Tanggapi Kasus Mapala Unisi, Imapa Unmul: Ada Kesalahan Manajemen

Tanggapi Kasus Mapala Unisi, Imapa Unmul: Ada Kesalahan Manajemen

SKETSA - Menengok kabar pendidikan dasar (diksar) Mapala Unisi yang tewaskan tiga mahasiswa, Senin (30/1) kemarin Polres Karanganyar menetapkan dua tersangka.

Dilansir dari detikcom, Pihak UII mengklarifikasi, status salah satu di antaranya telah lulus. Keduanya ditangkap Senin pagi, saat berada di Posko Mapala Unisi.

Selain tewas, ada juga sepuluh mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit akibat diksar bertajuk "The Great Camping" itu.

Apakah demi menjadi pecinta alam harus menyambung nyawa lewat diksar Mapala? Amat tak sesuai dengan semangat awal pembentukannya. 

(Baca, http://sketsaunmul.co/berita-kampus/nyawa-manusia-di-atas-segala-perpeloncoan/baca )

Melihat kasus ini dan sama-sama bergerak di bidang pecinta alam, Sketsa mencoba meminta tanggapan Imapa Unmul. Meski tak mengikuti perkembangan berita tersebut, lantaran pihaknya saat itu tengah melaksanakan diksar selama sembilan hari di Batu Kajang, Paser.

"Kita enggak bisa menilai dari media dulu sih, soalnya kita juga enggak tahu di sana gimana diksarnya. Lagian saat itu kami juga ada kegiatan," kata Aryoga Oktabriangga, Ketua Imapa Unmul 2017.

Setelah pihaknya tahu kronologis kasus tersebut, Imapa menilai ada yang salah dalam manajemen pelaksanaannya.

Selain itu menurutnya, diksar yang dimaksud adalah mendidik dan melatih anggota untuk bisa bertahan di alam. "Pendidikan diawal itu melatih kekompakan sesama anggota, melatih mental dan fisik," jelas mahasiswa Kimia 2015 ini.

Menanggapi isu senioritas, Aryoga beranggapan bahwa senior hanya sebatas membimbing, mengontrol dan memberi masukan serta sharing materi atau pengalamannya. Jadi tak heran, dalam setiap kegiatan mereka, para senior turut hadir dan masih dalam komando pengurus juga panitia.

"Meski senior, tetap ada aturan dan batasannya. Kita kurang tahu ya di luar seperti apa. Pendidikan dasar dari Mapala sendiri itu pun pasti ada SOP-nya," jelas pria yang kerab disapa Mitun di Imapa itu.


Pendidikan Dasar Ala IMAPA

Pendidikan Dasar Ilmu Cinta Alam atau Pidca adalah pelatihan dasar untuk anggota baru Imapa. Bibit baru ini telah lolos seleksi seperti, tes kesehatan dan fisik. Selain itu juga wajib mengikuti materi keorganisasian, lingkungan hidup, manajemen perjalanan, jurnalistik dan banyak lainnya.

Namun bagi anggota baru, yang miliki riwayat penyakit, Imapa jelas tak bisa menerima. Bukan apa, mereka tak ingin ambil risiko ketika terjun di alam.

Selanjutnya, ialah praktek. Batu Kajang, Paser merupakan lokasi tiap tahunnya Imapa saat adakan diksar. Pada Sabtu (21/1) rombongan tersebut berangkat dan di tempat ini peserta berlatih Rafting (arung jeram), Rock Climbing (panjat tebing), Search and Rescue (SAR), Mountaineering (pendakian gunung) dan Caving (penelusuran goa).

Peserta dilepas, karena mereka sudah diberi materi sebelumnya. Pengurus hanya membimbing dan mengawasi. Hal tersebut guna melatih kekompakkan sesama anggota.

Selain itu selama kegiatan tersebut, panitia Pidca selalu lakukan briefing dan evaluasi. Bila ada kendala cuaca, hal tersebut bisa lebih dari tiga kali. Alasannya, agar pelaksanaan Pidca berjalan lancar dan aman.

Aryoga menegaskan selama kegiatannya tersebut, tidak ada bentuk kekerasan fisik. Menurutnya, yang mengakibatkan anggota cedera adalah alam, bukan karena seniornya.

“Kami cuma membimbing, mereka sendiri yang lakuin, pulang, tidur, makan, lalu istirahat, seperti itu terus jadi nggak ada yang namanya perpeloncoan,” tegas Mitun.

“Nggak ada kekerasan, ketika dia mungkin ada lecet atau luka, itu karena dia sendiri. Tapi kami kan ada tim kesehatan, kita terus kontrol mereka,” sambung Hidayatussalikin, Kepala Bidang Operasional Imapa 2017.

Vika Fajrina, satu dari 18 peserta yang ikut Pidca tersebut juga menerangkan tak ada tindak pelonco di Imapa. Pemberian hukuman, menurutnya juga sebagai efek jera untuk peserta agar lebih berhati-hati.

"Kegiatannya, asyik, seru. Kalau ada hukuman kemarin itu ya kecil-kecil tapi karena sering jadinya hukumannya banyak. Seperti push up, sit up gitu. Malah masih ngutang, tapi enggak ditagih," ucapnya sembari terkekeh.

Di Imapa, alat bagaikan nyawa. Ketika alat-alat tersebut diinjak dan rusak, tentu akan membahayakan penggunanya. Demi mencegah hal tersebut, peserta dilatih untuk menjaga peralatan dan perlengkapan yang dimiliki.

“Mendidiknya ya secara push-up, sit-up, pull-up, dan kita rendam. Ya konsekuensinya seperti itu, tapi kalau fatal,”  jawab seorang anggota Imapa lainnya.

Keanggotaan Imapa seumur hidup, sudah lulus maupun mau wisuda, akan tetap sebagai anggota Imapa. "Semua anggota saling menjaga, aktif, biasa, hingga luar biasa. Tapi ya itu tetap ada batasannya," sahut Mitun lagi.

Terkait kasus Mapala Unisi, yang mungkin berdampak pada citra mereka. “Saran kami ya jangan menilai dari luarnya saja, don’t judge by cover, ya kalau mau tahu dalamnya ya masuk gitu,” tambah Hidayatussalikin, mahasiswa FISIP 2014 tersebut. (els/jdj)