Pukul Setengah Lima: Ketika Menjadi Orang Lain Terasa Lebih Mudah
Pukul Setengah Lima karya Rintik Sedu mengikuti perjalanan Alina yang lelah dengan hidupnya dan menemukan jeda melalui identitas lain. Di antara keluarga, cinta, dan pertemuan dengan orang asing, Alina perlahan mencari dirinya sendiri
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi
Ada kalanya seseorang tidak benar-benar ingin pergi ke mana-mana. Ia hanya ingin sebentar saja tidak menjadi dirinya sendiri.
Pukul Setengah Lima karya Rintik Sedu bercerita tentang Alina, seorang perempuan yang sedang lelah dengan kehidupannya. Rumah tidak menjadi tempat yang cukup nyaman untuk pulang.
Konflik keluarga membuat kesehariannya terasa berat, sementara dirinya sendiri seperti sudah terlalu terbiasa menyimpan banyak hal sendirian.
Di tengah keadaan tersebut, Alina menjalani hubungan dengan Tio, kekasih yang telah bersamanya selama dua tahun. Hubungan mereka menjadi bagian lain dari kehidupan Alina yang perlahan ikut terdampak oleh persoalan yang ia bawa.
Di sisi lain, ada sebuah perjalanan bus pada pukul setengah lima petang. Di sana Alina bertemu dengan seseorang yang asing baginya. Tidak ada hubungan sebelumnya. Tidak ada masa lalu yang harus dijelaskan.
Tidak ada orang yang mengenal siapa Alina sebenarnya. Kepada orang asing itu, Alina justru memilih menggunakan nama Marni. Sebuah identitas yang ia ciptakan sendiri.
Dua pertemuan ini kemudian membawa Alina ke pengalaman yang berbeda. Tio mengenal Alina sebagai seseorang yang telah hidup bersamanya selama dua tahun.
Antara lain, orang asing tersebut mengenal Marni sebagai seseorang yang baru saja ia temui. Menariknya, Alina justru menemukan bentuk kenyamanan tertentu ketika menjadi seseorang yang tidak sepenuhnya dirinya.
Bagi saya, di situlah Pukul Setengah Lima mulai menjadi menarik.
Alina bukan karakter yang sedang mencari kehidupan baru. Ia seperti sedang mencari jeda dari kehidupan yang sekarang. Konflik keluarga menjadi salah satu hal yang membentuk cara Alina melihat dunia.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menyimpan banyak hal yang ingin ia hindari. Ia terbiasa menyimpan persoalan sendiri. Ia tidak mudah bercerita.
Ia bahkan kesulitan memberikan orang lain kesempatan untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Hal tersebut kemudian ikut terbawa ke dalam hubungannya dengan Tio.
Tio menyayangi Alina. Selama dua tahun, ia menjadi seseorang yang hadir dalam kehidupan Alina. Ia mencoba memahami dan mendekat, sementara Alina justru semakin sulit membuka dirinya.
Di sini, hubungan mereka tidak terasa seperti hubungan antara seseorang yang mencintai dan seseorang yang tidak mencintai. Persoalannya jauh lebih rumit.
Alina sedang terlalu lelah untuk menjalani dirinya sendiri. Sementara Tio tetap membutuhkan sebuah hubungan yang bisa dijalani oleh dua orang.
Perbedaan tersebut perlahan menjadi masalah.
Tio mungkin bisa memahami bahwa Alina sedang memiliki masalah. Namun, memahami seseorang juga memiliki batas ketika orang tersebut tidak memberikan ruang untuk dipahami.
Tio dapat menawarkan dirinya untuk mendengarkan, tetapi ia tidak dapat memaksa Alina untuk bercerita. Ia dapat tetap tinggal, tetapi ia tidak dapat membuat hubungan itu berjalan sendirian.
Pada akhirnya, Tio sampai pada titik ketika ia merasa muak.
Saya justru menyukai bagian ini karena novel tidak membuat keputusan tersebut terasa seperti sebuah perubahan yang mendadak. Tio tidak serta-merta berhenti menyayangi Alina.
Ada kelelahan yang terkumpul dari berbagai hal. Ada usaha yang tidak menemukan tempat. Ada perasaan bahwa dirinya terus mencoba masuk ke dalam kehidupan seseorang yang tidak pernah benar-benar membukakan pintu.
Tio akhirnya pergi bukan karena rasa sayangnya tidak pernah ada. Ia pergi karena rasa sayang saja ternyata tidak cukup.
Menurut saya, ini adalah salah satu bagian paling manusiawi dalam Pukul Setengah Lima.
Kita sering menganggap bahwa sebuah hubungan berakhir karena salah satu orang sudah tidak mencintai. Padahal, ada hubungan yang berakhir justru ketika seseorang masih memiliki rasa, tetapi sudah tidak memiliki tenaga untuk terus menjalaninya.
Alina dan Tio berada di posisi tersebut.
Tio ingin mempertahankan hubungan mereka. Alina sedang berusaha mempertahankan dirinya sendiri.
Dua hal itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya dapat berjalan bersama. Sayangnya, tidak selalu.
Kemudian datanglah orang asing itu.
Menariknya, orang asing tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang kehidupan Alina. Ia tidak tahu bagaimana keluarganya. Ia tidak tahu hubungan Alina dengan Tio. Ia tidak tahu segala hal yang membuat Alina merasa lelah. Ia hanya bertemu dengan seorang perempuan di dalam bus.
Dan perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Marni.
Bagi saya, keputusan Alina untuk menjadi Marni merupakan salah satu bagian yang paling menarik dalam novel. Karena ia tidak sedang berbohong demi mendapatkan sesuatu. Ia seperti sedang mencoba mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari kehidupannya, yakni kebebasan untuk menjadi seseorang tanpa sejarah.
Sebagai Alina, ada terlalu banyak hal yang harus ia bawa. Sebagai Marni, tidak ada apa-apa.
Ia bisa berbicara tanpa harus menjelaskan mengapa dirinya seperti itu. Ia bisa bertemu seseorang tanpa membawa hubungan dua tahun yang telah ia jalani. Ia bisa menikmati sebuah percakapan tanpa harus memikirkan rumah yang menunggunya.
Ada kenyamanan tertentu dalam berbicara kepada seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang kita.
Karena terkadang, justru orang yang tidak mengenal kita memberikan ruang paling besar untuk bercerita.
Hal ini membuat keberadaan Marni terasa lebih dari sekadar identitas palsu. Marni menjadi bentuk pelarian Alina. Ia adalah versi Alina yang tidak harus membawa semua hal yang selama ini membuatnya berat.
Namun, pelarian tetaplah pelarian. Ia tidak menghapus persoalan yang membuat Alina ingin pergi sejak awal.
Di sinilah hubungan Alina dengan Tio dan pertemuannya dengan orang asing tersebut terasa saling berhubungan.
Tio mengenal Alina terlalu jauh untuk membuatnya bisa berpura-pura. Orang asing itu mengenal Marni terlalu sedikit untuk membuatnya harus menjelaskan apa-apa.
Yang satu memiliki terlalu banyak sejarah. Yang satu lagi tidak memiliki cerita sama sekali. Dan mungkin karena itu Alina merasa lebih mudah berada bersama yang kedua.
Pukul Setengah Lima kemudian terasa seperti cerita tentang seseorang yang sedang mencari ruang di antara kehidupannya sendiri. Alina ingin dicintai, tetapi pada saat yang sama ia tidak tahu bagaimana menerima cinta.
Ia ingin dimengerti, tetapi sulit memberikan orang lain kesempatan untuk memahami. Ia ingin keluar dari kehidupannya, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana harus pergi.
Bagi saya, karakter Alina menjadi menarik justru karena ia tidak selalu bisa dibenarkan.
Kelelahan memang dapat menjelaskan mengapa seseorang bersikap tertentu. Namun, kelelahan tidak otomatis menghapus dampaknya terhadap orang lain.
Tio tetap terluka. Hubungan mereka tetap berakhir. Dan Alina tetap harus berhadapan dengan dirinya sendiri setelah semua itu.
Hal tersebut membuat perjalanan Alina terasa cukup realistis. Tidak semua persoalan dalam hidup selesai hanya karena seseorang akhirnya menemukan tempat untuk bercerita.
Tidak semua orang yang datang dengan niat baik mampu menyelamatkan kita. Bahkan orang yang paling menyayangi kita pun bisa sampai pada titik ketika ia memilih pergi.
Begitu juga dengan menjadi Marni.
Untuk sementara, Alina mungkin bisa meninggalkan kehidupannya dengan menggunakan nama lain. Namun, perjalanan bus itu pada akhirnya selesai. Ia tetap harus turun. Dan setelah turun, ia tetap menjadi Alina.
Mungkin itu yang paling saya suka dari gagasan Pukul Setengah Lima.
Ada sesuatu yang sederhana dari cara novel ini membicarakan kelelahan. Kita tidak selalu ingin mati, pergi, atau memulai kehidupan baru. Kadang kita hanya ingin duduk sebentar dengan seseorang yang tidak mengenal kita dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Tidak perlu menjelaskan siapa kita.
Tidak perlu menjelaskan kenapa kita begini.
Cukup menjadi seseorang selama perjalanan.
Alina menemukan kesempatan itu pada pukul setengah lima petang. Ia menemukan nama lain. Ia menemukan orang asing. Ia menemukan percakapan yang tidak memiliki sejarah.
Namun, mungkin yang sebenarnya ia cari bukan orang asing itu.
Ia sedang mencari dirinya sendiri. Hanya saja, untuk menemukannya, ia harus terlebih dahulu menjadi Marni.
Dan mungkin, seperti Alina, kita juga pernah merasa bahwa menjadi orang lain selama beberapa jam terasa jauh lebih mudah daripada menjadi diri sendiri.
Resensi ini ditulis oleh Muhammad Reza Zwageri Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unmul 2022.