Relasi Kuasa dan Penciptaan Musuh dalam Film The Sea Beast
Bagaimana jika sejarah yang kita percaya ternyata hanyalah versi sang pemenang? The Sea Beast menyuguhkan petualangan sekaligus mengajak penonton mempertanyakan makna kebenaran
- 27 Jun 2026
- Komentar
- 24 Kali
Sumber Gambar: The New York Times
SKESTA - “Sejarah ditulis oleh sang pemenang”. Mungkin kalimat tersebut pernah lewat di beberapa kesempatan ketika membahas sejarah. Pengetahuan tentang masa lampau tidak secara utuh ditulis. Seperti yang terjadi di dalam film The Sea Beast.
Disutradarai Chris William, film animasi anak-anak ini menceritakan tentang seorang pemburu legendaris bernama Jacob bersama seorang anak perempuan pemberani bernama Maisie Brumble.
Berawal dari rasa kagum Meisie terhadap kelompok pemburu monster, ia melibatkan diri ke dalam misi perburuan monster besar yang paling dicari. Monster yang dijuluki Red Bluster tersebut harus ditangkap demi keselamatan umat manusia.
Perjalanan berbahaya itu justru berakhir nahas. Jacob dan Meisie jatuh dari kapal dan dimakan oleh Red Bluster. Untungnya, di dalam mulut monster raksasa itu, mereka tetap hidup dan berusaha mencari jalan keluar.
Namun, bukannya mendapat jalan keluar untuk kabur, justru Meisie dan Jacob melihat sisi lain dari para monster. Di sebuah pulau kecil yang dipenuhi monster, mereka menyaksikan bahwa monster-monster tersebut tidaklah berbahaya.
Meisie dan Jacob bahkan dibantu oleh Red Bluster. Hingga terjalinlah kedekatan di antara mereka. Terutama antara Meisie dengan monster kecil berwarna biru dan Red Bluster.
Sayangnya, Red Bluster berhasil ditangkap kelompok pemburu yang dari awal mengincarnya. Meisie dan Jacob kemudian berusaha menyelamatkan Red Bluster dan membongkar kebohongan kerajaan.
Kebohongan ini dibuat oleh kerajaan yang menyebutkan bahwa monster sangat berbahaya bagi manusia. Mereka menyerang manusia yang berada di darat. Oleh sebab itu, kerajaan menugaskan sekelompok pemburu ke laut untuk membunuh monster.
Meisie menjelaskan bahwa monster hanya melakukan pertahanan diri akibat serangan manusia. Bukan karena mereka jahat dan berbahaya. Namun, kerajaan menganggap monster menyerang manusia dan harus memusnahkan mereka secara keseluruhan.
Berdasarkan film The Sea Beast, tampak bahwa ada usaha pengaburan sejarah yang dilakukan kerajaan. Mereka, sebagai pihak yang berkuasa, melakukan pembenaran atas tindakan mereka dengan menitikberatkan kesalahan pada para monster.
Hal ini seperti apa yang dikatakan Michael Foucault bahwa kekuasaan, pengetahuan, dan wacana membentuk relasi untuk membentuk kontrol sosial. Pengetahuan tidak pernah netral. Setiap kebenaran diciptakan oleh penguasa untuk melanggengkan dominasinya.
Melalui pengetahuan yang dibentuk penguasa, kebenaran tentang sejarah atau apa yang terjadi di masa lampau tidaklah benar-benar disajikan dengan utuh. Sejarah yang panjang dan lengkap hanya akan dipotong dan diatur sesuai keinginan para penguasa, yang dalam film ialah pihak kerajaan.
Para monster yang lucu dan tidak jahat justru dianggap sebagai ancaman yang harus dihilangkan. Wacana ini tumbuh dan berkembang melalui pencatatan buku sejarah dan semakin melanggengkan kuasa kerajaan.
Padahal, melalui Meisie, terbukti bahwa monster tidaklah jahat seperti yang dijelaskan di buku sejarah buatan kerajaan. Manusia dan monster dapat hidup berdampingan tanpa saling menyerang. Jadi, apakah kamu mau menjadi saksi persahabatan antara manusia dan monster menggemaskan? (mlt/mou)