Ruang Berekspresi Perempuan Dibatasi, Baik di Dunia Nyata Maupun Dunia Maya
Penyalahgunaan fitur AI Grok di X memunculkan bentuk baru pelecehan seksual di ruang digital.
- 27 Jan 2026
- Komentar
- 91 Kali
Sumber Gambar: X
Seperti yang diketahui bahwa aplikasi X merupakan media sosial yang banyak digunakan oleh khalayak masyarakat. Bak catatan harian versi digital, pengguna X kerap kali menunjukkan kecintaan dan apresiasi diri dengan membagikan swafoto.
Swafoto tersebut lengkap dengan takarir berupa tulisan singkat maupun sekadar emotikon lucu. Kegiatan apresiasi diri ini mulai terancam hilang akibat para pengguna minim adab yang menyalahgunakan artificial intelligence (AI) versi X, yakni Grok.
Dilansir melalui X yang memperkenalkan sistem barunya, Grok merupakan asisten AI yang membantu menyelesaikan tugas, seperti menjawab pertanyaan, memecahkan masalah, dan mencetuskan ide. Grok juga dapat membantu editing foto sesuai dengan prompt yang diberikan.
Awalnya Grok digunakan sesuai fungsi yang ada. Namun, oknum memanfaatkannya sebagai senjata tindak pelecehan terhadap perempuan yang memposting swafoto untuk apresiasi diri.
Dilansir dari Tempo.co, berdasarkan analisis Copyleaks, hal ini bermula dari konten kreator dewasa yang bereksperimen menggunakan Grok untuk menciptakan atau mengedit swafoto mereka dengan lebih eksplisit. Namun, sayangnya eksperimen tersebut justru melebar dan menargetkan banyak perempuan.
Pelaku pelecehan beradab minim di X secara gamblang dan tidak tahu malu akan mengomentari, menyebut Grok, dan memberikan ide mengedit swafoto korban untuk menggunakan pakaian terbuka.
Hal ini sontak menjadi sasaran amarah massa dikarenakan banyak yang tidak habis pikir mengenai bagaimana bisa swafoto yang dibagikan justru dapat dipakai untuk hal yang kurang mengenakkan. Tidak hanya itu, ketakutan tentu menjalar di diri perempuan karena merasa tidak aman dan merasa tidak ada lagi ruang untuk berekspresi di media sosial.
Menanggapi maraknya tindak pelecehan seksual di dunia maya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memutuskan untuk memblokir Grok sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Dilansir melalui website resmi Komdigi, pihak mereka turut menyatakan hal ini dilakukan untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak dari konten pornografi dan memperingatkan jika hal tersebut juga bentuk dari pelanggaran privasi dan hak citra diri warga.
Tindakan yang diambil oleh Komdigi berdampak signifikan terhadap berkurangnya aksi kejahatan tersebut. Meski begitu, Grok masih dapat memproses permintaan editing foto, dengan syarat berlangganan aplikasi premium yang tentu membutuhkan uang.
Melihat hal ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa para pelaku menjadikan tindakan keji tersebut sebagai sebuah hiburan murah yang tidak memerlukan uang. Hal-hal berbau pornografi masih terus saja dijadikan sebagai sebuah ajang kesenangan dan kebahagiaan.
Begitu menyedihkan dan miris membayangkan pelaku tidak memiliki kegiatan yang lebih bermanfaat atau tidak dapat menemukan hiburan yang lebih berkelas dibandingkan dengan mengedit swafoto orang asing demi kesenangan mereka sendiri.
Saya merasa bahwa sampai kapan pun, perempuan memang tidak pernah memiliki tempat aman untuk beraktivitas. Jangankan beraktivitas, sekadar cuitan di media sosial pun dapat menjadi sasaran tidak senonoh dari orang yang hilang akal.
Perempuan terus saja dituntut untuk melakukan ini dan itu untuk melindungi diri mereka sendiri. Cara berpakaian, berbicara, gesture, bahkan pandangan mata pun diatur karena menurut mereka “Kami ini, para perempuan selalu ‘mengundang’”.
Kediktatoran oleh perempuan seharusnya juga berjalan sejajar dengan para lelaki. Ada baiknya, mereka dididik untuk menghormati, berperilaku dan beradab baik terhadap perempuan. Paling tidak, jangan terus melihat perempuan sebagai objek seksual.
Perempuan selalu tidak diberi ruang bernapas dengan tenang, baik di tempat umum maupun di dunia maya. Segala propaganda mengenai perempuan terus diserukan. Namun, hasilnya tidak selalu memuaskan.
Saya rasa yang menjadi kunci keberhasilan dari hal yang telah dipaparkan di atas adalah bagaimana perempuan dan lelaki dapat membangun kerja sama yang baik. Laki-laki perlu membuang sifat predator mereka, pun dengan perempuan juga dapat berperilaku sepantasnya untuk membangun kehidupan sosial yang aman.
Opini ini ditulis oleh Andini Oktaviandari, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Unmul 2022.