Launching Bersama FK Unmul dan ULM: Pemenuhan Dokter Spesialis Kalimantan, Tiga Program Spesialis Dibuka
Sumber Gambar: Abi/Sketsa
SKETSA - Unmul bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) resmi meluncurkan Launching Bersama Fakultas Kedokteran: Pembukaan Program Studi Spesialis dan Subspesialis pada Rabu (12/02) lalu di Gedung Masjaya Unmul. Kegiatan ini menjawab percepatan pemenuhan dokter spesialis di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Selain jajaran pimpinan Unmul, acara ini dihadiri sejumlah pimpinan perguruan tinggi. Diantaranya Rektor Unmul, Abdunnur; juga Rektor ULM yang diwakilkan Muhammad Siddik.
Dibersamai juga Dekan FK Universitas Brawijaya (UB) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Institut Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), Wisnu Barlianto; serta Dekan FK Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia, Khairani Rasyid.
Selain pimpinan beberapa perguruan tinggi, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pejabat daerah. Diantaranya, Gubernur Kaltim yang diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kaltim, Dasmiah.
Turut hadir pula Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin; Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni; Wakil Bupati Kutai Barat, Nanang Adriani; serta jajaran direktur rumah sakit se-Kaltim.
Sebagai tuan rumah, Dekan FK Unmul sekaligus Ketua Pelaksana, Nathaniel Tandirogang berharap pembukaan prodi ini mempermudah putra-putri Kaltim melanjutkan pendidikan dokter spesialis tanpa harus keluar daerah.
“Selama ini kebutuhan dokter spesialis di beberapa daerah masih belum terpenuhi. Dengan adanya percepatan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, (Kemendikti-saintek), kami berupaya menghadirkan akses pendidikan spesialis di daerah sendiri,” ujarnya.
Percepatan Nasional dan Peran FK Pembina
Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia sekaligus Dekan FK Unhas, Khairani Rasyid menyampaikan apresiasi atas inisiatif strategis Unmul dan ULM dalam membuka program studi spesialis.
Ia menegaskan bahwa percepatan ini merupakan bagian implementasi program nasional pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan yang dicanangkan pemerintah.
Sebagai fakultas pembina, FK Unhas bersama UB dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertugas mengawal pembukaan Program Studi (Prodi) hingga menghasilkan lulusan pertama.
Pembinaan mencakup penguatan akademik, pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas SDM, serta penjaminan mutu pendidikan.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Institut Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) sekaligus Dekan FK UB, Wisnu Barlianto menyoroti tantangan kesehatan abad 21 yang semakin kompleks, mulai dari beban penyakit yang meningkat hingga ketimpangan distribusi tenaga medis.
Menurutnya, pembukaan prodi spesialis dan subspesialis bukan sekadar penambahan jumlah, tetapi upaya membangun mutu dan etika pendidikan melalui konsep Academic Health System yang melibatkan perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, serta pemerintah pusat dan daerah.
Target Nasional dan Dukungan Pemerintah
Perwakilan Kemendikti-saintek, Benny Bandanadjaja menyampaikan bahwa tahun ini akan dibuka 148 program studi baru yang terdiri atas 125 spesialis dan 23 subspesialis di seluruh Indonesia. Bahkan, total pembukaan telah mencapai 160 prodi baru, melampaui target awal.
Dengan penambahan tersebut, jumlah program studi dokter spesialis secara nasional meningkat menjadi 526, naik dari sebelumnya 396.
Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis, terutama dari sisi distribusi yang belum merata. Karena itu, penambahan prodi difokuskan pada provinsi yang masih kekurangan tenaga spesialis.
Kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, Dasmiah menegaskan komitmen (Pemprov Kaltim dalam mendukung percepatan ini melalui program beasiswa Gratispol.
“Kami siap membiayai penuh pendidikan dokter spesialis, dengan syarat penerima merupakan penduduk Kaltim dan bersedia kembali mengabdi di daerah,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Kaltim menyiapkan anggaran Rp1,6 triliun untuk bantuan pendidikan S1 hingga S3, termasuk pendidikan dokter spesialis.
Tiga Prodi Baru FK Unmul
Melalui peresmian dalam acara ini, FK Unmul kini resmi menghadirkan tiga Prodi baru, diantaranya Spesialis (Sp-1) Anestesiologi dan Terapi Intensif, Sp-1 Obstetri dan Ginekologi (Kandungan), serta Sp-1 Ilmu Penyakit dalam.
Dengan penambahan tersebut, kini FK Unmul memiliki lima program pendidikan dokter spesialis, setelah sebelumnya membuka Spesialis Bedah serta Spesialis Paru.
Nathaniel menjelaskan bahwa penerimaan mahasiswa ditargetkan mulai pertengahan tahun ini dengan kuota awal sekitar tiga sampai lima orang per program studi.
“Paling tidak Maret atau selambat-lambatnya Juni–Juli penerimaan mahasiswa,” katanya kepada Sketsa, Kamis (13/2) lalu.
Prioritas diberikan kepada putra-putri daerah Kaltim, khususnya dokter yang bertugas di kabupaten atau kota dan mendapatkan dukungan beasiswa dari pemerintah daerah (Pemda).
Dari sisi sarana dan prasarana, FK Unmul telah bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit utama di Kaltim sebagai rumah sakit pendidikan, sehingga dinilai siap mendukung proses pembelajaran.
Menanggapi hal ini, mahasiswa Program Studi Kedokteran FK Unmul 2020, Defita Herlisa menyambut positif pembukaan prodi ini.
“Sekarang kita tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar daerah untuk melanjutkan pendidikan spesialis. Ini peluang besar bagi mahasiswa di Kalimantan,” ujarnya pada Sketsa, Kamis (12/2) lalu.
Senada, mahasiswa Program Studi Profesi Dokter tahun kedua FK Unmul, Muhammad Yahtadiy Ukhrawiy, menilai langkah ini sebagai kemajuan besar bagi FK Unmul.
“Dengan bertambahnya prodi spesialis, peluang putra-putri daerah untuk belajar dan kembali mengabdi di Kalimantan Timur semakin terbuka,” katanya.
Pembukaan program studi spesialis ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis.
Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat layanan kesehatan di Kalimantan melalui penguatan pendidikan di daerah. (apn/wil/aya)