Puisi

Seorang Pengacara Kepada Kliennya

Aku pengacara kalian, Tuan-tuan

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Aku pengacara kalian, Tuan-Tuan
Dan aku tak akan membicarakan segala kerahasiaan Anda
Karena itu melanggar sumpahku
Jadi jangan takut tentang hal itu

Misalkan,
Tentang pajak yang tak pernah Anda bayar
Yang jumlahnya mengakibatkan kerugian negara
Sehingga ratusan juta anak-anak tanpa pendidikan
Tidak ditanggung oleh negara
Sebab, Anda lebih memilih menyogok petugas pajak
Ketimbang menjadi warga negara yang taat
Karena negara pun tak taat pada rakyat miskin, petani, buruh, nelayan, ibu rumah tangga dan pada Tuhan.

Tapi,
Aku pengacara kalian, Tuan-Tuan
Dan aku telah disumpah di bawah kitab suci
Dengan kalimat yang diucapkan secara khidmat
Seperti seorang penyair membacakan puisi yang dituduh subversif
Sesaat sebelum dinyatakan hilang dalam hutan kabut jutaan hektar yang menjelma perkebunan sawit dan tambang-tambang tandus pada rezim otoritarian

Jadi,
Jangan cemas tentang harta kekayaan
Yang tak diketahui oleh negara dan istri-istri Anda
Seperti ratusan mobil mewah
Atau vila mewah di pulau tak bernama
Yang tersembunyi bersama puluhan wanita berbikini
Yang kau cumbui pada malam di mana botol minuman beralkohol beraneka ragam, dansa setengah mabuk, alunan DJ, dosa-dosa bertaburan di langit hitam kala para istri bermimpi ke surga
Atau tentang beberapa kasus pelanggaran hukum

Yang dilakukan anak-anak Anda
Dan sebagiannya lagi adalah kasus Anda
Yang bertumpuk di kantor kejaksaan
Yang hangus terbakar oleh ketidaksengajaan pegawainya
Lalu para hakim-hakim itu lupa
Dan bertanya-tanya
Sampai dikutuk sumpahi ratu adil
Esok hari siapa yang akan dihukum?!
Tuan-Tuan sekalian

Ingat!
Aku seorang pengacara
Bukan hakim apalagi polisi
Pun jaksa
Gajiku bukan dari pajak rakyat
Melainkan, sebagian pajak rakyat berasal dari gajiku
Aku tak mengemis kepada mereka
Kecuali saat tagihan menunggak
Dan siapapun yang datang kepadaku
Akan kubela dari hukuman kitab undang-undang buatan penjajah
Sekalipun ia iblis
Karena aku seorang pengacara
Bukan hakim apalagi Tuhan
Yang menendang pantatmu masuk ke dalam penjara dan neraka!

(Samarinda, 5 Juni 2024)

Puisi ini ditulis oleh Muhammad Fajrul Karnivan, Mahasiswa Ilmu Hukum, Fakultas Hukum angkatan 2022




Kolom Komentar

Share this article