logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Resensi

Ngeri-ngeri Sedap: Konflik Generasi Anak-Orang Tua Berbalut Budaya Batak

Resensi film keluarga Ngeri-ngeri Sedap

Sumber Gambar: Twitter @bene_dion

SKETSA Sejak langkah pertama kaki ini memasuki pintu teater di salah satu bioskop Samarinda, tak banyak ekspektasi yang saya harapkan terhadap film ini. Apalagi budaya yang diangkat pun tak sepenuhnya saya pahami. Ya, selain bukan berasal dari keluarga batak, rasanya industri perfilman Indonesia masih sangat jarang untuk mengangkat fragmen budaya selain dari Pulau Jawa.

Gelak tawa penonton terus terdengar memenuhi seantero bioskop sepanjang pemutaran film. Hal ini tentu tak mengherankan dengan sejumlah pemeran utama diisi oleh ‘lulusan’ Stand Up Comedy. Bahkan Bene Dion selaku penulis skenario sekaligus sutradara film, punya track record serupa.

“Aaah jadi kangen mamak di rumah deh,” begitu setidaknya yang samar-samar tertangkap rungu ini dari salah satu penonton di barisan bangku belakang. 

Tak bisa dimungkiri, meski film ini cukup kental dibalut dengan budaya batak, masalah keluarga yang diangkat cukup universal. Tak berlebihan jika menyebut Ngeri-ngeri Sedap berhasil membuat penonton merasa dekat dengan cerita tanpa tersekat identitas individu.

Unsur lain yang melengkapi kisah keluarga Pak Domu ialah soundtrack yang mengiringi sepanjang cerita. Lagu Huta Namartuai oleh Viky Sianipar dan Ogan Nababan dipadukan dengan pemandangan alam Danau Toba adalah perpaduan yang sempurna untuk mengawali kisah. 

Sebagai orang tua dengan empat orang anak, Pak Domu dan Mak Domu berharap keluarga kecilnya dapat lengkap menghadiri helat adat pesta sulang-sulang pahompu. Kondisi yang dihadapi Pak Domu dan Mak Domu saat itu ialah ketiga anak lelakinya sedang merantau dan bertahun-tahun belum pernah kembali ke rumah. 

Domu, Gabe, dan Sahat enggan pulang sebab memiliki problematikanya masing-masing. Secara garis besar ketiganya tak begitu dekat dengan sosok ayah mereka yang enggan mendengar suara orang lain dan cenderung memaksakan kehendaknya. Ini tak terlepas dari konsep patrilineal dalam adat batak yang membentuk pribadi Pak Domu, dan bahkan kebanyakan mayoritas orang tua lelaki.

Masalah terus berlanjut ketika akhirnya Pak Domu dan Mak Domu memutuskan untuk ‘pura-pura berantam mau cerai’ agar ketiga anak rantaunya mau pulang ke rumah. Alur yang tersaji sejauh ini tersusun rapi dan cukup pas sebelum menuju klimaks yang menjadi sorotan dalam sebuah film.

Standing ovation rasanya perlu saya berikan untuk klimaks dalam alur cerita. Pasalnya, meski teknik one take akan menghadirkan perasaan yang lebih nyata, tentu tak mudah bagi para aktor untuk mengeksekusi hal tersebut. 

Pengambilan adegan klimaks one take ini mengeksplorasi setting tempat secara natural mulai dari dapur, ruang tengah, dan berlanjut di teras samping rumah keluarga Pak Domu. Keenam aktor utama sukses mengubah atmosfer bioskop menjadi penuh air mata dengan masing-masing dialog yang bercerita tentang problematika yang mereka hadapi. 

Gita Bhebhita yang memerankan Sarma E. Purba, putri satu-satunya di keluarga batak tersebut sempat bercerita betapa sulitnya pengambilan gambar untuk adegan tersebut dalam sebuah tayangan di balik layar. Meminta restu kepada orang tuanya sebelum proses shooting berlangsung juga tak ketinggalan ia lakukan.

Secara personal, apa yang Sarma utarakan pada babak ketiga (adegan one take di teras samping) adalah titik dimana saya tak kuasa menahan air mata. Ledakan emosi yang tervisualisasi sedemikian jujur, walaupun dialog pada babak ketiga yang diberikan kepada Sarma sebenarnya tak sebanyak yang lain. Masalahnya? tak jauh-jauh dari perkara klasik perempuan yang ada di negeri ini seperti gender yang jadi penghalau perempuan meraih mimpi, yang mirisnya masih terus relevan hingga detik ini.

Menurut hemat penulis, film ini salah satu film genre keluarga yang wajib ditonton bersama keluarga. Sentilan-sentilan ego yang diberikan aktor tentu cocok untuk renungan bersama di kala berkumpul.

Apakah mendidik anak hanya terbatas dari cara yang diterapkan orang tua zaman dulu? Apakah makna keluarga yang ideal terbatas dari apa yang dikonstruksi oleh persepsi khalayak?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa kamu peroleh jawabannya setelah menonton Ngeri-ngeri Sedap, lo! Bagaimana? tertarik menghangatkan perasaan dengan cerita keluarga batak satu ini? (nkh/khn)



Kolom Komentar

Share this article