Puisi

Kavaleri

Namun aku menatap balik sang bayang, Luka di dada tak memadamkan terang.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Wikipedia

Sang hulubalang telah berkumandang,
Pertanda penentang kian menjelang.
Menunggang kuda, mengusung senjata, Melaju kencang ke medan perang,
tiba waktunya takdir ditantang. 
Di tengah garis peperangan, 
kejutan tak terduga jelas terpampang.
Tiba-tiba darah mengalir kencang, 
lubang di dada menyisakan kenangan.
Ia tertikam oleh pedang,
hadiah getir dari sang penentang.
Lalu terjatuh dari kuda tunggangan, 
tubuhnya rebah, sunyi, terlentang.
Bayang-bayang terus bergentayang,
memutari kepala yang tak kunjung hilang.

Lalu sang bayang berbisik tenang
"Matilah, tinggalkan ragamu dan jangan lagi mencoba membangkang"

Namun aku menatap balik sang bayang,

Luka di dada tak memadamkan terang.

Lalu aku berkata,

“Aku belum selesai,” ucapku pelan,
“Takdirku bukan untuk kau kendalikan.”

Puisi Ini Ditulis oleh Atika Nur Arianti, mahasiswa Program Studi Akuntansi FEB Unmul 2025.



Kolom Komentar

Share this article