Mengenal Sejarah Tiga Kue Kering: Warisan dari Zaman Kolonial

Mengenal Sejarah Tiga Kue Kering: Warisan dari Zaman Kolonial

Sumber Gambar: Indonesiana.com

SKETSA - Kue kering tak lepas dari perayaan di Indonesia. Tak terkecuali jelang Idulfitri. Tak hanya ketupat atau opor ayam, kue kering juga menjadi kudapan yang tak boleh tertinggal di dalam daftar menu jamuan lebaran. Kue kering biasanya disajikan di dalam toples cantik untuk jadi teman berbincang bersama kerabat.

Terdapat puluhan jenis kue kering lebaran dengan nama dan bentuk yang unik, sebut saja nastar, kuping gajah, lidah kucing, hingga kue putri salju. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah dari eksistensi kue kering di Indonesia? 

Beberapa kue kering yang populer di Indonesia ternyata merupakan warisan dari zaman Kolonialisme Belanda tempo hari. Tak bisa dipungkiri,  kolonialisasi Belanda kala itu sangat berpengaruh pada berbagai aspek di Nusantara, salah satunya kuliner. Tak sedikit pula jajanan Indonesia yang menjadi hasil akulturasi budaya dari kuliner khas Belanda. Yuk, simak penjelasan yang telah Sketsa rangkum khusus untukmu!

  1. Kue Nastar

Siapa yang tak kenal dengan kue yang satu ini. Kue nastar merupakan kue kering berbentuk bulat dengan isian selai nanas. Sesuai dengan namanya, kata “nastar” sendiri berarti kue nanas. Kata tersebut rupanya adalah serapan dari bahasa Belanda, yakni ananas yang berarti nanas, dan taarjes atau tart yang berarti kue.

Hadirnya kue nastar di Indonesia tak terlepas dari pengaruh kolonialisme. Kue ini ternyata terinspirasi dari resep kue pai Belanda yang berukuran besar dengan isian buah-buahan seperti stroberi, anggur, atau apel. Namun, orang-orang Belanda rupanya kesulitan untuk menemukan buah-buahan tersebut. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menggantinya dengan buah-buahan lokal yang mudah ditemukan di Indonesia. 

Buah nanas pun kemudian dipilih sebagai pengganti isian kue pai karena cita rasa asam dan manisnya yang serupa dengan buah stroberi atau apel. Tak hanya isian selainya saja yang berubah, bentuk dan ukuran kue pun dimodifikasi menjadi kerdil seperti yang kita kenal di masa kini.

  1. Kue Lidah Kucing

Sama seperti kue nastar, konon kue lidah kucing merupakan warisan dari zaman Kolonial Belanda. Kue ini merupakan salah satu kue yang banyak digemari masyarakat Indonesia karena rasanya yang gurih serta teksturnya yang renyah.

Di Negeri Kincir Angin, kue ini dikenal dengan nama Kattentongen yang berarti lidah kucing. Nama inipun disematkan sebab bentuknya yang pipih dan memanjang layaknya lidah kucing. 

Seiring berjalannya waktu, variasi rasa dari kue lidah kucing jadi beragam. Bahkan, saat ini warnanya tak hanya sebatas berwarna kuning seperti yang kita kenal, tetapi juga mulai bervariasi menyesuaikan rasanya, mulai dari rasa kopi, cokelat, taro, keju, sampai dengan red velvet.

Hingga saat ini, kue lidah kucing menjadi salah satu pilihan utama dari sekian banyaknya varian kue lebaran karena rasa khasnya yang selalu dirindukan.

  1. Kue Putri Salju

Kue yang berbentuk bulan sabit ini juga merupakan peninggalan dari zaman kolonial Belanda. Kue ini baru dikenal di Indonesia pada peralihan abad ke-19 menuju abad ke-20. Taburan gula putih serta rasa gurih yang bercampur manis menjadi daya tarik tersendiri dari kue ini.

Selain diminati di Indonesia, kue ini juga banyak diminati oleh orang-orang Jerman dan Austria. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa kue ini berasal dari Austria. Di sana, kue ini dikenal dengan nama Vanillekipferl dan kerap disajikan ketika perayaan Natal.

Nama putri salju sendiri diambil dari taburan gula halus berwarna putih di atas permukaan kue dan menyerupai hamparan salju di musim dingin. Tekstur yang lembut serta sensasi dingin ketika menggigit kue ini menjadi daya tarik tersendiri dari kue putri salju. 

Nah, itu dia sejarah dari tiga varian kue kering lebaran yang masih eksis di Indonesia hingga saat ini. Adakah yang jadi favoritmu? (dre/snk/nkh)