Menjemputmu dari Aksi Massa

Menjemputmu dari Aksi Massa

Sebelum terlelap tanpa izin pada terang lampu kamar.
Engkau berkata esok harus turun kumpul.
Bersenda gurau dengan mereka yang gemar bergurau.
Sambil membawa gambar-gambar dan tulisan-tulisan angkara.

Aku menolaknya dan memintamu tidak turunkan kaki.
Sebab lebih buruk mimpi engkau kenapa-kenapa.
Ketimbang naiknya harga minyak.
Tapi kau tak bisa berbuat lebih.
Ingin hidupmu untukku.
Tapi kaki-kakimu terpenjara dalam jabatan.
Terpenjara dalam amanah.
Terpenjara dalam sumpah.

Kupaksa kau untuk kujemput dalam setengah teriakan mereka.
Kau setuju dan hilang setelahnya ditelan lilin-lilin.

Esok.
Setengah hati kau berangkat.
Sedang aku sudah memutari berkali-kali tempat kau dengan mereka berteriak-teriak, nanti.
Memastikan khawatir tidak terlalu besar.
Memastikan jalanmu aman.

Tapi aku benci harus mengakui.
Penjaga keamanan negeri dimana-mana.
Mereka menikmati secangkir kopi di warung.
Tapi mata mereka mengawasi yang jauh.

Kesana lagi.
Penjaga ketertiban negeri berkumpul.
Melaksanakan instruksi pimpinannya.
Melakukan persiapan jika ada mulut-mulut sampah.
Yang mengganggu.

Padahal kau jauh di sana.
Masih menunggu yang tinggi dengan teknis-teknisnya yang nakal.
Yang gemar telat dan suka basa-basi.
Yang hobi lupa dengan agama yang tidak mengajarkannya untuk tidak tepat waktu.
Sambil tanganmu tentu tak berhenti.
Menerima dan membaca pesan-pesanku untuk mengurungkan diri.

Tapi.
Lagi-lagi kau bilang tak bisa.

Aku lalu menuju tempat orang-orang bersujud.
Tidak jauh dari sana.
Menunggu kabarmu tuk dijemput.
Karena kau bilang telah bergerak.
Tanpa kau sadar.
Tangan-tanganku bergetar kuat.
Tak karuan-menunggu.

Hingga panggilan memintaku mengambil penyuci.
Sejenak berusaha tenang bersama di bawah doa.
Lantas pada bagian akhir kulekaskan.
Berdiri dari barisan dan menuju tempat kendara.
Sebab pesan terakhirmu yang lambat kubaca.
Segera membuatku tak bisa mencium aroma.
Tidak bisa merasakan detaknya detik yang menyetak roma.

“Mereka menjadi api. Memanas seperti distrik 12.”
Kau ada di antaranya.

Berulang-ulang angka tentangmu kutekan.
Tak ada jawaban.
Sampai akhirnya kau menepi, tapi tak jauh.

“Keluar dari sana. Aku ambil.”
“Tak bisa. Aku ditahan.”
“Siapa yang berani? Jika terjadi sesuatu. Tak ada segan untuk mereka.”

Lantas kau diam dengan suara aneh yang tidak pernah kau dengar.
Kau menyingkir segera.
Menutup kuping meski banyak yang meminta.
Keluar dari sarang-sarang bedebah.
Kuhampiri dengan roda-roda yang kau peluk.

Kuminta kau melepas yang kau kenakan dan kau banggakan itu.
Kuberikan kau penutup yang kupakai.
Menyamarkan dirimu dengan pakaian lain.
Kau masukkan yang kau banggakan itu ke dalam tas.

Kita tinggalkan aksi massa.

Kau memelukku erat dalam kata.
Menciumku dalam penuh sergah maaf.

“Aku tak tahu kalau kau seserius itu. Tegas.”
Lantas aku meminta maaf atas suara-suara.
“Tak apa.”
Siang jadi bukti untukmu.
Bahwa aku yang separuh.
Jadi sempurna karena kau.

Ditulis oleh Malahira Nur Pratama, mahasiswi Ilmu Pemerintahan, FISIP 2014.