Keluar dari Goa Menuju Cermin Baik
Kakiku melangkah ke cermin kebaikan.
Sumber Gambar: Pinterest
Berjalan dengan pandangan kosong.
Napas dihela berat.
Tampilan gulita tak bercahaya.
Bulan yang ingin menerangi, selalu ku abaikan.
Harmoni jiwa hilang, sengaja tak ku kembalikan ke dalam diri.
Membiarkan kesedihan membara membakar aura.
Tak peduli suara bisik makian orang lain.
Melangkah menuju goa.
Semakin gelap tiada cahaya.
Kakiku meninggalkan jejak darah.
Tubuhku juga berpasrah.
Di dalam goa ku hanya berdiam diri.
Melamun, kosong kepala.
Membiarkan goresan semakin banyak.
Bulan pun lelah menegurku.
Labirin berbisik kepadaku: Kamu pengecut. Hidupmu benar-benar sampah.
Lama ku berada di dalamnya.
Berisi pikiran menjadi merenung.
Detik demi detik, ku tersadar sendiri.
Rencana kematian sudah meninggalkanku.
Perlahan ku keluar dari goa.
Namun labirin mendampingiku.
Di luar, cahaya bulan bersinar terang.
Mengiringiku menuju pintu cermin rahasia.
Di saat hilang arah, ia mau menuntunku.
Berperang antara logika dan rasa.
Ingin kembali ke kegelapan, namun sengaja menolak dengan sadar.
Lebih tepatnya, aku menyadarkan diri.
Agar tak kembali ke cermin buruk lagi.
Ada hal yang baru ku sadari:
Kota ini masih menerimaku.
Manusia tak seburuk yang aku pikirkan.
Banyak kebaikan yang datang jika tak terlalu memikirkannya.
Singgah hal buruk? Aku tak peduli. Aku tetap melangkah.
Menjalani hari-hari biasa dengan rasa campur aduk.
Namun wajah dan hatiku sekarang bisa berbohong.
Bahwa aku baik-baik saja.
Puisi ini ditulis oleh Lola Setia Hidayani, mahasiswa Program Studi Kehutanan FKLT Unmul 2023.