Bagian Tiga: Panglima Legenda Talawang

Bagian Tiga: Panglima Legenda Talawang

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

"Berapa lama aku pingsan?" Pune terbangun dan menatap langit - langit rumahnya. 

"Dua hari," jawab Feronika sembari mengobati luka pada tubuh Pune. 

"Apa kau tahu bagaimana Ferdinan mendapat perisai itu?" tanya Pune yang sempat terdiam beberapa saat. 

"Perisai?" tanyanya. 

"Perisai Talawang. Perisai yang ia gunakan untuk mengalahkanku," Panglima mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.  

"Ferdinan memang suka mengoleksi barang-barang antik. Tapi, aku tidak mengetahui apapun tentang perisai," jawab Feronika. 

"Itu bukanlah barang antik. Perisai itu merupakan sebuah legenda. Kakekku pernah menceritakan tentang perisai itu. Beberapa hari yang lalu aku masih mengira itu hanyalah mitos," Pune mengerutkan alisnya tanda tidak percaya. 

"Benda itukah yang telah melukai anda seperti ini?" tanya Feronika itu. 

Pune mengangguk dan bangun dari istirahatnya. 

"Benda itu memberikan kekuatan Panglima kepada siapapun yang memakainya. Kekuatan, kelincahan, dan daya tahan. Aku bahkan tidak bisa melacak Agni. Kemungkinan terhalang oleh kekuatan perisai itu," Pune berbalik ke arah Feronika.

"Di tengah pertarungan kami, Ferdinan menceritakan apa yang terjadi dengan ayahnya," Pune memastikan.

Raut wajah Feronika menjawab keraguan Pune. 

"Jadi kau sudah tahu? Selama ini aku mengira semuanya hanya perihal hewan - hewan buruan itu. Ternyata ini jauh lebih rumit dari yang kukira," Pune berjalan ke halaman rumahnya dan diikuti oleh Feronika.

"Ferdinan benar. Kemanapun aku melangkah, selalu diikuti jejak darah dan mimpi buruk. Apa yang terjadi pada Agni adalah salahku. Kau tahu? Terkadang aku berharap tidak pernah mendapat kekuatan ini," Pune menatapnya dengan berkaca-kaca. 

"Perbuatan kita di masa lalu tidak menentukan masa depan kita, tetapi perbuatan hari ini, Pune," hibur Feronika. 

"Kau lihat itu?" Pune menunjuk ke tengkorak Burung Enggang di atas pintu rumahnya. 

"Dia seharusnya bersama kita sekarang. Perbuatanku pada masa lalulah yang membunuhnya. Aku bahkan tidak tahu dimana Agni sekarang. Bagaimana jika itu juga terjadi padanya?" Pune duduk di hadapan Feronika.

Feronika menghela nafas, "Saat aku masih baru menjadi jurnalis investigasi, aku berhasil meringkus gembong narkoba terbesar di Melak. Sialnya, aku tidak sengaja membocorkan identitas pria yang menjadi narasumberku. Seminggu kemudian, aku mendapati berita ia dibunuh dan mayatnya ditemukan di area perkebunan Kelapa Sawit," Feronika berusaha menutupi kesedihannya. 

"Bertahun-tahun aku menyesali kejadian itu. Bahkan, aku sempat berhenti menjadi seorang jurnalis untuk sementara waktu. Lantas, aku memutuskan untuk melanjutkan hidup dan selalu menyisihkan setengah dari pendapatanku untuk keluarganya," Feronika menatap Pune. 

"Terkadang, berdamai dengan masa lalu adalah satu-satunya cara untuk memulai masa depan," Feronika tersenyum. 

Secercah harapan tergambar pada wajah Pune. Ia menyadari sesuatu. 

"Aku tahu dimana mereka berada," Pune bangkit dan berbalik ke arah Feronika. 

"Ferdinan berada di suatu tempat yang mengingatkan masa lalunya. Gudang para penebang kayu di daerah Nyuatan. Tempat kejadian yang menimpa ayahnya sepuluh tahun yang lalu. Tempat semua masalah ini berasal," ucap Pune. 

Feronika sadar Pune akan ke gudang itu dengan kondisi yang tidak memungkinkan. 

"Pune, anda baru saja dihajar habis-habisan olehnya. Bahkan, Panglima-pun tidak memiliki cukup tenaga untuk melawannya," Feronika menahan Pune. 

"Tenang saja, aku akan melakukan ritual Beliant untuk memulihkan kekuatanku. Sekaligus membantuku untuk melepaskan hubungannya dengan perisai itu," ucap Pune. 

Nyuatan terkenal akan keindahan alamnya. Surga bagi flora dan fauna Kalimantan. Pada salah satu titik, tampak sebuah gudang tua seukuran lapangan sepak bola. Gudang tersebut menyimpan berbagai macam kebutuhan untuk memproduksi kayu Ulin. Setelah sepuluh tahun, gudang milik Bura Husada itu akhirnya digunakan kembali. 

"Ia sudah tiba, tuan," ucap seorang pengawal melalui layar tablet dari kejauhan.

"Bagus. Aktifkan bom-nya. Jika aku gagal mengalahkannya, bom itu bisa menjadi alternatif," jawab Ferdinan bersama para pengawalnya dalam gudang tersebut.

Bom diaktifkan dengan estimasi hitungan mundur setengah jam. Panglima datang bersama Feronika yang memaksa ikut. Feronika yang memahami seluk-beluk gudang itu mungkin dapat membantu mencari Agni. Kedatangan mereka disambut oleh tatapan para pengawal dengan senapan pada dada mereka. Nampaknya, kedatangan mereka telah dinantikan. Para pengawal menunggu arahan lebih lanjut yang tak kunjung diberikan oleh Ferdinan. Sesampainya di dalam, Panglima dan Feronika disambut oleh Ferdinan dengan para pengawalnya. 

"Sudah berapa kali kau mencoba menjatuhkanku, Feronika? Dan sekarang kau bersekutu dengan kriminal? Dimana kode etikmu sebagai jurnalis, Feronika?" Ferdinan memasang Talawang pada tangan kirinya.

Feronika tidak menjawab.

"Talawang itu bukan milikmu, Ferdinan. Kau tidak berhak memilikinya," ucap Panglima. 

"Aku terkesan kau masih mengingat gudang ini. Terlebih lagi, tragedi itu sudah sepuluh tahun lamanya, Pune," ucap Ferdinan dengan mata merah akibat pengaruh Talawang yang digunakannya.

"Bebaskan Agni. Dia tidak tahu apapun tentang ini," Panglima mengalihkan.

"Maka inilah saatnya Agni untuk tahu sosok asli suaminya," ucap Ferdinan diikuti masuknya puluhan pengawal dari luar. 

Jumlah pengawal bertambah berkali-kali lipat. Panglima sadar situasinya sangat tidak menguntungkan. Melawan Ferdinan sendirian pun cukup sulit, apalagi ditambah para pengawal itu. Sesuai rencana, Panglima akan mengalihkan Ferdinan dan pengawalnya sementara Feronika akan membebaskan Agni. Panglima memberikan kode yang langsung dipahami oleh Feronika untuk berlindung. 

"Tidak ada yang harus terluka hari ini, Ferdinan." ucap Panglima. 

Ferdinan tersenyum dan memberikan perintah para pengawalnya untuk menyerang. Pertarungan semakin sulit mengingat Talawang menetralisir Mandau terbang milik Panglima. Ia hanya dapat menggunakan dua bilah Mandau pada genggamannya. Ferdinan hanya menyaksikan dari jauh. Situasi sempat menguntungkan Panglima, tetapi para pengawal yang terlalu banyak membuatnya kembali tersudut. Panglima terjatuh dan Ferdinan datang mendekat.

"Kau tahu? Kita tidak jauh berbeda, Pune. Kita sama - sama ingin menyelamatkan hewan-hewan itu," Ferdinan berjongkok dan memegang kepala Panglima yang setengah tersadar. 

"Kau tahu yang membedakan kita berdua, Ferdinan?" tanya Panglima dengan senyum di wajahnya. 

Ferdinan tertegun.

"Aku belajar untuk memaafkan," lanjut Panglima.

Puluhan ekor Bekantan dan Burung Enggang menyerbu ruangan. Bahkan, Macan Dahan yang dianggap hampir punah turut menyerbu dengan jumlah yang tidak terhitung. Para pengawal terkejut. Tetapi, tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Ferdinan terlindung oleh kekuatan Talawang yang membuatnya terjaga dari serangan para hewan. Para pengawal menjadi santapan bagi para hewan-hewan tersebut. Para bekantan dengan cerdas merebut senjata mereka. 

"Kau ingat mereka, Ferdinan?" Panglima tersenyum.

Ferdinan dengan rautnya yang kemerahan turut menggambarkan emosinya.

"Sekarang pertarungan seimbang," tutur Panglima dalam hati. 

Bersambung 

Ditulis oleh F. Sandro Asshary, mahasiswa Sastra Inggris FIB 2018