Diskusi Dokumenter Pesta Babi di FISIP Unmul, Soroti Kesalahan Tata Kelola Sumber Daya Alam
Penayangan dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di FISIP Unmul menyoroti persoalan pembangunan dan kehidupan masyarakat Papua di tengah Proyek Strategis Nasional.
- 19 May 2026
- Komentar
- 63 Kali
Sumber Gambar: Ekmal/Sketsa
SKETSA - Aliansi Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) bersama BEM FISIP Unmul gelar Nonton Bersama dan Diskusi Film Dokumenter Pesta Babi, Jumat (15/5) lalu di area parkir D6 FISIP. Di balik pemutaran film yang dihadiri 437 penonton dan berlangsung tenang, tersimpan kegelisahan tentang tanah, pembangunan, dan suara masyarakat yang perlahan merasa tersisih dari negerinya sendiri.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.15 Wita ini bukan sekadar agenda menonton film, tetapi berkembang menjadi ruang refleksi kritis mengenai pembangunan, demokrasi, hingga realita Masyarakat Papua di tengah Proyek Strategis Nasional (PSN).
Acara nonton bareng dimulai dengan sambutan Presiden BEM FISIP Unmul, Rossa Tri Rahmawati Bahri, serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Unmul, Daryono.
Usai pemutaran film, suasana forum berkembang menjadi ruang dialog. Diskusi dipantik oleh Akademisi Unmul, Saipul yang mengaitkan isi film dengan dinamika politik dan kesalahan tata kelola sumber daya di Indonesia, khususnya di Kaltim dan Papua.
Saipul menyoroti bagaimana praktik eksploitasi sumber daya sebenarnya telah berlangsung sejak era Orde Baru, termasuk melalui penebangan hutan besar-besaran di Kaltim.
“Seharusnya dilakukan kemakmuran untuk rakyatnya seperti sektor infrastruktur ini adalah bentuk penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme),” ungkap Saipul dalam diskusi forum tersebut.
Diskusi semakin menarik ketika sejumlah peserta turut menyampaikan pandangan kritisnya. Salah satunya datang dari Alumni FISIP Unmul Angkatan 2014, Aswin yang menilai hukum kerap tidak cukup kuat menghadapi kepentingan investasi besar.
Ia menyebut perubahan regulasi yang dinilai mudah dilakukan pemerintah demi melegalkan proyek-proyek tertentu memperlihatkan bagaimana kekuatan modal memiliki pengaruh besar dalam sistem politik dan pembangunan.
Dialog memenuhi malam itu, perhatian peserta tertuju pada suara mahasiswa asli Papua yang hadir langsung dalam forum tersebut. Kehadiran Noor Syaiful Bahri Mahfud dari FPIK Unmul memberi dimensi yang lebih personal dan autentik terhadap film yang diputar.
Dalam penyampaiannya, Noor menegaskan bahwa Pesta Babi sangat merepresentasikan kondisi yang sedang terjadi di Papua Selatan hari ini, khususnya terkait PSN, seperti pengembangan sawit dan tebu.
“Film ini sangat mewakili keadaan di Papua Selatan. Tidak ada yang salah dari film ini, karena disinilah ruang pikir kita dan ruang untuk menyampaikan pendapat,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengaku terkejut melihat arah pembangunan pemerintah yang menurutnya kurang mempertimbangkan potensi asli daerah Papua Selatan, terutama di sektor kelautan dan perikanan.
Sebagai mahasiswa FPIK, Noor mengatakan dirinya memahami betul potensi daerah asalnya. Karena itu, ia mempertanyakan pembangunan yang justru diarahkan pada proyek perkebunan skala besar.
Meski demikian, ia tetap berharap pembangunan yang telah berjalan dapat benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat Papua Selatan ke depan.
“Saya hanya berharap pemerintah benar-benar memperhatikan potensi yang paling cocok untuk Papua Selatan, agar pembangunan yang dilakukan dapat berdampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya. (emf/aya)