Barang di SC Raib, UKM Akui Rugi Jutaan Rupiah

Barang di SC Raib, UKM Akui Rugi Jutaan Rupiah

Sumber Gambar : Quipper

SKETSA - Belakangan ini, marak peristiwa hilangnya inventaris yang ada pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun lembaga kemahasiswaan di gedung Student Center (SC). Bahkan hingga berbuntut perusakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Hal ini lantas membuat mahasiswa resah dan geram. Beberapa di antaranya dialami oleh UKM Pramuka, UKM Teater Yupa, UKM Bola Unmul, KMK Unmul, dan UKM Catur.

Oky Paredanun selaku Ketua UKM Pramuka melaporkan adanya kehilangan barang-barang penting dari sekretariat mereka. Diakui Oky, mereka kehilangan Printer, CPU, HT 5 buah, 2 lampu sorot, Carabier 5, Figur Eight 5 dengan total kerugian mencapai Rp10 juta lebih. Kejadian ini bukan pertama kalinya. Tahun lalu,  UKM Pramuka kehilangan CPU. Beberapa anggota menyimpulkan bahwa pelaku masuk melalui jendela yang tepat berada di atas pintu, sebab keadaan kunci sekretariat mereka masih bagus. Tidak ada kerusakan.

Demi menghindari kejadian yang sama, UKM Pramuka berencana memasang tralis besi. Untuk sementara barang-barang beharga tidak disimpan di sekre, sebab mereka masih menunggu situasi kembali aman. UKM Pramuka menaruh curiga pencurian bulan lalu disebabkan oleh libur panjang, juga kemungkinan pelaku yang mereka curigai tidak jauh dari wilayah SC, sebab pelaku mengetahui semua barang-barang beharga milik setiap UKM.

Senasib, Ketua UKM Teater Yupa, Tiara Purnama Sari menuturkan salah satu anggotanya harus merelakan uang tunai senilai Rp700 ribu dan sebuah ponsel genggam saat barang tersebut berada di sekretariat. Lebih lanjut, ia juga mendengar  lapak dagang yang berada di sekitar kawasan SC tak luput dari usaha pembobolan.

"Dapat laporan juga dari bule yang jualan di depan sekre Yupa, katanya warungnya dibobol hingga dua kali oleh pencurinya. Dengan cara menggergaji pintu, saya sendiri juga sempat melihat berkas gergajinya," terang Tiara.

Namun, beruntung tak satupun barang yang berhasil diraib oleh oknum tak dikenal tersebut. Melihat kondisi SC yang semakin rawan, didukung tidak adanya penjagaan resmi yang dilakukan oleh satuan pengamanan membuat gerak oknum tersebut semakin gesit.

"Kemudian hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagaimana Unmul kampus akreditasi A, tidak menjamin keamanan para mahasiswa di lingkungannya," tutur Tiara.

Ia berharap adanya tindak tegas langsung oleh pihak kampus mengingat peristiwa ini terus terjadi. Senada dengan Tiara, Aris Munandar, ketua UKM Bola menyampaikan keresahannya.

"Dari UKM Sepak Bola dan Futsal sendiri mengalami kerugian besar karena tidak cuma di SC tetapi di gudang lapangan Kusetra dibobol juga. Isinya ada 10 bola dan peralatan lainnya yang ditaksir rugi 8 jutaan. Sedangkan di SC, jersey dan peralatan latihan futsal lenyap digondol maling," ungkap Aris.

Aris sangat menyayangkan sistem keamanan kampus yang dirasa lemah, tidak selayaknya universitas yang meraih akreditasi A harus dihadapkan tugas rumah yang dari hari ke harinya sama.

"Sekarang apa yang akan kami lakukan dengan tidak adanya peralatan yang telah digondol maling? Targetan kita juara nasional, tetapi keamanan seperti ini, mungkin hanya mimpi," tambahnya.

Guna menghindari hal yang tak diinginkan lebih jauh, UKM bola menguatkan proteksi sekretariatnya dengan penambahan gembok, namun bak kancil yang tak kehilangan akalnya gembok tersebut masih saja mampu untuk dibobol oleh oknum.

"Sekali lagi kami sangat kecewa," pungkas Aris.

Tak hanya UKM Teater Yupa dan UKM Sepak Bola, bulan Juni lalu sekretariat KMK kehilangan sound system dan sekre mereka dibobol. Untuk meminimalisir kejadian ini belum ada perencanaan kerena barang-barang sudah dibawa pulang ke rumah salah satu anggota. Sama seperti UKM Pramuka, KMK berencana akan membeli tralis untuk di jendela dan di pintu agar tidak ada lagi yang bisa membuka pintu secara paksa.

Menurut penuturan Rina, Ketua KMK, sekretariat KMK sudah tidak lagi aman. Sebab, sudah berulang kali dibobol dan sudah seringkali mereka mengganti gagang pintu. Sejauh ini selain sound, terdapat juga LCD dan uang senilai Rp700 ribu.

Keamanan Gedung SC benar-benar sedang dipertanyakan. UKM lainnya yang juga menjadi korban ialah UKM Catur. Ditemui Sketsa, Ketua Umum UKM Catur Irfan Fadil mengaku bahwa pihaknya sering mengalami kebobolan. Setidaknya tercatat tiga kali selama ia menggeluti UKM ini.

"UKM Catur udah sering (kebobolan). Yang saya tahu ini udah yang ketiga kali," ungkapnya.

Aksi bobol pertama ia alami saat awal kepengurusan tahun 2017 lalu. Lalu pada awal 2019 yang menyebabkan UKM Catur kehilangan beberapa barang seperti jam catur seharga jutaan. Kemudian terjadi kembali pada musim liburan semester lalu. Ganjilnya, aksi bobol kali ini tak ada kehilangan, hanya kerusakan pada pintu yang membekas. Seperti kerusakan pada lubang kunci dan papan plang nama yang sudah berada di tanah.

"Pas masa liburan, enggak ada yang hilang. Cuma pintunya dirusak terus plangnya dicopot," kata Irfan.

"Pertama kali tahu, (ada) anggota UKM dan (merupakan anggota) BEM juga. Mereka bikin acara, terus teman saya panitia, dia menelepon 'sekre kita udah dibobol'. Sore ngecek, kondisinya udah pecah," ceritanya.

Irfan sudah mencoba melakukan laporan ke petugas keamanan, serta sudah ditinjau langsung ke tempat kejadian. Namun hingga kini tak ada respons lebih. Pengurus UKM hanya disuruh untuk melaporkan ke pihak rektorat yang hingga kini juga enggan dilakukan. 

Cerita tak jauh berbeda dialami LPM Sketsa. Beberapa bulan lalu terminal kabel milik sekretariat dan speaker lenyap. Hilangnya terminal kabel tidak hanya sekali, kejadian yang sama terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan. Peristiwa kehilangan ini bukan baru sekali dialami. Setahun lalu, kejadian serupa pernah terjadi. Di tengah masa libur panjang seperti ini kipas angin di sekretariat hilang. Baru-baru ini, sekitar dua minggu lalu, gagang pintu sekretariat LPM Sketsa dilepas dan dirusak. (omi/syl/snh/els)