/Pixaby

Child grooming merujuk pada kejahatan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak. Child grooming terjadi tidak secara instan, melainkan bertahap. Pelaku akan melakukan berbagai cara untuk membangun relasi dengan korban. Cara yang sering dilakukan adalah memanfaatkan kondisi emosional korban dan menjadi orang terpercaya. 

Pelaku akan memperlihatkan sisi baiknya kepada korban maupun keluarga untuk meraih kepercayaan dan dapat melancarkan aksi tidak bermoral itu. Child grooming dapat terjadi secara langsung maupun secara online melalui media sosial atau game online

Di era digital saat ini, memungkinkan banyak terjadinya child grooming secara online karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas online anak. Tujuan utama dari semua ini adalah untuk kepuasan pelaku.

Tindakan ini memberi banyak dampak buruk bagi korban, seperti trauma psikologis. Selain itu, menjadikan korban sulit membangun hubungan dengan orang lain karena rusaknya kepercayaan sejak dini. Perasaan bersalah juga akan terus muncul yang mengakibatkan korban menarik diri dari lingkungan. 

Tidak hanya itu, child grooming juga dapat berdampak pada penurunan akademik korban. Dampak tersebut nyata adanya. Efek child grooming tidak berhenti pada saat tindakan eksploitasi itu dilakukan, melainkan dapat memengaruhi perkembangan korban hingga dewasa.

Di era digital, tentu sangat mudah terhubung antara manusia satu dengan manusia lain. Media sosial memiliki peran yang cukup signifikan dalam menyebarkan informasi. 

Dalam hal ini, media juga dapat berperan membentuk pemahaman masyarakat mengenai child grooming. Menggeser paradigma victim blaming melalui pemberitaan perspektif perlindungan anak. Membantu masyarakat untuk memahami kondisi korban yang tidak dapat disalahkan.

Belakangan ini sedang ramai diperbincangkan mengenai buku Broken Strings karya Aurélie Moeremans yang menceritakan pengalaman traumatisnya terkait child grooming

Dalam memoar yang dibagikan secara gratis melalui media sosial pribadinya, Aurélie menuliskan kisah nyatanya yang mengalami manipulasi emosional, pemaksaan, pelecehan seksual, serta kekerasan psikologis dari pria dewasa saat ia berusia 15 tahun. 

Buku ini menyoroti bagaimana pelaku membangun kepercayaan hingga akhirnya dapat mengontrol korban. Buku karya Aurélie tersebut membuka mata publik terkait bahaya child grooming yang pada awalnya dianggap sebagai hal tabu yang jarang disoroti dengan serius. 

Kesadaran masyarakat mulai meningkat dan menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda child grooming dan melakukan upaya pencegahan.

Meskipun begitu, masih ada pula yang berdiri di pihak pelaku dengan menyalahkan korban dengan berbagai alasan, seperti menyalahkan cara berpakaian hingga pertanyaan “Mengapa tidak ada upaya perlawanan dari korban terhadap pelaku?”. 

Padahal, child grooming merupakan manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk mengeksploitasi anak yang dalam hal ini tidak timbul dari pakaian yang dikenakan korban, melainkan pola pikir pelaku. 

Oleh sebab itu, perlunya penegasan terhadap pentingnya mendengarkan keterangan korban tanpa menyudutkan. Alih-alih menyalahkan, publik seharusnya melakukan perlindungan terhadap korban.

Opini ini ditulis oleh Ayun Novita Wulandari, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum FH Unmul 2024.



Kolom Komentar

Share this article