Sumber Gambar: Gita/Sketsa
SKETSA - Penutupan akses alternatif yang menghubungkan FISIP dengan kawasan Student Center (SC) dan Taman Unmul (Tamul) masih menimbulkan kebingungan di kalangan mahasiswa. Terlebih bagi mahasiswa baru yang kerap mencari arah jalan menggunakan Google Maps (Gmaps). Pasalnya, jalur yang dianggap sebagai akses cepat menuju FISIP sebelumnya pernah dilalui dan masih terbuka di Google Maps.
Mahasiswa Pembangunan Sosial FISIP 2025, Revanisa Difia Budiman mengaku baru mengetahui adanya penutupan tersebut setelah melihat kondisi jalannya secara langsung.
“Awalnya biasa saja karena saya kira memang sudah ditutup dari dulu dan saya tidak menyangka akan ada jalan tembusan di situ. Tapi saat saya cek Gmaps, rupanya dulu jalanan itu sempat dibuka,” ungkap Revanisa kepada Sketsa melalui pesan WhatsApp, Jumat (30/1) lalu.
Revanisa menyebutkan cukup kebingungan dengan penutupan tersebut setelah mengetahui jalannya bisa dijadikan akses cepat bagi mahasiswa.
“Cukup membingungkan, sih. Padahal bisa dijadikan tembusan jalan bagi para mahasiswa,” lanjut Revanisa.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP 2024, Muhammad Aidil Ilham juga menilai penutupan jalan dirasa membingungkan.
Menurut Ilham, meski tidak terlalu mengganggu aktivitas perkuliahan, keberadaan jalan tembus akan mempermudah mobilitas mahasiswa.
“Nggak apa-apa harus mutar. Kalau memang punya akses jalan lebih cepat, misal dari FISIP ke Tamul atau ke SC, ‘kan bisa lebih cepat kalau jalan itu dibuka,” ujar Aidil kepada Sketsa melalui pesan WhatsApp, Kamis (29/1) lalu.
Aidil menambahkan, mahasiswa FISIP perlu mengetahui alasan mengapa penutupan jalan tembus dilakukan, mengingat jalan tersebut akan sangat membantu apabila dapat digunakan.
“Tapi kalau sekiranya memang tidak ada alasan yang signifikan ataupun logis, kita harus mempertanyakan itu karena dirasa cukup mengganggu,” ujar Aidil.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Tata Usaha (TU) FISIP Unmul, Paijan menjelaskan penutupan jalur tembus dilakukan atas dasar keamanan. Ia mengatakan penutupan jalur tersebut bermula dari kondisi longsor.
“Saat itu longsor, darurat tidak bisa dilewati apa-apa. Itu yang pertama kali, sehingga jalur itu ditutup,” jelasnya kepada Sketsa saat diwawancarai pada Senin (26/1) lalu.
Paijan menyampaikan perbaikan membutuhkan waktu cukup panjang sebab menunggu pendanaan. Kemudian kondisi pasca-perbaikan dinilai masih belum layak dilalui karena masih terputus dan belum dicor.
“Tapi tetap tidak dibuka untuk akses umum. Karena pertimbangan kami, kondisi tidak layak,” terangnya.
Paijan juga menegaskan penutupan jalur tersebut berlaku bagi kendaraan. Sementara itu, akses bagi pejalan kaki tetap diperbolehkan.
“Yang susah dikendalikan ‘kan kendaraan. Kalau manusia masih bisa lewat situ, nggak ada masalah,” lanjutnya.
Bergandengan dengan faktor keselamatan, Parjian menambahkan alasan ditutupnya jalan tembus itu untuk menghindari orang asing yang tidak memiliki kepentingan masuk ke wilayah FISIP.
“Sehingga tujuan kami pasang itu (penutup jalan) menghindari hal-hal yang tidak dimungkinkan. Pencurian dan seterusnya,” jelasnya.
Selain faktor keselamatan, Parjian mengungkap penutupan jalur tembusan berkaitan dengan rencana pembangunan gedung baru FISIP yang menunggu kelanjutan di tahun 2026.
“Nanti kalau sudah terbangun juga akan jadi jalan baru, mudah-mudahan di tahun 2026 ini sudah ada. Penghubung di sana dan itu enggak ada gunungan. Itu rasanya akan lebih nyaman,” tutup Parjian. (gta/ali/wil/aya)