Wisuda Gelombang I 2026 Wajib Menggunakan Toga Baru, BPU Unmul: Tidak Ada yang Mendadak
Sumber Gambar: Instagram/bpu.unmul
SKETSA - Unmul mengeluarkan desain toga baru melalui unggahan Instagram @unmulstore, Kamis (19/2) lalu. Disusul unggahan terkait filosofi desain toga dan pengumuman bahwa mahasiswa yang akan wisuda di Gelombang I tahun 2026 wajib menggunakan toga baru tersebut. Namun, hal ini menimbulkan protes mahasiswa.
Pada unggahan Kamis (19/2) yang menampilkan desain toga baru, mahasiswa memenuhi kolom komentar dengan rasa tidak puas terhadap desain terbaru.
Unmul Store kemudian mengunggah filosofi desain toga, Minggu (1/3) lalu. Disusul pengumuman pembukaan pemesanan toga di hari yang sama. Pemesanan sendiri dilakukan secara langsung di Unmul Store dengan pembayaran penuh di awal.
Badan Pengelola Usaha (BPU) Unmul juga turut mengeluarkan surat pemberitahuan pada Senin (2/3) lalu yang menyatakan bahwa toga terbaru wajib digunakan pada Wisuda Gelombang I Tahun 2026 dan toga dengan desain lama sudah tidak dapat digunakan pada gelombang tersebut.
Hal tersebut menimbulkan sejumlah protes, terutama mahasiswa yang akan mengikuti Wisuda Gelombang I Tahun 2026. Tidak hanya soal desain, pasalnya, pengumuman wajib menggunakan toga baru tersebut dikeluarkan hanya dalam rentang sebulan sebelum tanggal wisuda.
Melalui unggahan surat pemberitahuan di akun Instagram @bpu.unmul, mahasiswa membanjiri kolom komentar dengan mengungkapkan kekecewaan atas pemberitahuan yang mendadak karena beberapa mahasiswa ternyata sudah membeli toga desain lama.
Mahasiswa Prodi Sastra Inggris FIB 2022, Andrey Saputra juga menyebut pengumuman tersebut terkesan mendadak karena beberapa mahasiswa lain yang ia kenal sudah membeli toga lama.
“Ada teman-teman mahasiswa lain yang sudah beli dari bulan Desember. Kalau dihitung-hitung ini sudah H-sebulan, kenapa baru keluar surat edaran ini?” ujarnya kepada Sketsa, Kamis (5/2).
Andrey menilai, hal ini menimbulkan pertanyaan terkait mekanisme pembuatan aturan yang mengesahkan penggunaan toga baru atau toga lama.
“Kasihan juga teman-teman yang sudah terlanjur Pre-order (PO) desain sebelumnya. Belum ada kejelasan apakah uang dikembalikan atau bisa ditukar,” ungkapnya.
Andrey juga menyebut pembelian toga lama kebanyakan dilakukan di Store Mulawarman yang berlokasi di samping Perpustakaan Unmul.
“Sudah ada teman-teman yang mengecek ke sana dan ternyata tidak bisa langsung refund, harus menunggu dari store yang baru. Nah, itu yang jadi permasalahan besar,” lanjutnya.
Tidak hanya masalah pengumuman, Andrey turut menyayangkan desain terbaru toga tersebut. Menurutnya, desain Unmul kini downgrade.
“Desain sebelumnya lebih bagus, jauh lebih bagus. Dibandingkan sekarang, istilahnya downgrade.”
Menurut Andrey, pergantian toga bisa dilakukan, tetapi tetap memperhatikan rentang waktu launching, tidak untuk gelombang sekarang.
“Kalau mau ganti desain, silakan, tapi untuk gelombang depan,” tuturnya.
Hal serupa juga diungkapkan mahasiswa Prodi Sistem Informasi FT 2021, Zaki Fauzan Rabbani yang menyebut semua permasalahan terakumulasi dari desain hingga pengumuman.
“Awalnya memang karena tidak sepakat dengan desain baru yang ditetapkan tanpa adanya informasi resmi,” katanya kepada Sketsa, Kamis (5/2).
Zaki mengungkap, ia juga mengonfirmasi ke store lama, bahwa Unmul Store menetapkan desain baru tanpa surat atau aturan resmi. Pasalnya, surat baru dibuat pada Senin (2/3) dan hanya ditandatangani Kepala BPU.
“Secara keseluruhan memang bermasalah, mulai dari rilis desain baru tanpa aturan, narasi yang mewajibkan dan melarang penggunaan toga lama, hingga tindakan yang terkesan lepas tanggung jawab dan menyalahkan mahasiswa,” lanjutnya.
Zaki juga mengungkap beberapa mahasiswa yang sudah memesan toga sejak 2025 lalu, kebanyakan mahasiswa yang memang tidak mendapat slot wisuda gelombang IV sehingga seharusnya menggunakan toga tersebut di Gelombang I Tahun 2026.
Oleh karena itu, Zaki tetap menilai pengumuman wajib menggunakan desain toga baru di Gelombang I Tahun 2026 masih terkesan mepet dan tidak bisa diterapkan begitu saja.
“Saya rasa tetap akan ada penolakan, terutama dari mahasiswa yang toganya sudah lama datang dan tidak memungkinkan untuk refund. Solusi paling baik adalah mengizinkan penggunaan toga lama bagi yang sudah terlanjur memesan,” ujarnya.
Sementara itu Kepala BPU Unmul, Husni Thamrin menyebut pemberitahuan tersebut tidak mendadak karena pihaknya mengeluarkan pemberitahuan sebelum Standar Operasional Prosedur (SOP) Wisuda Gelombang I Tahun 2026 keluar. Ia mengatakan, pihaknya juga sembari berkoordinasi dengan akademik rektorat.
“Nggak ada yang mendadak. Kalau kami mengeluarkan itu (pemberitahuan) sebelum SOP Wisuda keluar, seharusnya masih nggak mendadak,” katanya kepada Sketsa saat ditemui langsung di Kantor BPU Unmul, Rabu (4/3).
Ia melanjutkan, BPU Unmul telah berkoordinasi dengan rektorat terkait penjualan toga desain baru. Karena BPU sendiri merupakan unit yang memang harus mendatangkan keuntungan, salah satunya dari penjualan toga.
“Kami sudah berizin ke rektorat, bahwa ‘oke, silahkan’ karena memang salah satu unit untuk mendatangkan duit, penjualan toga itu juga nanti duitnya ke Unmul,” ungkapnya.
Husni juga menyebut tidak ada kebijakan terkait mahasiswa yang sudah membeli toga desain lama karena pembelian tidak dilakukan di store resmi BPU Unmul yang menjadi tempat resmi pembelian dan pengambilan toga. Ia juga memaparkan bahwa seharusnya mahasiswa menunggu SOP Wisuda terbaru.
“Kenapa nggak menunggu informasi resmi, ‘kan SOP wisuda belum dikeluarkan, kenapa mereka sudah berani beli toga? Kami nggak pernah membuka statement boleh menggunakan toga lama,” lanjutnya.
Di periode pertama ini, Husni melanjutkan, belum ada opsi sewa toga. Jadi, hanya bisa melakukan pembelian karena merupakan produk baru.
“Ke depan, nanti ada tiga opsi, yaitu beli, sewa, dan pinjam,” ujarnya.
Terkait perubahan desain toga, Husni memaparkan bahwa selama tiga tahun menggunakan vendor penyedia yang sama, BPU melakukan evaluasi. Pasalnya, Husni menerangkan bahwa beberapa dekan melakukan komplain kepada BPU.
“Dekan-dekan itu selalu komplain, kok toganya tipis, kok kainnya seperti parasut,” papar Husni.
Ia melanjutkan, desain lama diubah di 2026 karena sering menerima komplain dari beberapa dekan. Akhirnya, BPU Unmul melakukan cross check dengan vendor. Namun, tidak bisa lagi menggunakan motif batik Kaltim.
“Motif batiknya nggak bisa kami ulang lagi, jadi kami coba ambil motif batik Samarinda karena kita juga stay di Samarinda, Unmul juga di Samarinda,” jelasnya.
Menanggapi rasa tidak puas mahasiswa terhadap desain baru, Husni menilai hal tersebut adalah hal biasa kalau ada sesuatu yang baru.
“Itu kan biasa ya, pasti ada yang bisa menerima ada yang tidak.”
Ia memaparkan bahwa dalam desain baru tersebut juga terdapat nilai-nilai tersendiri.
“Batiknya kebanggaan warga Samarinda, kenapa kita tolak? Saya kalau antara pro dan kontra, ya biarin lah namanya juga barang baru,” pungkasnya. (ner/nza/kna/mou)