logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Berita Kampus

Pemira FISIP 2022, Calon Tunggal Melawan Kertas Kosong

Pemira FISIP 2022 hanya diwakili oleh calon tunggal.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Foto: Dokumen Pribadi

SKETSA — Mendekati akhir tahun, pemilihan raya (Pemira) di berbagai fakultas mulai bergulir. Pelaksanaan pesta demokrasi ini pun telah bergulir di kampus FISIP. Namun, ada yang berbeda dengan Pemira FISIP tahun ini.

Perebutan gelar Presiden dan Wakil Presiden BEM FISIP tak akan berjalan dengan sengit layaknya Pemira di tahun-tahun sebelumnya. Sebab kali ini, Pemira FISIP 2022 diwakili oleh calon tunggal. Pasangan tersebut ialah Slamet Riyadi dan M. Ilham Maulana. Tak adanya lawan membuat keduanya disebut-sebut akan melawan kertas kosong saat pemungutan suara.

Awak Sketsa kemudian menghubungi Amilia Muslyah, salah satu anggota Badan Pekerja Pemilihan Raya (BPPR) FISIP. Diwawancarai secara daring melalui Whatsapp, mahasiswi yang akrab disapa Ale itu mengungkap pelaksanaan Pemira tahun ini akan terselenggara secara hybrid.

“Pemilihan bisa dilakukan secara online melalui website. Namun, kita juga akan mendirikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) bagi teman-teman atau mahasiswa FISIP. Untuk teman-teman yang kebingungan (melakukan pemilihan secara online) nanti bisa datang ke TPS langsung,” terang mahasiswi dari prodi Ilmu Komunikasi 2021 itu.

Lebih lanjut, Ale menerangkan pihaknya secara konsisten terus menyosialisasikan tata cara pemungutan suara agar tidak ada mahasiswa yang golput saat Pemira berlangsung. 

“Jadi untuk teman-teman yang mengakses website-nya di rumah atau di manapun itu, nanti akan mengirimkan bukti screenshot-nya. Kemudian untuk teman-teman yang melaksanakan pemilihan secara offline di kampus, nanti akan diproses kembali oleh panitia, apakah teman-teman ini sudah memilih atau belum.”

Tak hanya membahas teknis pelaksanaan Pemira, Ale turut menyinggung agenda uji publik yang telah diselenggarakan pada Sabtu (19/11) lalu.

Rendahnya antusiasme di Pemira kali ini memaksa pihaknya mengubah agenda yang semula berupa debat antar Paslon menjadi uji publik. Agenda uji publik sendiri bertujuan untuk mengenalkan visi dan misi dari Paslon serta dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan panelis.

“Esensi dari uji publik ini adalah agar teman-teman bisa menilai apakah Paslon ini layak atau tidak. Audiens bisa menilainya dari jawaban Paslon tersebut,” jelasnya.

Awak Sketsa turut mewawancarai Mutiara Oktavia Damara selaku Ketua BPPR FISIP. Kurangnya antusiasme di Pemira tahun ini bahkan dikonfirmasi oleh mahasiswi dari Prodi Administrasi Bisnis 2021 tersebut.

Beragam upaya telah dikerahkan oleh panitia dan juga Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), seperti melakukan sosialisasi ke berbagai lembaga yang ada di FISIP hingga memperpanjang masa pendaftaran. Meski demikian, upaya tersebut nampaknya belum berhasil menggaet minat mahasiswa untuk mencalonkan diri. 

“Teman-teman panitia dan DPM sudah berusaha maksimal dengan melakukan follow-up kepada tiap-tiap lembaga di FISIP. Pada kenyataannya, di masa pendaftaran gelombang ketiga pun calon pendaftar mengembalikan formulir ketika mendekati waktu penutupan di posko pendaftaran,” keluh mahasiswi yang akrab disapa Mute itu.

Belum diketahui secara pasti apa penyebab utama dari kurangnya antusiasme di Pemira FISIP tahun ini. Mute meyakini, transisi dari perkuliahan daring menjadi luring adalah salah satu faktor apatisme mahasiswa dalam berorganisasi, sebab sudah terbiasa melakukan kegiatan secara daring selama dua tahun terakhir. 

Ketua BPPR FISIP itu turut menilai bahwa adanya program Kampus Merdeka yang diadakan oleh Kemdikbud juga menjadi alasan di balik minimnya antusias di Pemira kali ini. Menurutnya, mahasiswa belakangan ini lebih tertarik mengikuti program tersebut ketimbang bergabung dalam organisasi kampus.

Hingga berita ini diterbitkan, BPPR belum mendapati nama mahasiswa yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota DPM. Meskipun di awal terdapat dua pendaftar, salah satu dari pendaftar akhirnya gagal pada tahap verifikasi. Sedangkan pendaftar lainnya tidak mengembalikan formulir ke posko pendaftaran. 

Ihwal minimnya antusias pendaftar pada Pemira tahun ini, hal tersebut tak lantas menjadi hambatan. Menilik pada Ketetapan (TAP) Pemira, walaupun calon pendaftar pada akhirnya dinyatakan gugur, Pemira masih dapat berjalan selama terdapat mahasiswa yang sudah mengikuti pendaftaran. 

Nantinya, calon tunggal Presiden dan Wakil Presiden BEM FISIP Unmul periode 2022/2023 akan melawan kertas kosong di Pemira tahun ini. Mute berharap agar kejadian seperti ini tak kembali terulang pada tahun selanjutnya.

“Semoga pemimpin yang terpilih nanti bisa membangkitkan semangat berorganisasi dan dapat mewadahi mereka untuk belajar,” tutupnya. (dre/ani/ems)



Kolom Komentar

Share this article