Menekuni Linguistik dan Sastra: Benarkah Mahasiswa FIB Selalu Menggunakan Bahasa Baku dalam Bertutur?
Sumber Gambar: Ai/Sketsa
SKETSA – Mahasiswa FIB Unmul memiliki latar belakang studi sastra yang kuat dalam mempelajari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini sering memunculkan stereotipe bahwa mereka selalu menggunakan bahasa baku dalam percakapan sehari-hari di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB 2024, Naisha Febriana Dindira menjelaskan ia justru jarang mendengar anggapan bahwa mahasiswa FIB terlalu kaku dalam berbahasa.
Menurutnya, penggunaan bahasa di fakultas tersebut masih tergolong wajar dan serupa dengan gaya bicara mahasiswa pada umumnya.
"Kalau dibilang bahasa baku banget, enggak juga sih. Biasa saja," ungkap Naisha melalui pesan suara WhatsApp, Selasa (9/12) lalu.
Naisha menambahkan penggunaan bahasa Indonesia yang benar di FIB lebih difungsikan sebagai alat pemersatu antar mahasiswa yang berasal dari daerah berbeda.
Ia menilai setiap fakultas pasti menggunakan ejaan yang baik agar pesan yang disampaikan dapat dipahami semua lawan bicara.
Di sisi lain, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB 2022, Erix Juvanta mengakui dirinya secara sadar sering menggunakan bahasa baku, baik dalam penulisan takarir media sosial maupun saat berinteraksi.
"Saya memang suka menggunakan bahasa baku, karena saya rasa kita punya lebih banyak opsi pilihan kata yang mampu mengekspresikan apa yang ingin diucapkan," tutur Erix kepada Sketsa, Sabtu (13/12) lalu.
Erix menceritakan kebiasaan ini dimulai sejak menjadi mahasiswa baru dan sering dianggap unik.
Baginya dan lingkaran pertemanannya di organisasi, menggunakan bahasa formal di tempat umum memberikan kesan yang tidak biasa.
Ciri khas lain yang menonjol di lingkungan Sastra Inggris adalah penggunaan panggilan "Mas" atau "Mbak" kepada sesama mahasiswa tanpa memandang usia.
Panggilan ini dianggap lebih nyaman dan menunjukkan rasa hormat dibandingkan sebutan "Abang" atau "Dek" yang lazim di fakultas lain.
"Kultur FIB itu berbeda, kami panggil Mas atau Mbak karena terasa lebih menghargai meskipun usianya lebih muda," jelas Erix mengenai kebiasaan di organisasinya.
Meskipun menyadari penggunaan bahasanya sering dinilai terlalu puitis oleh orang luar, Erix mengamati tidak semua mahasiswa FIB berperilaku serupa.
Ia memperkirakan hanya sekitar 10 hingga 20 persen mahasiswa di fakultasnya yang benar-benar menerapkan bahasa baku secara konsisten.
Namun, ia menekankan bahwa mahasiswa FIB umumnya memiliki kesadaran tinggi terhadap linguistik. Kesadaran akan tata bahasa ini menjadi pembeda karena dasar keilmuan mereka yang memang fokus pada sastra dan bahasa. (kia/mlt/mou)