AI Merajalela: Apakah Pendidikan Masih Dibutuhkan?
Ketika AI semakin masif, pendidikan formal dianggap usang. Benarkah kuliah kehilangan maknanya di era kecerdasan buatan?
- 20 Jan 2026
- Komentar
- 94 Kali
Sumber Gambar: Silabus
Belakangan ini, arti kuliah semakin dipertanyakan. Pendidikan yang selama ini menjadi kunci sukses menuju masa depan kini berhadapan dengan perubahan zaman. Melalui perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membuat banyak orang meragukan apakah pendidikan formal tetap dibutuhkan di era sekarang?
Keraguan ini muncul karena adanya pertanyaan mengenai sejauh mana sistem pendidikan yang dijalani saat ini mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman? Mahasiswa merasa materi perkuliahan tertinggal jauh dari realitas yang ada. Namun, di sisi lain tuntutan akademik terus bertambah.
Kemudian, kondisi tersebut diperkuat dengan narasi di media sosial yang menyatakan bahwa kuliah itu tidak begitu penting, bahkan dianggap sekadar formalitas saja. Narasi semacam ini dapat mudah diterima bagi mahasiswa yang sedang dalam fase tidak memiliki semangat dalam menjalani kehidupan perkuliahan.
Sebuah konten TikTok belakangan ini menjadi ramai diperbincangkan karena menyampaikan gagasan yang berbanding terbalik dengan pemikiran banyak orang. Dalam konten tersebut, mereka menyebut bahwa perkuliahan adalah penipuan atau scam dan hanya sekadar formalitas saja.
Mereka juga menyampaikan pembelajaran tidak harus didapatkan dari kampus, selama kita memiliki jiwa yang penasaran, tujuannya akan tetap tercapai. Narasi ini menjadi sorotan publik, khususnya di kalangan anak muda.
Persoalan utama yang memicu perdebatan bukanlah pada pilihan hidup yang mereka ambil. Setiap orang memiliki hak menjalankan hidup masing-masing.
Hal yang perlu disoroti adalah bagaimana mereka menyampaikannya di ruang publik dan membentuk cara pandang baru terhadap pendidikan.
Mereka memandang AI mampu menggantikan pekerjaan, sehingga pendidikan formal dianggap semakin tidak relevan di masa depan. Pandangan ini justru menyesatkan pola pikir anak muda.
Adanya AI seharusnya menjadi tanda bahwa sistem pendidikan perlu beradaptasi, bukan menjadi alasan pendidikan formal harus ditinggalkan.
AI dapat membantu manusia dalam mengolah informasi atau menyelesaikan pekerjaan teknis dan bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kritis seseorang.
Bahkan, laporan World Economic Forum menunjukkan bahwa di era AI, kemampuan berpikir kritis dan problem solving semakin dibutuhkan karena tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Oleh karena itu, tanpa adanya dasar pendidikan yang kuat, penggunaan AI justru dapat menimbulkan rasa ketergantungan.
Dalam hal inilah pendidikan semakin penting untuk ditempuh. Pendidikan bukan serta-merta fokus pada teori saja, tetapi juga melatih kemampuan mahasiswa untuk bernalar, kritis, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.
AI hadir bukan sebagai peran pengganti tenaga pendidik, melainkan mendorong pembaruan sistem pendidikan itu sendiri.
Opini ini ditulis oleh Aliya Fahira Jahra, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Unmul 2024.