SKETSA – Memasuki akhir tahun, satu persatu fakultas menyelesaikan tahapan Pemira. Tak terkecuali Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Fakultas Teknik (FT) yang kini telah menetapkan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa terpilih. Meski sebelumnya sempat diberhentikan sementara lantaran adanya pembahasan dengan Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) FT terkait memutuskan aklamasi atau tidak.
(Baca sebelumnya, https://sketsaunmul.co/berita-kampus/terancam-aklamasi-pemira-ft-diberhentikan-sementara/baca).
Dari pembahasan tersebut, akhirnya ditetapkan hanya satu paslon yang siap maju sebagai calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FT. Ini berarti Pemira FT tahun ini dinyatakan aklamasi.
Ditemui pada Rabu (5/12) lalu, Martin, ketua BLM FT memaparkan alasan terjadinya aklamasi. Menurutnya, sistem pencalonan pemira di FT berbeda dengan fakultas lain, di mana sistem yang berlaku adalah sistem kader. Ia menjelaskan, untuk maju sebagai paslon, harus melalui banyak hal.
“Kalau di sini untuk jadi Ketua BEM FT, harus ikut BEM dulu, harus dikader dulu. Banyak yang harus dilewati. Jadi jangan kaget kalau di Teknik bisa aklamasi, karena itu sistemnya kader, beda sama yang di luar,” paparnya.
Ia menambahkan, terpilihnya Santi-Lukman sebagai pasangan terpilih karena hanya mereka yang dinyatakan lolos verifikasi berkas oleh KPPR, setelah rivalnya Aisyah-Akbar tak mampu melengkapi berkas keaktifan organisasi. Kartu Keaktifan sendiri bisa diberikan oleh BEM FT setelah satu tahun aktif dalam organisasi dan memenuhi kriteria yang ditentukan oleh BEM.
Setelah Santi-Lukman dinyatakan lolos sebagai paslon tunggal, tahapan Pemira dilanjutkan dengan pemaparan visi-misi, program kerja unggulan, dan penyampaian aspirasi KBM FT kepada paslon yang sudah dilaksanakan pada Selasa (27/11) lalu. Hingga akhirnya KPPR membacakan Surat Keputusan yang menetapkan Santi-Lukman sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FT yang baru. Pelantikannya pun dilaksanakan pada Kongres ke 13 KBM yang dilangsung selama empat hari, terhitung sejak tanggal 3-6 Desember kemarin.
Meski berakhir aklamasi dan terkesan tak merasakan pesta demokrasi, Martin menjelaskan dari Teknik sendiri tak ada keinginan untuk menyiasati dengan melawan kertas putih karena tidak ada tertulis dalam AD/ART. Menurutnya, sistem tersebut hanya bisa diterapkan di masyarakat karena tidak memiliki masa akhir.
“Lagian kenapa sih harus seperti itu, saya rasa kalo kita lawan kertas putih gak bisa. Kita (mahasiswa) ada masa waktunya. Jadi saya rasa kertas kosong itu enggak bisa diterapkan di kita,” jelasnya. (ann/fir/adl)