A Star Is Born: Siklus Bersinar dan Meredupnya Seorang Bintang

A Star Is Born: Siklus Bersinar dan Meredupnya Seorang Bintang

Sutradara: Bradley Cooper

Produser: Bradley Cooper, Todd Phillips, Bill Gerber, Jon Peters, Lynette Howell Taylor

Skenario: Eric Roth, Bradley Cooper, Will Fetters

Berdasarkan novel A Star Is Born oleh William A. Wellman, Robert Carson, Dorothy Parker dan Alan Campbell

Pemeran: Bradley Cooper, Lady Gaga, Andrew Dice Clay, Dave Chappelle, Sam Elliott

Perusahaan Produksi: Warner Bros. Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, Live Nation Entertainment, Gerber Pictures, Peters Entertainment, Joint Effort

Distributor: Warner Bros. Pictures

Tanggal Rilis: 31 Agustus 2018 (Festival Film Venesia), 5 Oktober 2018 (Amerika Serikat)

Durasi: 136 menit

SKETSA – Menjadi seorang idola dengan kehidupan yang sempurna seperti apa yang ditampilkan di layar kaca tidaklah menyenangkan. Kegelisahan, kerapuhan, dan rasa sakit menyelimuti dibalik tangkapan kamera yang memperlihatkan kemewahan.

Jack (Bradley Cooper) hidup dari panggung ke panggung demi menyalurkan bakat terpendamnya melantunkan nada-nada dan lirik-lirik yang diciptakannya. Sebagai seorang bintang, Jack memang selalu mampu memberikan yang terbaik kepada penggemarnya. Setiap pertunjukannya, selalu ramai ditonton oleh para penggemar.

Namun, pada satu sisi, Jack adalah sosok yang rapuh. Ia tidak pernah bisa berhenti dari kecanduan alkohol. Jerat yang tidak bisa dilepaskannya ketika ia masih punya kesempatan terbaik untuk berubah. Kakaknya, Bobby (Sam Elliott) pun tak mampu berbuat banyak. Sebagai sosok yang lebih dewasa, Bobby bahkan merasa ada yang hilang dari Jack.

Apalagi, bertambahnya usia, justru membuat Jack seperti semakin 'lepas kendali'. Candunya dan cintanya kepada musik tidak pernah berhenti. Hanya saja, bukan gitar yang menjadi pendorongnya dalam melepaskan hasrat. Ada hal yang lebih dari gitar, panggung dan penonton yang seharusnya bisa membuat Jack melepaskan hasratnya, yakni cinta.

Kedatangan Jack di sebuah bar mengubah segalanya. Ia melihat “masa depan”. Masa depan yang bisa menjadi harapannya dalam melantukan candu menjadi sebuah nada-nada yang penuh cinta dan semangat. Candu untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi dari sekarang.

Masa depan itu bernama Ally (Lady Gaga). Seorang pegawai restoran yang menyalurkan bakatnya dengan bernyanyi di bar. Ally yang tidak pernah menyelesaikan lagunya selalu ragu tentang kemampuannya sendiri. Ia hanya mengadu pada nada-nada yang ada di kepalanya. Tak pernah ia lakukan secara serius. Akan tetapi Jack tak ingin kumpulan melodi tersebut hanya bersemayam di dalam pikiran Ally.

Jack yang seorang musisi membantu mewujudkannya dengan mengajak Ally mengarungi dunia bersamanya melalui tur konser musik yang diselenggarakannya. Dari sebuah konser dunia lahirlah seorang bintang yang ingin memperlihatkan "dirinya" kepada mata dunia. Dua karakter yang bertolak belakang dalam hal karier ini bertemu memperlihatkan kepada khalayak dua sisi yang saling berkesinambungan munculnya sosok bintang baru dan mulai redupnya sinar sosok bintang lama.

Hidup adalah nada-nada. Dari satu nada ke nada lainnya pasti berbeda, namun sebuah harmonisasi nada tetaplah harus dijaga, agar yang mendengarnya tak berpaling begitu saja. Begitulah gambaran cerita dari film A Star is Born. Bagaimana ketika  seorang rockstar seperti Jack yang terbiasa diberikan tepuk tangan mendapatkan cemooh ketika ia diketahui memiliki permasalahan "kecanduan alkohol".

Film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya William A. Wellman ini mengajak dan mengedukasi penonton agar meningkatkan "kepekaan" terhadap orang-orang terkasih di sekitar kita, tidak semua orang yang terlihat keadaannya baik benar-benar "merasa baik" dan ketika depresi melanda, mereka membutuhkan kehadiran kita untuk merasakan hangatnya kasih dan merasa berharganya diri mereka. Kasus hilangnya kepercayaan dan "nilai" diri pada film ini, banyak membunuh "jiwa" setiap insan dewasa ini. Film yang diproduser sekaligus disutradai oleh sang bintang sendiri yakni Bradley Cooper ini memberi pesan yang dikemas melalui scene-scene yang membuat penonton hanyut dalam emosi dan seolah merasakan karena cerita yang diangkat pun seperti realita pada kehidupan sehari-hari. (syl/fqh)