Unmul Bersiap Maju KDMI dan NUDC Tingkat Nasional

Unmul Bersiap Maju KDMI dan NUDC Tingkat Nasional

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA Setelah usai gelar seleksi Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) dan National University Debating Competition (NUDC) pada akhir Mei lalu, Unmul akhirnya umumkan delegasi yang akan mewakili kampus hutan tropis ke tingkat nasional. Meski kembali diadakan secara daring, euforia ajang tahunan nasional ini tak pernah sepi peminat.

Sebagai kegiatan aktualisasi diri bagi mahasiswa, KDMI merupakan kompetisi debat nasional yang menggunakan bahasa Indonesia. Sedang NUDC yang berlangsung sejak 2008 ini merupakan kompetisi debat berbahasa Inggris yang nantinya akan menghasilkan delegasi Indonesia untuk World Universities Debating Championship (WUDC).

Persiapan

Miftah farid, salah satu delegasi NUDC Unmul mengisahkan persiapannya selama beberapa bulan terakhir kepada Sketsa. Untuk bisa maju membawa nama baik universitas, dirinya terlebih dahulu harus melewati seleksi internal fakultas yang prosesnya dinaungi langsung oleh salah satu kementerian BEM FK.

“Untuk persiapan seleksi universitas sendiri, kami biasanya 1 vs 1 gitu, jadi saya lawan partner saya kemudian ada feedback dari pelatih kami,” cerita Miftah ketika dihubungi Sketsa pada Minggu (3/7) lalu. 

Menurutnya dalam persiapan berlangsung, birokrat kampus cukup kooperatif. “Tentunya ini semua ada dibantu oleh Unmul, terlebih lagi ketika seleksi wilayah kemarin. Mulai dari perekamannya, gedungnya, sama pengunggahan videonya juga dibantu sama Humas Unmul. Beberapa kali juga Kemahasiswaan Unmul ngebantu nyediain zoom meeting buat latihan gitu.”

Untuk memantapkan strategi kala berlaga, tahun ini delegasi tim NUDC dan KDMI Unmul memperoleh pembinaan sembari berlatih bersama tim lokal. Tak hanya itu, mereka turut mendapat dukungan dari UKM Mulawarman Debating Society (MDS) Unmul melalui senior yang telah lulus.

Sparing debat gitu sama tim dari Untag Samarinda kemarin ketika persiapan untuk seleksi wilayah. Walaupun sebenarnya kami latihan sama dari mana-mana aja sih, baru-baru ini kami habis latihan sama debater dari Unair sama Unesa pasca pengumuman nasional kemarin,” ungkap mahasiswa yang memiliki ketertarikan di bidang debat sejak tahun pertama kuliah.

Meski sejauh ini persiapannya belum signifikan, mahasiswa Kedokteran tahun 2019, La Ode Muh Sakaum Muhajir juga tak ketinggalan berbagi cerita selama masa persiapan. Ia adalah salah satu yang akan mewakili Unmul dalam kontestasi KDMI tingkat nasional.

“Persiapan saya untuk ke KDMI nasional sih sejauh ini masih belum terlalu signifikan persiapannya. Masih ada rencana sparring sama univ-univ lain. Untuk dari Unmul sendiri di-provide itu sih, latihan sama kakak-kakak tingkat yang udah pernah ikut KDMI dan NUDC sebelumnya,” jelas laki-laki yang akrab disapa Saka, Rabu (6/7).

Kendala

Selama masa persiapan berlangsung, berbagai kendala juga turut menghampiri mereka. Salah satu yang menghambat ialah sulitnya mengatur waktu berlatih.

“Kendalanya mungkin dalam latihan sih, ngatur jadwal yang pas semuanya bisa. Beberapa kali kadang latihannya enggak full team, jadi bentuk latihannya enggak bisa saling debat tapi cuma case building sama speech tunggal gitu,” jelas Miftah.

Hal yang serupa turut dirasakan Saka, namun dirinya memilih tak ambil pusing. “Untuk kendalanya yang paling utama itu menyesuaikan jadwal sama anak-anak univ lain yang mau sparing sama kita. Untuk mengatasinya, paling koordinasi aja sih sama mereka. Karena kan kita juga udah kenal-kenal yah sebelumnya, jadi tinggal koordinasi aja.”

Tantangan dan Harapan

Berdasarkan pengumuman yang disampaikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Senin (20/6) lalu, diketahui sejumlah universitas ternama akan turut mengikuti ajang tahunan tersebut. 

Tak pelik, hal ini diakui Miftah sebagai tantangan tersendiri. “Kemampuan mereka jauh di atas saya dan tentunya akan menjadi tantangan bila nanti kami bertemu di NUDC tingkat nasional lagi.”

“Jujur, saya sendiri cuman nargetin buat lolos seleksi wilayah dan sampai ke nasional yang alhamdulilah sudah tercapai. Untuk ke depannya, saya bakal berusaha sebaik mungkin dan kalau ternyata menjadi salah satu dari finalis atau best speaker ya alhamdulilah, tapi kalaupun tidak ya enggak apa-apa,” sambung Miftah.

“Kalau tahun lalu kan, kami sudah sampai semi final. Harapannya sih semoga tahun ini bisa sampai grand final, dan bisa ada di top 15 pembicara terbaik,” optimis Saka. (nkh/kya/khn)