Resensi

All About Lily Chou-Chou: Remaja, Internet, dan Sedikit Keinginan untuk Menghilang

Tentang pelarian dan pencarian ruang aman remaja di internet

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Pinterest

Aku pertama kali nonton All About Lily Chou-Chou pas masih kelas 2 SMA. Di usia yang belum paham-paham amat soal rasa terasing atau luka batin yang dalam, ditambah waktu itu cuma berbekal kesukaan sama album Shoegaze Parannoul - To See the Next Part of the Dream serta dorongan pengen sok sinefil demi nambahin recently watched di Letterboxd, film ini terasa berat dan lumayan membingungkan.

Tapi pas aku rewatch lagi di umur sekarang, film ini terasa jauh berbeda. Di saat film tentang remaja biasanya penuh romantisasi masa muda, karya Shunji Iwai ini malah datang kayak pukulan telak.

Bukan sekadar film tentang bullying di sekolah, All About Lily Chou-Chou adalah potret tentang bagaimana seorang remaja mencari tempat untuk merasa aman ketika dunia nyata sudah nggak memberinya ruang.

Film ini menangkap realitas remaja yang hidup setengah di dunia nyata yang keras, sibuk, tabrak-tabrakan, dan setengah lagi sembunyi di ruang anonim internet, cuma buat mencari rasa tenang yang nggak mereka dapatkan di luar sana.

Di situlah konsep “Ether” menjadi penting. Ether bukan sekadar musik atau estetika, tapi ruang tempat mereka bisa menjadi versi diri yang nggak mereka temukan di dunia nyata. Di balik forum internet dan identitas anonim itu, mereka bisa berbagi sesuatu yang sulit diucapkan secara langsung.

Musik Lily Chou-Chou akhirnya menjadi semacam bahasa bersama bagi orang-orang yang sama-sama merasa asing, meskipun ruang tersebut pada akhirnya nggak benar-benar mampu menyelamatkan mereka.

Film ini juga bicara tentang persahabatan yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang merusak. Nggak ada transformasi karakter yang terasa tiba-tiba. Kepolosan, rasa takut, iri, dan keinginan untuk diterima perlahan bercampur sampai menghasilkan kekejaman. 

Bahkan Yuichi sendiri nggak pernah benar-benar digambarkan sebagai pahlawan. Dia pasif, penakut, dan sering bikin frustasi. Tapi justru ketidakberdayaan itu yang membuatnya terasa nyata. Dia bukan remaja keren yang tahu harus melakukan apa. Dia cuma anak yang nggak tahu bagaimana caranya bertahan di tengah neraka sebayanya.

Cara film ini menggambarkan pelarian juga terasa menyakitkan karena nggak pernah dibuat indah. Pelarian itu hadir lewat ketikan forum internet, identitas anonim, dan earphone yang dipasang kencang-kencang untuk menenggelamkan dunia luar.

Internet bukan cuma tempat untuk kabur, tapi juga tempat mereka membangun hubungan dan mencari validasi. Ironisnya, ruang yang awalnya terasa aman itu tetap nggak bisa sepenuhnya memisahkan mereka dari kenyataan.

Secara audiovisual, film ini juga terasa seperti berada di antara dua dunia. Visual grainy kamera digital awal 2000-an, hamparan ladang hijau yang tenang, suara tuts keyboard yang nyaring, sampai layar forum dengan teks hijau di atas latar hitam semuanya punya fungsi lebih dari sekadar estetika.

Benturan antara musik klasik debussy dan ambient eksperimental Lily Chou-Chou membuat film ini terasa hipnotik sekaligus gelisah. Ada keindahan di dalamnya, tapi hampir selalu terasa seperti keindahan yang sebentar lagi akan pecah.

Narasinya bergerak dari kepolosan awal yang terasa manis, lalu perlahan makin gelap menuju perundungan, eksploitasi, dan kekerasan. Ritmenya memang lambat, bahkan kadang terasa seperti sedang menonton potongan-potongan memori yang nggak tersusun rapi. 

Freeze frame, potongan gambar, dan ketikan forum yang diselipkan di antara adegan membuat pengalaman menontonnya terasa seperti membuka kembali sesuatu yang seharusnya sudah lama dikubur.

Seperempat abad setelah dirilis, All About Lily Chou-Chou masih terasa relevan. Bukan karena semua yang ada di dalamnya persis sama dengan kehidupan remaja hari ini, tapi karena kebutuhan untuk mencari tempat berlindung dari dunia nyata ternyata nggak banyak berubah. Dulu mungkin bentuknya forum anonim dan CD musik. Sekarang bentuknya bisa berbeda, tapi rasa terasingnya tetap sama.

Nonton ulang film ini sekarang rasanya kayak ngelihat lagi luka lama yang sudah mengering. Film ini nggak menawarkan jawaban atau happy ending. Ia cuma membiarkan kita duduk sebentar bersama rasa sepi itu, sampai akhirnya sadar bahwa perasaan asing yang dulu kita kira cuma milik kita sendiri ternyata pernah dirasakan banyak orang.

Resensi ini ditulis oleh Abimanyu Putra Nugroho, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro FT Unmul 2025.



Kolom Komentar

Share this article