Sewindu Bertanya

Sewindu Bertanya

Sumber Gambar : Istimewa

Entah bagaimana ujung kisah ini akan berakhir,

Mempersiapkan ikhlas sepertinya pilihan yang paling mutakhir.

Lebih dari pada sebuah tali gantung,

Aku dan kamu masih berusaha mempererat simpul yang hm,

berapa kali ia melonggar (?)

Sekali? Dua, tiga, empat (?)

Sudah tak hingga sepertinya selama hampir setengah windu.


Aku tidak sedang bermain dengan ketulusan.

Benar- benar ku persembahkan untuk menghadapi kamu yang

hm, dominan berlogika (?)

Pada renungan 5 purnama lalu, mungkin (?)

aku menyadari sebuah hal bahwa

memang tak bisa ia bersimpul sekuat selamanya

Pun harus bersiap pada kapan ia harus terlepas atau dipaksa lepas.

Tapi sekarang belum saatnya kan(?)

Aku masih tidak ingin.

Meresahkan juga tak mendengar kabarmu walau hanya 3 jam (?)

Haha karna kamu pasti akan memberi kabar walau itu dikuasai setengah kantuk.


Aku berusaha mengingat batas batas.

Walau terkadang kamu tidak ingat dan dikuasai emosi yang lepas.


Sudah terlalu panjang.

Katamu, aku pandai merangkai kata. Sedang kamu bodoh bermain di dalamnya.

Kurasa kita perpaduan yang tepat bukan? Konsep berpikirmu ku tuangkan sempurna dalam aksara yang dapat dicerna pendengar kita.

Ini adalah peringatan juga. Manusia memang tidak boleh diciptakan sempurna melainkan Tuhan. Pun sama dengan aku dan kamu.

Sempurna kita harus ada cacat didalamnya kan (?)

Dan batas itu ku nilai menjadi sebuah cacat yang indah.

Ditulis oleh Nanda Billah Aliffia, mahasiswa Tekonologi Hasil Pertanian, Faperta 2018.