Aliansi Garuda Mulawarman Menolak Anarkisme dan Konsisten dalam Gerakan Mahasiswa

Aliansi Garuda Mulawarman Menolak Anarkisme dan Konsisten dalam Gerakan Mahasiswa

Sumber: Istimewa

Gerakan mahasiswa terkait penolakan pelemahan KPK sudah tak terbendung mulai dari aksi kreatif bahkan demonstrasi. Kejadian ini juga dialami oleh mahasiswa Kalimantan Timur (Kaltim). Seluruh elemen gerakan bersatu dengan tujuan yang sama bahwa KPK harus diperkuat bukan melemahkan begitu juga rancangan UU lain yang bisa melehmahkan demokrasi.

Pada Kamis (19/9) kami melaksanan konsolidasi pertama untuk menyikapi tuntutan serta meyatukan gerakan dari seluruh lembaga dan kami mendirikan Aliansi Kaltim Bersatu. Sebagai respon gerakan terkait isu pelemahan KPK.

Senin (23/19) melakukan aksi dengan massa yang begitu besar, sekitar 3 ribu orang lebih massa aksi turun ke jalan. Di tengah aksi ada pembicaraan bahwa anggota DPRD yang diwakili oleh seluruh fraksi DPRD Provinsi Kaltim akan menemui mahasiswa dan mendengar apa tututan yang dibawa mahasiswa. 

Humas Aliansi Kaltim Bersatu mengomunikasikan dengan korlap (koordinator lapangan) dan pimpinan lembaga, apakah permintaan tersebut akan disetujui. Hasilnya adalah kami tetap ingin menduduki Kantor DPRD Provinsi dan massa aksi semuanya masuk.

Waktu terus berjalan, massa aksi terus memksa masuk dan akhirnya terjadilah bentrok antara aparat dan mahasiswa. Sampai akhirnya aparat meluncurkan gas air mata agar maasa aksi terpecah. Korban terus berjatuhan hingga menuju magrib, dan timbul kesepakatan bahwa aksi hari ini akan diakhiri.

Selasa (24/19) Aliansi Kaltim Bersatu mengadakan evaluasi aksi dan pada saat itu kami menyampaikan bahwa aksi kami gagal karena tuntutan kami belum diterima oleh pihak DPRD. Melalui diskusi panjang dengan seluruh lembaga, disepakati bahwa kita akan melaksanakan aksi kedua dengan catatan aksi kami harus mencapai tujuan.

Kamis (26/9) aksi kedua dilaksanakan dengan beberapa tuntutan yang ditambahkan. Kali ini massa aksi berjumlah dua kali lipat dari aksi sebelumnya. Tentunya harapan kami lebih besar, tujuan utama kami adalah bisa menduduki kantor DPRD Provinsi Kaltim. 

Tapi pada saat di lapangan aparat juga lebih siap, personil lebih banyak tentu menjadi kendala kami. Menuju pukul 12.00 Wita hampir seluruh anggota DPRD Kaltim keluar dan menemui mahasiwa dan pada saat itu saya mencoba mengkomunikasikan apa langkah kami.

Dari keputusan yang didapat sebelunya adalah kami tidak memberikan panggung pada anggota dewan untuk bernegosiasi di luar dan kami tetap ingin menduduki kantor DPRD. Setelah solat zuhur massa aksi sudah berkeliaran kemana-mana dan kami coba merapatkan barisan kembali.

Terik matahari terus menyengat, aksi kami masih mengambang, dan tujuan kami belum tercapai. Dari BEM KM Unmul coba menawarkan opsi kepada anggota DPRD Kaltim keluar dan menemui seluruh massa aksi dan semua masa aksi bisa melihat apa sikap yang di berikan oleh anggota DPRD Kaltim. Karena kami menyadari bahwa untuk masuk ke dalam sangat sulit. Meskipun kami sudah mecoba berbagai cara pun tidak berhasil.

Sampai akhirnya keputusan yang diambil adalah kami tetap ingin masuk ke dalam. Namun yang terjadi adalah bentrok antara mahasiswa dan polisi. Penyiraman air dari water  cannon dan penembakan gas air mata ke massa aksi agar menghamburkan massa di lapangan. Banyak korban yang berjatuhan, hingga akhirnya beberapa dibawa ke rumah sakit dan tenaga mahasiswa juga sudah mulai terkuras.

Dari sini kami melihat apa sebenarnya tujuan dari aksi kali ini, yang terjadi di lapangan hanya bentrok, anarkisme, dan vandalisme yang dilakukan mahasiswa.

Kami mengecam kekerasan yang dilakukan aparat seperti yang terjadi di Papua. Tapi di lapangan massa aksi justru menjadi anarkis saling pukul memukul dengan aparat. Tentu ini bukan cara yang harus dilakukan mahasiswa. Hampir semua media hanya mengabarkan mahasiswa yang anarkis dan bentrok bukan pada tuntutan dan substansi yang kami bawa.

Kami juga mengecam pihak kepolisian yang meluncurkan gas air mata hingga akhirnya banyak korban yang berjatuhan. Bukan malah menganyomi tapi membuat mahasiswa terprovokasi. Bahkan sampai saat ini kami diteror dengan orang yang tidak bertanggung jawab. Ada vandalisme yang terjadi di sekertariat BEM KM Unmul. 

Kami mempunyai prinsip gerakan masing-masing tapi cara yang dilakukan bukan seperti ini, semacam tak punya pendidikan. Kami terbuka lebar dengan siapapun untuk memberi masukan dan mengkritik kami. Sekertariat BEM KM Unmul bukan milik organisasi secara pribadi tapi milik semua mahasiswa Unmul karena ini adalah salah satu lembaga tertinggi di Unmul, maka ini perlu dijaga bukan malah dirusak.

Kami sampaikan bahwa kami tetap berada dalam perjungan ini untuk terus menguatkan KPK karena siapapun yang ingin menghianati reformasi adalah musuh kita bersama. Alasan keluarnya Garuda Mulawarman dari aliansi adalah karena kami menolak anarskisme dan vandalisme ini karena itu bukan cara seorang mahasiswa. Kondisi zaman dan pola gerakan kita harus sama-sama kami lihat dan kami kondisikan sesuai kebutuhan saat ini.

Kami menyatakan Alianasi Garuda Mulawarman adalah aliansi yang selalu konsisten mengawal isu dan gerakan mahasiswa. Di saat yang lain diam maka kami lah yang bersuara lantang menutut keadilan dan selalu menjadi mitra kritis pemerintah.

Ditulis oleh Derviansyah, Menteri Sosial Politik BEM KM Unmul 2019