Sumber Gambar: Dokumen Pribadi
SKETSA - Pelaksanaan Kongres Keluarga Mahasiswa (KM) Unmul pada Selasa (6/1), menjadi tanda berakhirnya kepengurusan BEM KM Unmul Periode 2024/2025 yang dinahkodai M. Ilham Maulana selaku Presiden dan Al Fajr Nur selaku Wakil Presiden.
Kepada Sketsa, Maulana membagikan perjalanan satu tahun menahkodai BEM KM yang pada periodenya fokus membangun gerakan dan aksi. Berikut Wawancara Khusus (Wansus) dengan Maulana pada Senin (5/1) lalu.
Bagaimana Anda menilai satu periode kepengurusan BEM KM 2024/2025?
Pertama adalah fokus internalisasi dan isu-isu daerah yang hari ini masih terus disuarakan. Kami selalu menyediakan wadah-wadah konsolidasi untuk Kalimantan Timur.
Kalau dilihat dari saya sendiri, soal keseimbangan internal BEM KM. Kalau arah perjuangan BEM KM di luar, dalam aksi-aksi yang kami bangun dan kami konsolidasi. Bisa teman-teman lihat bagaimana gerakan BEM KM sebelumnya, apakah di kepengurusan Maulana-Fajr itu merupakan salah satu kepengurusan yang selalu mengeluarkan semangat-semangat perjuangan itu.
Apa hal yang belum berjalan maksimal di masa kepengurusan?
Bagaimana menjaga kesimbangan di dalam internal BEM KM. Karena presiden, wakil presiden, dan menteri-menteri di struktural BEM KM mempunyai tugas dan fungsi masing-masing. Itu yang menjadi hambatan kami selama belakangan ini.
Apa program kerja yang paling berdampak untuk mahasiswa?
Saya tidak fokus pada program kerja, tapi sebagai lembaga eksekutif fokus memperjuangkan nasib mahasiswa, baik UKT, maupun permasalahan mahasiswa secara umum dan internal.
Kalau program kerja yang hari ini berdampak banyak. Di bawah naungan saya, BEM KM terus fokus kepada lingkungan, sosial politik, dan sosial masyarakat.
Apa visi utama yang dibawa BEM KM dan sejauh mana visi tersebut direalisasikan?
Ada empat kata kunci yaitu responsif, inklusif, inovatif, serta epicentrum perjuangan. Banyak lahir konsolidasi dan terbukanya gerakan yang kami bangun selama setahun ke belakang. Kalau membicarakan 100 persen sukses, justru ketika sukses semua artinya tidak ada dinamika dalam internal. Jadi, masih banyak tantangan yang perlu diselesaikan oleh pemerintahan yang berikutnya.
Apa tantangan terbesar selama menahkodai BEM KM?
Persoalan utama selama menahkodai BEM KM adalah waktu. Tidak semua orang bisa mengerahkan waktu dan tenaga. Tapi saya memandang hal tersebut bukan sebagai hambatan, melainkan konsekuensi yang memang harus dihadapi sebagai pemimpin.
Bagaimana kondisi sumber daya manusia (SDM) di BEM KM?
SDM di BEM KM tidak memiliki masalah yang serius, lebih kepada kami yang terus menjaga internalisasi agar tetap seimbang.
Bagaimana koordinasi dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) KM selaku pengawas?
Bicara evaluasi, ada yang memfasilitasi secara tugas dan fungsi. DPM KM sebagai lembaga legislatif dan lembaga pengawasan, juga mewadahi hingga pelaksanaan Rapat Evaluasi Seratus Hari (Revaturi) I, Revaturi II, hingga Revaturi III bahkan. Untuk koordinasi dan komunikasi dengan DPM KM sejauh ini berjalan lancar.
Bagaimana harapan untuk BEM KM ke depan?
Kami yakin dan percaya BEM KM bisa bergerak secara keseluruhan karena ada dorongan seluruh lembaga di Unmul. Kami senang kelembagaan justru lebih terbuka kepada seluruh elemen. Tidak hanya memandang legislatif eksekutif, tapi justru lembaga-lembaga lain juga harus menjadi prioritas. (ner/myy/vpr/aya)