Prof. Haviluddin: Sosok di Balik Jejak Riset Unmul di Kancah Dunia
Profesor Unmul Haviluddin masuk dalam 5 persen peneliti dunia melalui SCI Rank
Sumber Gambar: Ai/Sketsa
SKETSA - Ketua Senat sekaligus Dosen FT Unmul, Haviluddin membagikan cerita mengenai pencapaiannya masuk dalam 5 persen peneliti dunia melalui SCI Rank. Menurutnya, pencapaian tersebut tidak lepas dari konsistensi dalam melakukan penelitian, dampak dari riset yang dilakukan, serta kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara.
Haviluddin merupakan profesor pertama di Kalimantan Timur (Kaltim) dalam bidang Kecerdasan Buatan atau artificial intelligence (AI) dan Sains Data. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 2023 dan menjadi Guru Besar keempat di Pulau Kalimantan dalam bidang tersebut.
Menurut Haviluddin, konsistensi menjadi salah satu hal penting dalam penilaian SCI Rank. Selain konsisten melakukan penelitian, riset yang dihasilkan juga perlu memberikan dampak dan mendapat perhatian dari peneliti lain melalui sitasi.
Riset Drone untuk Pertanian
Salah satu penelitian yang menjadi bagian dari perjalanan riset Haviluddin adalah Smart Farming. Penelitian ini telah dikembangkan sejak 2017 dengan tujuan menerapkan teknologi dalam bidang pertanian.
Riset ini dilakukan melalui kerja sama antar universitas; Unmul, Universiti Malaysia Sabah (UMS), Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), serta York University di Inggris. Pilot project tersebut juga telah diuji di tiga negara, yakni Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
“Jadi kolaborasi itulah yang menghasilkan satu prototype drone yang mampu mengangkat beban sampai dengan 100kg lebih untuk mengangkat air, mengangkut pupuk, untuk menyiram di sawah yang presisi” jelasnya saat ditemui awak Sketsa, Selasa (4/8).
Selain Haviluddin, terdapat tiga akademisi Unmul lainnya yang turut mencapai prestasi serupa: Enos, Irawan Wijaya Kusuma, dan Nurhasanah. Ia menjelaskan bahwa salah satu hal yang mendukung pencapaian tersebut adalah keberagaman sitasi dari karya-karya yang mereka hasilkan.
Menurutnya, penelitian yang dikutip oleh peneliti dari berbagai negara menunjukkan bahwa karya tersebut memiliki jangkauan yang lebih luas. Sitasi tersebut datang dari berbagai wilayah seperti Asia, Amerika, Eropa, hingga Afrika.
Manajemen Waktu dan Study Club
Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Senat Unmul, terutama dalam proses pemilihan rektor, Haviluddin tetap berusaha menjaga kegiatan penelitiannya. Menurutnya, manajemen waktu menjadi hal penting agar tugas sebagai pimpinan senat, peneliti, dosen, dan keluarga tetap dapat berjalan.
Ia juga membentuk study club yang menjadi tempat mahasiswa dan dosen untuk belajar serta berdiskusi mengenai bidang yang diminati, khususnya AI. Saat ini, terdapat sekitar 30 anggota yang aktif.
Menurut Haviluddin, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk membangun regenerasi dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan penelitian.
Tidak hanya itu, Ia juga menilai kolaborasi dapat membantu peneliti dalam menghemat waktu.
“Memang karena adanya kolaborasi itu yang menghemat waktu kami, terutama saya dalam mengatur waktu. Kalau tidak ada teman teman membantu, habis waktunya untuk saya belum lagi keluarga” tuturnya kepada Sketsa, Selasa (4/8).
Mendorong Kolaborasi Riset untuk IKN
Haviluddin berharap mahasiswa dan dosen Unmul dapat menghasilkan lebih banyak karya yang dikenal di tingkat internasional. Ia ingin pencapaian yang telah diraih saat ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dapat ditingkatkan oleh generasi berikutnya.
Menurutnya, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi kesempatan bagi Unmul untuk memperkuat kerja sama penelitian. Ia mendorong mahasiswa dan sivitas akademika untuk membangun budaya kerja bersama melalui riset dan kolaborasi lintas bidang.
Haviluddin juga mencontohkan kerja sama antara perguruan tinggi di Kaltim dengan kampus-kampus besar di pulau Jawa, seperti UGM, ITB, dan ITS. Kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui hibah penelitian bersama maupun program Kuliah, Kerja, Nyata (KKN) yang mendukung pembangunan IKN.
Baginya, budaya disiplin dan kolaborasi perlu terus dibangun di lingkungan kampus. Dengan saling membantu dan berbagi pengetahuan, mahasiswa tidak hanya dapat berkembang dalam penelitian, tetapi juga dalam proses belajar mereka. (mlt/apn/mou)