Sosok

Bawa Gagasan Kreatif Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan, Mahasiswa FKLT Raih Penghargaan Mawapres Utama Unmul 2026

Pemenang Utama Pilmapres 2026 membawa gagasan terkait inovasi pengolahan kakao untuk peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus konservasi Orangutan.

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA - Adnadinna Nursasi Ramadhani, mahasiswa Ilmu Kehutanan FKLT Unmul 2023 raih penghargaan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Utama Unmul 2026 dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres), Senin (13/4) lalu di Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si. dengan membawa gagasan kreatif soal upaya mencapai keseimbangan ekonomi dan lingkungan.

Menjadi perwakilan Unmul dalam Pilmapres Nasional, Adnadinna membawakan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan judul “CHOCOSANPA: Model Insenstif Ekonomi Berbasis Kakao (Theobroma cacao L) untuk Konservasi Orangutan di Bentang Alam Nesan Menyapa”. KTI ini tidak hanya memperhatikan bagaimana suatu konservasi tercapai, tetapi juga memberi keuntungan.

“Tidak hanya memperlihatkan keuntungan flora dan fauna, tetapi juga dapat memperuntungkan masyarakat desa sekitar yang menjaga hutan tersebut, masyarakat adat yang menjaga hutan,” jelasnya kepada Sketsa, Rabu (20/5) lalu.

Adnadinna melanjutkan, produk CHOCOSANPA merupakan salah satu proof of concept dari gagasan kreatifnya atau bukti implementasi awal bahwa pengolahan kakao bernilai tambah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung upaya konservasi orangutan. Produk tersebut merupakan kolaborasi dari FKLT Unmul dengan Tropical Forest and Land Conservation (TFLC) Kalimantan.

“Saya di sini lebih membuat skema atau prinsip modal insentifnya bagaimana dapat tersalurkan,” lanjutnya.

Penyaluran sendiri direncanakan di salah satu kawasan Menyapa, juga salah satu daerah di Berau. Dikarenakan kawasan ini memiliki potensi kakao yang besar sehingga masyarakat bisa melakukan pengolahan.

“Tidak hanya dijual dalam bentuk mentahan saja, tetapi juga dibuat dalam bentuk fermentasi sehingga harga jualnya tinggi. Melalui proses fermentasi dan akses ke pasar premium, harga jual kakao berpotensi meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kakao non-fermentasi.” paparnya.

Ia menjelaskan, masyarakat biasanya mengedepankan menjual kakao kepada perantara seperti tengkulak. Hal ini membuat harga jual kakao menjadi rendah. Namun karena membutuhkan pendapatan setinggi-tingginya, harus melakukan pembukaan lahan yang mengganggu wilayah koridor jalannya orangutan.

Sehingga, pengenalan pengolahan produk kakao akan memberikan pendapatan tinggi, tetapi juga menerapkan sistem agroforestri.

“Maka mereka tidak perlu membuka hutan atau membuka lahan baru. Melalui penerapan sistem agroforestri kakao, masyarakat dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan tanpa harus membuka kawasan hutan baru,” lanjutnya.

Melalui KTI tersebut, Adnadinna berhadap bahwa gagasannya tidak hanya berhenti di Pilmapres, tetapi dapat diimplementasikan dan diterapkan secara langsung. 

Selain itu, memberikan dampak nyata ke masyarakat, terutama masyarakat di daerah Lesan Menyapa. Tidak hanya pendapatan yang meningkat, masyarakat juga harus mengenal potensi daerahnya.

“Tapi juga mereka dapat terus menjaga lingkungan sekitar mereka, sehingga nantinya berkepanjangan, berjangka panjang efeknya bagi mereka dan juga lingkungan sekitar dan generasi selanjutnya,” terangnya.

Adnadinna pun turut membagikan perjalanannya selama mengikuti Pilmapres. Tidak hanya berhenti di penyusunan KTI, tetapi juga capaian unggulan yang sudah harus dikumpulkan semenjak awal masuk perkuliahan.

“Mempersiapkan dari seringnya mengikuti lomba-lomba, kompetisi-kompetisi yang ada, dan hal-hal lainnya yang menjadi penunjang untuk peningkatan capaian unggulan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Adnadinna juga menyebut peran besar mentor, seperti dosen pembimbing dan senior, yang membantunya mulai dari penyusunan gagasan kreatif, persiapan bahan presentasi, hingga latihan presentasi.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam mengikuti kompetisi, telah berprinsip bahwa tujuannya tidak hanya untuk menang, tetapi juga mendapatkan ilmu-ilmu baru dan bisa bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai latar belakang.

“Maka saya tidak memiliki suatu tekanan untuk mendapatkan sesuatu itu, stop untuk di menang saja, tetapi saya punya pikiran bahwa pengalaman itu merupakan salah satu goals utama saya dalam mencapai mimpi,” tuturnya.

Adnadinna juga menyebut bahwa ketika mendapatkan suatu gagasan, ia menilai tidak hanya membawa keuntungan untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat dan orang lain.

“Jadi jangan pernah takut menyampaikan dan menuangkan suatu gagasan atau ide-ide pemikiran yang mungkin walaupun awalnya dianggap kecil ke dalam suatu tulisan atau bahkan disampaikan ke khalayak umum,” tutupnya. (ner/mlt/akm/aya)



Kolom Komentar

Share this article