Wisuda Perdana 2026, Abdunnur Sebut Fakultas Lebih Kompetitif Hasilkan Lulusan
Wisuda Unmul gelombang pertama di tahun 2026, dinamika baru persaingan antarfakultas menghasilkan wisudawan terbanyak
Sumber Gambar: Arsip Sketsa
SKETSA – Unmul menggelar Wisuda Gelombang I Tahun 2026 pada Sabtu (18/4) di GOR 27 September. Sebanyak 1.617 lulusan resmi dilepas, dengan FT menjadi penyumbang wisudawan terbanyak, menandai pergeseran tren dari tahun-tahun sebelumnya.
Rektor Unmul, Abdunnur, menyebut capaian ini sebagai hal yang cukup baru. Pasalnya, selama ini jumlah lulusan terbanyak umumnya berasal dari FKIP.
“Biasanya terbanyak FKIP, tapi hari ini wisudawan FT yang terbanyak,” ujarnya dalam sambutan.
Dari total lulusan, FT mengirimkan 307 wisudawan, disusul FKIP dengan 258 lulusan. Menurut Abdunnur, hal ini menunjukkan semakin kompetitifnya setiap fakultas dalam mendorong mahasiswa untuk lulus tepat waktu dengan capaian akademik yang baik.
“Kompetitif bagi semua fakultas untuk menghasilkan lulusan, tepat waktu dan indeks prestasi gemilang,” tambahnya.
Capaian tersebut juga tercermin dari kualitas lulusan. Seluruh wisudawan pada gelombang ini tercatat memiliki rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,5, dengan sebagian besar meraih predikat cum laude.
Salah satu wisudawan cum laude, Adrian Rafli Putra Ramadhan dari FK, membagikan pengalamannya selama menempuh studi. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu 3,5 tahun.
Menurutnya, kunci utama bukan pada metode belajar tertentu, melainkan pada konsistensi.
“Tidak ada yang spesial, yang penting konsisten. Jangan belajar hanya saat ujian, tapi dibiasakan sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah intensitas ujian yang tinggi. Dalam satu bulan, mahasiswa kedokteran bisa menghadapi beberapa kali ujian, sehingga dituntut untuk terus menjaga ritme belajar.
Hal serupa juga dirasakan wisudawan lainnya, Delana Okta Sania Ramadanti dari FPIK. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan selama masa studi.
“Tantangan terbesar ada di manajemen waktu. Harus bisa membagi antara kerja dan kuliah supaya keduanya tetap jalan,” katanya.
Motivasi pribadi juga menjadi faktor penting dalam perjalanan akademiknya. Ia mengaku, pernah diremehkan sebelum akhirnya membuktikan kemampuannya dengan lulus tepat waktu.
“Dulu pernah dibilang tidak bisa kuliah, jadi itu saya jadikan motivasi untuk membuktikan,” tuturnya.
Sementara itu, lulusan terbaik program sarjana pada wisuda kali ini diraih oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB, Muhammad Kevin Syaida. Ia mencatat masa studi 3 tahun 4 bulan dengan IPK 3,98.
Pencapaian ini sekaligus menjadi kali kedua bagi mahasiswa FIB yang meraih predikat lulusan terbaik dalam dua gelombang wisuda berturut-turut.
Wisuda gelombang pertama ini tidak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga mencerminkan dinamika baru di lingkungan kampus, mulai dari persaingan antarfakultas hingga beragam cerita perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan studi mereka. (apn/ner/aya)