Sumber Gambar: Pexels
Bunga Tulip di hadapanku mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah berapa kali dia mencoba memahami kisahku yang abu. Aku tersenyum getir dengan balasannya. Tidakkah dia mau menguatkan aku yang tengah rapuh. Tapi sama denganmu, tak akan pernah paham kisahku, bahkan hingga aku mengakhirinya.
Kehidupanku berjalan seperti lajunya angin di pagi hari. Tenang. Apa pun yang kulakukan seperti kepakan sayap kupu-kupu nan anggun itu. Tentu saja, ketenangan menggangguku yang terbiasa menelan derasnya air mata. Benar saja. Kecurigaanku mencuat saat orang itu hadir dalam hidupku.
Katanya, dia akan selalu memberikan tulip merah yang tertetes darah seorang pangeran. Darah cinta abadi. Dia akan berikan tulip yang penuh cinta itu setiap kali mengingatku.
Kala itu, dia akan datang dan tersenyum dengan tulip di tangannya yang berlumuran darah. Aku hanya memandanginya dengan datar tak bernyawa. Butuh waktu berapa lama sampai dia mengingatku, sampai akhirnya dia menemuiku.
Dia tahu aku suka tulip. Tapi dia tidak tahu aku suka tulip yang berwarna apa. Kepada tulip yang mana aku selalu bercerita. Tulip merah penuh darah itu sama saja dengan mengotori tanganku yang seputih salju.
Dari awal, dia sudah bertekad untuk menjatuhkanku ke dalam jurang yang dalam itu. Dia terus mendekat tanpa mengerti perasaanku. Dia terus berusaha meyakinkan bahwa aku harus percaya dengannya. Aku terus dipaksa jatuh ke dalam jurang yang terlihat hitam itu. Aku tak tahu terjatuhnya akan di atas bunga-bunga atau malah kayu runcing yang menusuk. Tapi kesamaannya, aku akan tetap merasa sakit, patah tulang atau langsung mati.
Aku meminta sebuah sayap. Dia hanya terdiam. Kuanggap diamnya adalah menyerah. Dia berbalik kemudian melangkah pergi. Sedikit kudengar gerutuannya yang menyebut permintaanku tak masuk akal. Aku berlari menuju kebun tulip lalu kuceritakan kisahku pada ladang tulip yang berwarna biru keabu-abuan. Mereka mengangguk. Aku tersenyum merasa diterima. Aku kembali berjalan layaknya angin kala sandhya.
Tak berapa lama, dia datang kembali dengan sayap di tangan, tangan yang lagi-lagi penuh dengan darah. Aku termangu. Entah sayap siapa yang telah dia patahkan. Aku membayangkan kesakitan atas luka yang menganga akibat hilangnya sayap di punggung orang itu. Bahkan, rasa sakit itu menjalar di punggungku sendiri.
Sayap itu dipasang di punggungnya. Rupanya dia hanya memamerkan keahliannya itu. Keahlian mencuri dan memakan hak orang lain. Katanya, dia bangga pada dirinya yang telah berhasil melakukan hal tak masuk akal itu. Aku jadi ingat gerutunya yang mengejekku.
Selagi berusaha membuatku terkesan, dia terus memintaku jatuh ke dalam jurang yang menganga. Dalam kantongnya, dia merogoh sebuah tulip yang sudah membusuk. Saking busuknya, aku tak dapat menebak warna dari bunga tulip itu sendiri.
Dalam keadaan berakal atau tidak, dia memberikan tulip itu kepadaku. Tentunya aku menerima. Aku selalu menerima bunga tulip. Tapi tentu saja, itu bukan bunga tulip yang kusuka.
Alasan apa lagi yang harus kuberikan. Katanya, dengan sayap itu dia akan mengantarkanku secara perlahan ke dalam sana. Aku hanya diam. Kata-katanya amat manis dan menyakitkan. Kenapa dia amat terobsesi pada kegelapan yang mengurungku? Jika aku di dalam sana, aku tak dapat lagi bercerita kepada tulip-tulip itu.
Hidupku kini seperti angin badai. Perasaan takut bergejolak membakar amarahku yang sudah kutahan sejak lama. Tentu saja aku lebih familiar dengan perasaan ini. Karenanya, aku lebih berdiri tegap dan berani. Aku bisa berlari dan mengata-ngatainya dengan mulutku.
“Dasar tak tahu malu!”
“Dasar tukang atur sialan!”
“Sana kau jatuhkan saja dirimu ke dalam jurang, biarkan kegelapan menggerogotimu hingga ke tulang!”
Aku terus berlari sambil tertawa. Angin puting beliung benar-benar membersamaiku. Hingga akhirnya aku terbang bagaikan ada sayap dipunggungku.
Lihatlah, duhai, aku bisa terbang tanpamu. Itu yang terus kuteriakan dalam jiwaku yang terus melayang. Tanpa kusadari, angin ribut ini merusak kebun tulip yang selalu kudatangi.
Berhari-hari aku terus melayang membersamai angin yang menghancurkan. Hingga sebuah tulip dengan warna kesukaanku yang terbawa melayang di dekatku. Tulip berwarna putih menghampiriku yang telah kotor karena angin yang membawa lumpur dan dedaunan kering.
Baru mataku terbelalak. Baru di saat itu aku tersadar akan hal yang selama beberapa hari ini terjadi. Angin seketika terdiam menyisakan ruangan yang hampa. Semesta bungkam mengerti apa yang telah terjadi. Angin telah menjatuhkan dia ke dalam jurang.
Bodohnya, dia pikir sayap di punggungnya itu bisa membantunya. Padahal sudah jelas itu bukan sayapnya. Dia mencurinya.
Namun yang terparah adalah kebun tulip yang kerap kudatangi. Semuanya porak poranda. Setiap bunga tertutup lumpur hingga tulip-tulip kini tak dapat menunjukkan warnanya.
Aku hanya bisa melihat warna tulip putih yang ada di tanganku, hanya satu. Kuingat juga di kantongku terdapat tulip busuk yang tak berbentuk.
Cerpen ini ditulis oleh Siti Mu'ayyadah, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB Unmul 2022.