Resensi

Pemandi Jenazah: Pekerjaan yang Didasarkan atas Panggilan Hati Nurani

Kisah misteri dari pemandi jenazah dengan pengalaman mengerikannya

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Akun Instagram Posterfilm.id

SKETSA - Ketika ada seseorang yang meninggal dunia, tidak semua dari kita mengikuti proses memandikan jenazah. Tetapi bagi sebagian orang, memandikan jenazah menjadi pekerjaan yang dilakukan atas panggilan hati nurani.

Diangkat dari kisah nyata, Hadrah Daeng Ratu berhasil menggarap film Pemandi Jenazah dengan ciamik. Tayang di Bioskop pada Kamis (22/2) lalu, jumlah penonton Pemandi Jenazah saat ini telah tembus hingga satu juta penonton.

Mengisahkan tentang Lela, diperankan oleh Aghniny Haque, seorang anak pemandi jenazah yang enggan melanjutkan pekerjaan ibunya, Siti yang diperankan oleh Djenar Maesa Ayu. Lela merasa tidak cocok dengan pekerjaan tersebut dan memiliki pilihannya sendiri. Akan tetapi ia dihadapkan dengan situasi yang membuatnya harus mewarisi pekerjaan tersebut.

Diawali dengan meninggalnya sang ibu secara tidak wajar, Lela dihantui rasa penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah menimpa sang ibu. Terlebih, satu persatu teman dekat sang ibu ikut meninggal secara tidak wajar dan Lela selalu diminta untuk memandikan.

Kisah ini berlanjut dengan fokus terhadap Lela yang berusaha mengungkap misteri dan ketegarannya dalam memandikan jenazah dengan kematian yang tidak wajar. Menghadapi jenazah yang tidak mau memejamkan mata, jenazah yang bisa duduk sendiri, hingga jenazah yang berbisik meminta tolong.

Salah satu adegan yang membuat meringis ialah ketika ada potongan kawat pagar yang harus ditarik dari mulut dan perut jenazah, juga saat mengenai kaki pemain. Adegan dengan tampilan yang begitu realistis tersebut membuat tangan tidak bisa lepas dari menutup mata.

Momen lain yang membuat penonton meringis serta haru secara bersamaan adalah ketika Lela harus memandikan jenazah ibunya seorang diri. Lela harus menghadapi mayat sang ibu yang bersimbah darah dan menyaksikan langsung kejanggalan saat memandikannya. 

“Ikhlas ya bu, izinkan Lela mandiin ibu,” kurang kebih begitu kalimat yang Lela bisikkan ke telinga jasad ibunya.

Tentu, adegan yang haru dan membuat merinding ini akan terasa lebih relate bagi mereka yang pernah memandikan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Film bergenre horor ini berhasil menyelipkan adegan sedih yang sampai ke hati penonton.

Momen-momen memandikan jenazah memiliki misterinya tersendiri. Tidak menyebar aib sang mayat sudah menjadi peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi bagi mereka yang menekuni pekerjaan ini. Apapun yang dilihat dan dialami ketika sedang memandikan jenazah harus disimpan seorang diri. 

Membayangkan hampir setiap hari menghadapi mayat dengan ceritanya masing-masing merupakan keadaan yang sangat berat menurut penulis.

Terlepas dari kehororan cerita ini, Pemandi Jenazah memiliki adegan yang menjurus pada diskriminasi gender. Hal ini tampak saat Lela tidak diperkenankan sang ibu untuk mengikuti pilihannya sendiri. Berbeda dengan adik laki-lakinya, Arif yang diperankan oleh Ibrahim Risyad, yang boleh berjalan di atas pilihannya sendiri.

Selain itu, adegan yang juga menampilkan kesan diskriminasi gender ialah sikap sang ibu yang terkesan selalu membela Arif ketika Lela mengomentari pekerjaan Arif sebagai tukang.

Lewat berbagai peristiwa dalam film Pemandi Jenazah, kita dapat mengetahui bahwa pekerjaan sebagai pemandi jenazah bukanlah pekerjaan yang mudah dan memerlukan mental yang kuat. (mlt/ali)



Kolom Komentar

Share this article