Peringati World Clean Up Day, Warga Menyisir Sampah di Tepian Mahakam

Peringati World Clean Up Day, Warga Menyisir Sampah di Tepian Mahakam

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA Kali ini, semarak World Cleanup Day Samarinda digemakan melalui kegiatan bersih-bersih sepanjang tepian Sungai Mahakam. Dilaksanakan Minggu pagi (18/9), titik kumpul peserta bertempat di halaman Islamic Centre Samarinda. 

Sedari pukul 7 pagi, lokasi tersebut ramai dengan berbagai kegiatan mulai dari senam pagi, sampai dengan piknik ringan bersama keluarga. Di tengah halaman masjid megah itu, spanduk WCD terpampang jelas sebagai tanda titik kumpul peserta.

Tak kurang dari 110 undangan disebar panitia, masing-masing terbagi ke instansi di sekitar wilayah Kota Samarinda. Peserta yang berkumpul pagi itu pun, datang dari berbagai elemen, di antaranya mahasiswa, siswa sekolah, masyarakat umum, serta anggota Tentara Negara Indonesia (TNI). Mereka berkumpul dan berbaris tepat di depan spanduk sekaligus photobooth WCD.

“Tiga Belas Juta untuk Indonesia Bersih dan Bebas Sampah,” ucap Ketua Panitia WCD, Fatur Rahman Subianto membakar semangat peserta.

Slogan yan membara tersebut pun dijadikan jargon untuk mendengar semangat para peserta yang ikut di agenda tahunan itu. Riuh peserta tak terelakan, jargon itu pun dibalas meriah oleh para peserta WCD.

Sambutan kedua datang dari Nurrahmani sebagai perwakilan dari Walikota Samarinda. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda itu menuturkan harapan, agar kegiatan ini bermanfaat untuk peserta dan lingkungan sekitar. 

Tak luput ia menegaskan untuk menyadari makna pentingnya pelestarian lingkungan hidup. Langkah tersebut seyogianya diharapkan dapat menumbuhkan rasa peduli untuk berbuat sesuatu yang nyata dalam pengendalian lingkungan hidup.

“Aksi ini merupakan suatu perwujudan peningkatan kepedulian terhadap permasalahan sampah, serta menjadi sarana dalam memupuk nilai cinta kasih masa depan bumi,” ucap Nurrahmani berdiri di atas tangga menuju masjid itu.

Di akhir, Nurrahmani berkesempatan memotong pita sebagai peresmian sebelum memulai agenda bersih-bersih tahunan itu. Tak berhenti sampai di situ, agenda berlanjut dipandu oleh koordinator lapangan untuk membagi empat titik utama lokasi sepanjang tepian Sungai Mahakam.


Di sela kegiatan, Sketsa turut mewawancarai salah satu peserta, Muhammad Dewantara Cahyadi. Mahasiswa Unmul yang baru kali pertama berpartisipasi dalam agenda ini mengaku senang. Antusiasme Dewan, sapaan akrabnya, muncul karena keresahan pribadi atas sampah yang masih bergelimang di pinggiran jalan.

“Ini (saya) bukan karena agenda ini, tapi karena memang saya sebagai masyarakat pun sedikit kesal karena banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas sampahnya masing-masing. Masih banyak orang yang belum ada kedewasaan dalam menjaga kebersihan di lingkungan tercinta ini,” tutur Dewan yang tergabung ke dalam titik dua lokasi WCD kemarin.

Dirinya juga merasa bangga sebab dirinya bisa turut serta membantu membersihkan lingkungan Kota Samarinda.

Tak puas hanya sendiri, di kesempatan tersebut ia tak lupa untuk mengajak kawan serta rekan seinstansi. Menurutnya, semakin banyak peserta yang hadir, dampaknya akan jauh lebih terasa serta menambah euforia WCD yang terselenggara di Kota Tepian tersebut. 

Dirinya mengungkap, sudah semestinya seluruh lapisan masyarakat dapat berperan aktif menjaga kebersihan tanpa menunggu momen serupa.

“Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang mau diandalkan untuk membersihkan sampah,” pungkasnya.


Awak Sketsa juga berkesempatan berbincang dengan panitia penyelenggara WCD, Elizabeth, koordinator di titik dua. Dirinya mengungkapkan agenda ini merupakan puncak dari hari World Clean Up Day, yang berlangsung 10 hingga 25 September. 

Bebernya, panitia tak hanya datang dari satu kalangan, namun dari berbagai elemen masyarakat. Mahasiswi asal FAPERTA Unmul ini berterus terang, tahun ini merupakan kali pertamanya mengikuti agenda bersih-bersih lingkungan selepas rehat dua tahun akibat pandemi.

“Panitia intinya baru terbentuk mungkin sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan, kemudian lengkapnya dengan adanya anggota itu satu minggu sebelum pelaksanaan. Dan kami langsung persiapan dan segala macam untuk pelaksanaan,” ucap Eliz akrabnya.

Eliz berharap esensi dari agenda kali ini dapat mencapai tujuan dunia di tahun 2025 berupa bebas sampah. Ini didasari oleh sampah yang hingga kini masih menjadi momok tak berkesudahan.

“Dengan adanya kegiatan ini masyarakat juga turut melihat, dan bisa ikut jadi (menimbulkan) rasa peduli terhadap sampah,” tutup Eliz. (vyn/nkh)