Hari Ini, Puisi Begitu Dihargai

Hari Ini, Puisi Begitu Dihargai

Hari ini, puisi begitu dihargai

Semenjak siang, seorang tukang puisi baru saja diberi gelar jabatan sebagai sastrawan

Oleh anak sekolahan. Tukang puisi yang kerjanya hanya mengurus puisi-puisi yang belum jadi milik orang lain itu diundang ke sebuah tempat yang di mana pernah ditulis dalam puisi yang berjudul “Kepada Instastory yang Agung”.

Ia dikeroyok oleh empat perempuan berhijab yang diutus untuk menuliskan sebuah biografi, dan terpilihlah si tukang puisi

Panjang lebar ia menjelaskan, dan panjang lebar juga harapan untuk si pemberi utusan.

Empat anak sekolah yang kepingin menjadi penulis. Namun, masih malu-malu untuk eksis

Matahari yang menepi ke barat itu sebelumnya bersembunyi di balik ketiak awan-awan. Pekat. Gelap

Dan celana hitam yang dikenakan tukang itu menjadi becek penuh desas-desus puisi yang minta disentuh ketika malam sudah mulai berani menunjuk kema(l)uannya

Malam yang seperti malam kemarin, ditemani aroma hujan yang sangat dicintai oleh orang-orang galau. Ia kembali menjadi tukang di sebuah tepi sungai yang semerbak aromanya

Mula-mula malu-malu. Hanya berniat untuk mencari ilmu baru, tapi setelah itu ia ditunjuk untuk menjadi seorang yang berilmu dengan disodorkan sepiring hangat pisang keju berlapis susu

Coba kita malam ini menulis puisi di sini. Sebab kita berada di antara ketenangan dan hingar-bingar  yang syahdu untuk berduaan, orang itu berbahagia

Tukang puisi yang sebenarnya masih malas untuk menguli, mau tidak mau harus membangunkan Ima dan Ji. Kemudian tercetuslah sebuah puisi

Di  Antara Pisang Keju

 

Di  antara pisang yang pasrah direndam

Kemudian  ia melemas dan lemah diperas

Dan  dibunuh besi berjari tiga

 

Kisah-kisah  para yang terbang

Kemudian  berbicara dengan seenak sempoyongan, ada yang terselip di antara telu tengah

 

Di  antara pisang yang bermesraan dengan sapi-sapi

Tak  bisa bersandar, bajuku sudah terlalu hitam untuk menjadi sesuatu yang legit nan  genit

 

Ada  seseorang membaca puisi di dalam telingaku

Yang  kiri berbicara rindu. Yang kanan berbicara abu-abu

 

Aku  dibujuk untuk menikmati yang tenggelam

 

Tukang puisi kemudian hanyut bersama puisi-puisi yang direnovasi akibat tidak mulusnya pondasi

Ia kemudian mengingat sesuatu,

besok harus menjadi kuli lagi pagi-pagi

Setiba di muka rumah, tukang puisi itu menyelutuk

Sialan, padam lagi

Ditulis oleh Panji Aswan, Mahasiswa Sastra Indonesia, FIB 2012.