Malas

Malas

Sumber Gambar : Tumblr

Pagi hari baru tiba, namun langit telah menerima kabar buruk. Macet menjadi sorotan, lalu klakson berperan sebagai figuran jalan raya.

Sementara burung-burung pergi mencari nafkah, aku bergulat seperti cacing di dalam selimut. Aku bosan dengan seluruh omong kosong dunia yang dipertontonkan di televisi, radio, atau orasi mahasiswa yang kosong.

Malas adalah kawan, juga kekasih setia yang tidak pernah menyuruhmu bangun pagi untuk menanti dosen yang terlambat.

Aku ingin murka karena tanah ini telah menjadi tempat yang sangat tak ramah kepada diriku. Dunia bahkan mengeluh karena lelah untuk bekerja pada para laknat yang membangkang.

Aku menyaksikan hari libur dengan orang-orang berwajah senang dan hati palsu. Tak malukah mereka denganku, si pemuram yang tulus ini?

Hingga kemanusiaan kembali berkumpul, aku akan tetap berada di sini. Di dalam selimut ini.

Ditulis oleh Christnina Maharani, mahasiswa Akuntansi, FEB 2017.