Resensi

Mencari Makna Hidup Melalui Logoterapi

Dalam buku Man's Search for Meaning, Frankl membawakan konsep logoterapi, sebuah terapi dengan fokus pada pencarian makna hidup sebagai motivasi utama manusia

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Bagaimana seseorang dapat bertahan hidup ketika seluruh alasan untuk hidup telah direnggut? Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab Viktor Frankl melalui bukunya, Man's Search for Meaning

Dalam buku ini, Frankl membawakan konsep logoterapi, sebuah terapi dengan fokus pada pencarian makna hidup sebagai motivasi utama manusia. Pengertian ini sejalan dengan istilahnya, di mana "logos" dapat diartikan sebagai makna dan "therapy" dapat diartikan sebagai terapi.

Terapi ini muncul dilatarbelakangi oleh masa lalu Frankl yang merupakan seorang tawanan di kamp konsentrasi pada tahun 1942. Kamp konsentrasi merupakan tempat genosida paling dikenal di dunia, diperkirakan telah menewaskan sebanyak 1,1 juta orang selama kurang dari lima tahun keberadaannya. 

Sebelum masuk ke dalam kamp ini, Frankl merupakan seorang psikiater dan neurolog yang baru saja menginjak sembilan bulan pernikahannya. Namun, karier dan kisah cintanya harus ia relakan. Hari-harinya justru diisi dengan perlakuan tidak manusiawi selama berada di kamp. 

Saat itu, hanya sedikit orang yang dapat bertahan hidup dari kamp konsentrasi. Kebanyakan dari mereka tidak dapat bertahan karena rasa lapar dan penyakit yang muncul selama berada di kamp. Bahkan, ayah Frankl sendiri harus meninggal karena kelaparan dan sebuah penyakit bernama tifus.

Pada saat itu, diri Frankl dipenuhi oleh berbagai perasaan, seperti sedih, takut, tidak berdaya, dan marah akibat penderitaan yang ia dapat selama berada di kamp. Hingga suatu hari, Frankl menyadari bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk mengubah takdir dan situasi yang ia dapatkan.

Namun di samping itu, Frankl juga menyadari bahwa ada satu hal yang dapat ia lakukan sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas (free will), yaitu mengubah berbagai perasaan negatif yang masuk ke dalam dirinya menjadi sebuah makna baru. 

Dari sinilah logoterapi muncul sebagai bentuk perlawanan Frankl terhadap penderitaan yang ia rasakan.

Logoterapi membuat Frankl kembali mencari pemaknaan di balik tragedi yang menimpanya. Ia percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan bagaimana diri mereka merespons keadaan yang hadir. 

Saat itu, Frankl menepis penderitaannya dan mengganti kebermaknaan hidupnya melalui harapan untuk bertemu dengan istrinya kembali. Kebermaknaan inilah yang membuat Frankl menjadi kuat dan dapat bertahan dari kamp konsentrasi setelah tiga tahun lamanya. 

Menurut Frankl, kebermaknaan dalam hidup dapat ditemukan melalui tiga cara, yaitu karya atau tindakan, pengalaman atau cinta, dan sikap terhadap penderitaan.

Pada akhirnya, buku ini mengajarkan bahwa makna hidup tidak hanya dapat ditemukan dalam kebahagiaan. Makna hidup juga dapat ditemukan dari penderitaan dan hal-hal sederhana yang kita hargai keberadaannya. 

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi tuntutan dan tekanan, banyak orang merasa kehilangan alasan untuk terus melanjutkan langkahnya. 

Pemikiran Frankl mengajak kita semua untuk menemukan makna hidup di balik peristiwa yang kita hadapi. Manusia tidak selalu dapat mengendalikan keadaan yang menimpanya, tetapi manusia selalu memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia akan memaknainya. (rgf/aya)




Kolom Komentar

Share this article