Panggung Rakyat di Gerbang Karang Temu Unmul, Mempertanyakan Arah Reformasi Saat Ini
BEM FH Unmul bersama beberapa NGO Kaltim gelar panggung rakyat dalam rangka memperingati Hari Reformasi Nasional 2026, kenang momen pergantian orba menuju reformasi
- 22 May 2026
- Komentar
- 58 Kali
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi
SKETSA - BEM FH Unmul bersama Sambaliung Corner, Aksi Kamisan Kalimantan Timur (Kaltim), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kaltim, Perempuan Mahardika Samarinda, dan Kelompok Belajar Anak Muda (KBAM) gelar Panggung Rakyat bertajuk “28 Tahun Tumbangnya Soeharto: Reformasi Tak Pernah Ada” di Gerbang Karang Temu Unmul, Kamis (21/5) lalu.
Ketua Pelaksana Panggung Rakyat, Chiery Putri Setiawan menyebut pagelaran Panggung Rakyat ini dalam rangka memperingati Hari Reformasi Nasional 2026 mengenang momen pergantian Era Orde Baru menuju Masa Reformasi. Namun, reformasi tersebut dinilai tidak terlihat.
“Kami punya pandangan bahwa reformasi terjadi, tapi hanya berganti wajah. Otoriter, watak-wataknya, masih sama,” ujar Chiery, Kamis (21/5) lalu.
Kegiatan ini juga diisi oleh berbagai elemen masyarakat dan perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), salah satunya Ormawa di Unmul. Melalui Panggung Rakyat, mereka menyuarakan keresahan dan kritik dari orasi hingga puisi, terutama tentang kondisi negara saat ini.
Salah seorang Akademisi FH Unmul, Herdiansyah Hamzah, atau kerap disapa Castro, turut mengisi Panggung Rakyat tersebut dengan orasi. Castro menyebut, salah satu tuntutan reformasi adalah memukul mundur militer kembali ke barak.
Militer adalah kekuatan yang digunakan Suharto, tidak hanya untuk melanggengkan kekuasaan, tetapi juga membunuh rakyat Indonesia.
“Jika militer tidak dipaksa mundur ke barak, maka selamanya rakyat Indonesia akan menderita. Setiap hari akan dihadapkan dengan moncong senjata,” kata Castro dalam orasinya, Kamis (21/5).
Castro menyebut, militer di bawah kekuasaan Presiden Prabowo Subianto digunakan, dikendalikan, dan dimanfaatkan untuk hal yang sama, yakni melanggengkan kekuasaan. Bahkan militer melakukan semua hal, termasuk mengurus makanan, pangan, juga urusan ketatanegaraan. Hal ini adalah warisan kepemimpinan Soeharto.
“Yang memberi jalan khusus bagi militer adalah Orde Baru dan Prabowo adalah orang yang tumbuh di bawah pengaruh militer Soeharto,” ujarnya.
Sementara itu Akademisi FEB Unmul, Purwadi, dalam orasinya menyuarakan bagaimana kondisi ekonomi negara pada reformasi saat ini. Purwadi menilai, tujuan dari tahun 1998 adalah membangun ekonomi yang lebih setara untuk masyarakat. Apabila tujuan ini tidak tercapai, reformasi menjadi arah yang dikendalikan kapitalis.
“Apakah cita-cita reformasi yang kita perjuangkan di tahun 1998 itu masih ada? Dengan pemerintahan yang hanya berpihak pada kapitalis, oligarki, para pejabat sekaligus pengusaha, dan pengusaha sekaligus pejabat,” paparnya.
Purwadi menyebut, kebijakan sentralistik yang ugal-ugalan juga banyak menyedot anggaran, salah satunya melalui Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP). Sementara itu, masih banyak masyarakat yang harus banting tulang untuk sekadar bertahan hidup, mendapat pendidikan layak, maupun infrastruktur yang memadai.
“Jadi ketika hajat publik tidak tersentuh oleh negara dengan anggaran yang dimiliki hari ini, maka sebenarnya negara sudah gagal,” tegas Purwadi.
Selain itu, Purwadi juga mengungkap bahwa para akademisi di kampus mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki situasi hari ini.
“Supaya lingkaran setan yang dibikin oleh pemerintah bisa kita putus,” pungkasnya.
Melalui panggung rakyat ini, mahasiswa dan elemen masyarakat bergantian menyuarakan kondisi negara saat ini hingga malam hari. Tentang kondisi pemerintahan sentralistik yang masih di bawah bayang-bayang Orde Baru dan sangat jauh dari cita-cita reformasi. (ner/lla/aya)