Sopan karena Takut: Lingkaran Kepatuhan dan Ilusi Solidaritas di Kampus
Pengkaderan kampus kerap dibungkus sebagai pembentukan mental dan etika. Namun, ketika rasa hormat dibangun lewat ketakutan, apakah mahasiswa benar-benar belajar menjadi lebih kritis dan mandiri?
- 11 Sep 2026
- Komentar
- 41 Kali
Sumber Gambar: WW Norton
Semester satu adalah masa paling melelahkan dalam hidup saya. Sebagai mahasiswa baru yang baru saja lulus SMA, saya langsung menghadapi banyak praktikum, laporan yang datang terus-menerus, dan perubahan cara belajar yang sangat berbeda.
Tapi, bukannya dibimbing untuk menyesuaikan diri dengan suasana akademis, tenaga saya malah habis untuk hal-hal yang membingungkan. Saya harus mencari tanda tangan senior, wajib menyapa setiap kali lewat di koridor, dan bertahan di forum.
Selain itu, tenggat laporan praktikum dan proyek dosen juga jadi kacau. Selalu saja ada tugas yang tidak selesai. Saat itulah saya sadar, ada yang salah dari cara kita memandang "kehidupan kampus".
Pengalaman pribadi ini ternyata bukan hanya cerita saya saja. Di tengah ambisi kampus-kampus di Indonesia yang ingin mencetak generasi berpikir kritis dan punya ide baru, tradisi pengkaderan informal setiap tahun tetap berjalan dengan cara yang sangat kuno.
Setiap awal tahun ajaran, pertunjukan yang sama selalu terjadi. Mahasiswa baru dikumpulkan saat mereka sudah lelah dengan “Kehidupan Kampus”.
Mereka dibentak, diberi banyak tuntutan, dan dipaksa selalu siap setiap kali senior memanggil. Pada saat yang sama, tugas kuliah menumpuk, materi tetap berjalan, dan besok pagi kelas tetap dimulai tepat waktu.
Di balik semua cerita tentang “Pembentukan Mental”, ada pertanyaan penting yang jarang dibahas dengan jujur. Apakah pengkaderan kampus benar-benar membangun cara berpikir kritis, atau hanya memindahkan pola otoritarianisme lama ke generasi baru?
Sebab, kehidupan akademis seharusnya bukan hanya kepatuhan. Kampus adalah tempat mahasiswa belajar berpikir, menguji argumen, dan membentuk cara pandangnya sendiri. Kampus seharusnya menjadi benteng terakhir kebebasan berpikir. Tempat ini bukan tempat pertama di mana mahasiswa belajar tunduk pada ketakutan.
Oleh karena itu, keberhasilan suatu tradisi pengkaderan tidak cukup diukur dari seberapa "penurut" suatu angkatan. Keberhasilan juga dilihat dari apakah proses tersebut membentuk pola pikir yang lebih bijak, mandiri, dan beradab.
Namun, masalah ini tentu tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Fenomena senioritas toksik ini muncul bukan tanpa alasan. Ada kekhawatiran nyata di kalangan senior. Mereka takut tanpa proses kaderisasi yang tegas, mahasiswa baru akan tumbuh menjadi generasi yang cuek, tidak tahu etika dasar, dan kehilangan rasa hormat kepada kakak tingkatnya.
Di lapangan, memang ada mahasiswa baru yang melewati batas kesopanan dasar. Ada yang menyapa tanpa sopan, merasa tidak butuh arahan, atau menganggap keramahan senior sebagai kelemahan yang bisa diremehkan.
Di sinilah letak jebakannya. Saat ketakutan kehilangan adab dijawab dengan cara menakut-nakuti, yang muncul bukan rasa hormat yang asli, tetapi hanya kepatuhan palsu. Senior meminta dihormati dengan suara keras. Mahasiswa baru pura-pura sopan supaya tidak mendapat masalah.
Padahal, rasa hormat dan kepatuhan karena takut adalah dua hal yang sangat berbeda. Rasa hormat tumbuh dari kesadaran dan contoh yang baik. Sementara itu, kepatuhan yang muncul karena takut dibentak atau dikucilkan sebenarnya hanya cara untuk menghindari masalah. Etika yang ada saat pengawasan senior adalah etika yang palsu.
Masalah menjadi lebih rumit saat dikaitkan dengan mitos solidaritas. Banyak orang bilang, penderitaan bersama akan membuat angkatan menjadi lebih erat. Memang, beban berat bisa membuat orang lebih dekat. Namun, itu tidak berarti trauma harus dibuat dengan sengaja supaya sebuah angkatan saling mengenal.
Kalau tujuannya memang membangun kedekatan, bukankah itu bisa dilakukan lewat kerja kelompok, proyek akademik, atau kegiatan sosial? Tidak harus lewat bentakan atau tekanan fisik.
Tapi kalau mau jujur, teori idealis di atas kertas sering kali gagal saat bertemu realitas di lapangan. Ajakan untuk berani menolak ospek atau nekat memboikot pengkaderan itu sebenarnya cukup aneh untuk dipraktikkan.
Bagi mahasiswa baru, bersikap sok pahlawan atau terang-terangan menolak arus itu terlalu mahal. Menolak ikut forum berarti siap diisolasi secara sosial. Mahasiswa juga akan kesulitan saat butuh informasi perkuliahan. Mereka bisa dicap pembangkang oleh satu angkatan. Bahkan, mereka bisa dibuat tidak tenang sampai masa kuliah berakhir.
Pilihan yang ada di dunia nyata bukan antara "berani" atau "penakut". Pilihannya adalah "kompromi demi keselamatan sosial" atau "idealis tetapi menderita sendirian". Jadi, sangat masuk akal jika sebagian besar mahasiswa baru, termasuk saya dan teman-teman, memilih jalan yang paling aman.
Kami tetap datang ke forum. Kami tetap mengangguk saat dievaluasi. Kami tetap minta maaf meskipun tidak bersalah. Bukan karena tiba-tiba setuju dengan sistemnya. Kami hanya ingin bertahan, menyelesaikan kuliah, dan lulus tanpa drama yang tidak perlu.
Lingkaran setan ini mungkin tidak akan runtuh hanya karena tulisan ini. Tradisi serupa sangat mungkin tetap ada di tahun-tahun mendatang.
Namun setidaknya, kita harus berkompromi bahwa kita tidak perlu langsung menerima doktrinnya dalam pikiran. Kita tetap bisa hadir untuk menjaga posisi. Sambil itu, kita sadar bahwa semua itu hanya sandiwara formalitas.
Dan yang paling penting, nanti saat kita menjadi senior dan memegang kendali, kita tidak perlu membalas dendam masa lalu kepada adik tingkat berikutnya.
Kita tetap bisa mengajarkan etika dan sopan santun tanpa harus menjadi trauma yang dulu pernah kita benci.
Opini ini ditulis oleh Abimanyu Putra Nugroho, mahasiswa Teknik Elektro FT Unmul 2025.