Puisi Senja

Puisi Senja

Sumber Gambar : Istimewa

Pendar senja merekah di sebelah barat.

Kilaunya menghipnotis berjuta kornea.

Kupejamkan sejenak sepasang mata.

Menghirup hawa senja yang terasa hangat.


Kusapu ilalang dengan tangan kanan.

Kupandang angin yang menyapu gumpalan.

Melangkah perlahan sambil menikmati kicau burung di antara pepohonan.


Suaranya menenangkan.

Hawanya menyenangkan.


Sekejap kemudian sunyi datang.

Gemerlap bintang menggantikan.

Ditemani temaram rembulan,

Aku masih di sana.


Dan aku kembali memejamkan mata.

Menghirup hawa malam yang dinginnya kian terasa.

Kueratkan genggaman pada secangkir arabika.


Khayalku berkelana.

Pikirku penuh rencana.

Harapan kecil nan sederhana yang menunggu untuk diwujudkan.


Belum kutemukan seorang,

Yang kuharapkan agar hadirnya mengabadi di antara hati.

Yang ketika berbincang dengannya waktu terasa ingin berhenti.

Yang ketika renyah tawanya membuatku terasa tuli.

Yang ketika pancar matanya menjadi poros dunia.


Gelas kopi masih terasa hangat.

Katak dan jangkrik melanjutkan nyanyian.

Kudengar, senandung angin mulai mengusik.

Membuatku serasa ditelisik.


Di kejauhan, kuamati benderang sinar yang menyala.

Lagi,

Khayalku melanglang buana.

Tunduk pada suasana yang nyata.


Kali ini, hadirmu dapat kurasa, seperti nadi yang sejengkal jaraknya.

Kau rebahkan suraimu di pangkuan.

Jemariku membelai lembut benang kepala.

Senyum terukir di wajahmu, juga wajahku.

Kau dan aku membisu.

Bersama terpejam, sambil bernafas dan menghirup aroma.

Sekarang, kehangatan tak terpancar hanya dari secangkir arabika.

Genggamanmu juga menghangatkan.

Erat-nya menenangkan, tak ingin kulepas.


Kau tersenyum.

Lagi, lagi, lagi.

Membuatku menjadikanmu sebagai poros dunia.


Lalu, korneamu terbuka.

Memandang, menusuk bola mata.

Kau membuatku terkunci pada satu titik pandang.

Hingga kurasa waktu berhenti berdentang.

Tatapmu masih menyelidik,

Mencari cinta?

Atau apa?


Romansa yang tercipta. Tidakkah kau menyadarinya?

Masihkah kau ingin bertanya?

Ayolah... Hatimu dan Hatiku sudah berkonsorsium.

Saling memancarkan endorfin dan serotonin yang menjadi candu.

Dopamin menguar dengan dahsyat di antara kau dan aku.


Kau bangkit, lalu duduk bersanding.

Membuka topik perbincangan seperti kemarin.

Bosan? Belum kurasakan.

Semoga ia tak pernah hadir di antara kita.


Lagi, obrolan kita membunuh waktu.

Senyum hangat tetap terpancar dari wajahmu, juga wajahku.

Kau bilang, indahnya alam tak mendua.

Eloknya ada padamu sebagian.

Kau kan bagian dari alam?

Bagai angin yang menyejukkan,

Mentari yang menghangatkan,

Juga,

Rembulan yang sinarnya terpancarkan.


Aku berkata,

Kalau boleh, aku ingin habiskan hidup berdua.

Ditemani sabana yang sunyi dan menenangkan.

Diiringi decitan ubin kayu yang berbunyi ketika melangkah.

Duduk di selasar,

Ditemani wangi roti di samping secangkir kopi.

Lalu melanjutkan bincang yang tiada akhir.

Hingga nanti, waktu yang memisahkan.


Kau bangkit, mengulurkan tangan.

Kusambut dan kugenggam.

Langkah kaki kita melaju, beriringan.

Kau dan aku melangkah,

Bersama menguatkan.

Berjalan menuju satu titik pengembaraan.

Ditulis oleh Nanda Billah Aliffia, mahasiswa Teknik Hasil Pertanian, Faperta 2018.