Program Asuransi Masih Belum Jelas Kegunaannya, Mahasiswa FKIP: Hilangkan Saja

Program Asuransi Masih Belum Jelas Kegunaannya, Mahasiswa FKIP: Hilangkan Saja

SKETSA – Pengadaan program asuransi bagi mahasiswa FKIP memunculkan kontradiksi pendapat antara Wakil Dekan III FKIP Masrur Yahya dan Gubernur BEM FKIP Mujihat. Di sisi lain, sebagian besar mahasiswa FKIP mendukung untuk menghilangkan program asuransi yang berjalan namun tidak sesuai dengan harapan.

Dodi Wahyudi, mahasiswa Prodi Penjaskesrek 2015 harus menelepon hotline asuransi ketika sakit. Dodi mengaku jika ia tidak mendapatkan apa-apa dari adanya asuransi karena tidak adanya sosialisasi perihal pamakaian kartu asuransi secara teknis.

Melihat perbedaan perspektif antara Masrur Yahya dan Mujihat tentang program asuransi, Dodi menilai pengadaan program dari Wakil Dekan III FKIP tersebut sebenarnya bagus, hanya saja dalam pelaksanaannya yang kurang.

(Baca: https://sketsaunmul.co/berita-kampus/fkip-pangkas-dana-kegiatan-mahasiswa-untuk-program-asuransi/baca)

Jika ada sosialisasi teknis yang jelas tentang bagaiamana alur pencairan dan dana yang digunakan dari mana, sebagai mahasiswa FKIP, ia akan mempertimbangkan kembali terkait layak tidaknya asuransi ini dilanjutkan. 

“Cukup disayangkan dana yang begitu besar malah bisa dipermainkan tanpa kejelasan dari mana dana itu didapat dan seharusnya BEM FKIP tegas menyikapi masalah ini. Kalau tidak setuju harus memiliki data mahasisa yang keberatan dan rasionalisasi yang jelas dalam tuntutan,” jabarnya. 

Vita Fransisca Bahy, mahasiswi Prodi Pendidikan Fisika 2015 juga tidak merasakan adanya manfaat dari program asuransi di FKIP. Ia terang-terangan mengatakan untuk menghilangkan program asuransi jika prosesnya menyulitkan mahasiswa. Meskipun ia setuju dengan pendapat Masrur Yahya, namun melihat pernyataan dari Mujihat, sangat tidak efektif jika pelaksanaanya mempersulit mahasiswa.

(Baca: https://sketsaunmul.co/berita-kampus/setahun-berjalan-program-asuransi-fkip-gagal/baca)

Sekalipun Vita telah mengisi survei dari BEM FKIP terkait keefektifan asuransi, Vita menilai adanya survei tersebut tidak memberikan dampak positif atau pengaruh konkret.

“Sudah pernah mengisinya. Tetapi tidak ada dampak positif atau pengaruhnya untuk saya, begitu pun teman-teman saya yang lain rasakan,” sebutnya.

Setali tiga uang, Reni Yuniar mahasiswi Pendidikan Ekonomi 2016 mengaku jika ia belum mengisi, bahkan ada kemungkinan untuk tidak mengisi survei tersebut. Namun, melihat pro-kontra Masrur Yahya dan Mujihat, ia berpendapat jika dana organisasi kemahasiswaan tidak akan terpangkas lebih banyak lagi jika memang telah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan. Sebab setiap program yang telah berlaku maupun yang akan diberlakukan harusnya telah dipikirkan guna serta manfaat ke depannya.

“Jika benar dana tersebut tidak bisa digunakan seefisien mungkin, baiknya dihilangkan sebab tidak banyak yang benar-benar menggunakan asuransi tersebut,” ujarnya. 

Di sisi lain, Rizka Hayati bersyukur karena tidak perlu merasakan sakit terlebih dahulu untuk mengetahui kartu asuransi tersebut bisa digunakan atau tidak. Mahasiswi Biologi 2015 ini sudah cukup mendengar dari teman-temannya bahwa asuransi tersebut tak dapat digunakan. 

Meninjau pendapat dari Masrur Yahya, Rizka memastikan ia tidak mengetahui adanya form khusus yang harus diisi untuk penggunaan asuransi karena tidak adanya sosialisasi tentang cara penggunaan serta rumah sakit mana saja yang bekerja sama dengan pihak asuransi. 

Adapun gagasan dari Mujihat, Rizka yakin ada banyak mahasiswa FKIP yang merasakan hal yang sama. Kendati belum mengisi survei, Rizka setuju untuk menghilangkan asuransi selama tidak ada kejelasan dalam penggunaannya.

“Lebih baik dana asuransi tersebut digunakan ke hal yang lebih bermanfaat,” tutupnya. (ann/dan/mer/nul/est/and/els)