Jalur Pejalan Kaki Unmul Kurang Ideal, WR IV Sebut Desain dan Perencanaan Sudah Disiapkan
Wakil Rektor IV sebut perbaikan trotoar yang kurang ideal sudah disiapkan, namun disesuaikan dengan anggaran yang tersedia
Sumber Gambar: Ai/Sketsa
SKETSA - Trotoar Unmul masih kerap alami kerusakan di beberapa titik. Kerusakan tersebut terjadi berulang di lokasi yang sama. Akademisi Teknik Sipil Unmul pun turut mengomentari tentang pembangunan trotoar yang ideal.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa juga mengeluhkan trotoar yang sempit dan dirasa kurang aman. Terlebih, batas jalan di beberapa area kampus tidak terawat.
Baca:
Rawan bagi Keselamatan Pejalan Kaki, Sejumlah Trotoar di Unmul Perlu Perbaikan
Akademisi Teknik Sipil Unmul, Tiopan Henry M. Gultom menilai Unmul kurang memperhatikan tempat pejalan kaki sebab tidak banyak pejalan kaki di kalangan mahasiswa.
Tiopan menuturkan, idealnya lebar trotoar yakni 2–3 meter sehingga pejalan kaki dapat merasa nyaman saat berjalan.
Selain itu, kondisi trotoar juga semestinya tidak naik turun. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan tersebut dapat dirasakan ketika berbicara dengan teman sambil berjalan.
“Kalau naik turun tidak nyaman (apalagi sambil) ngobrol dengan teman,” ujarnya kepada Sketsa, Senin (26/1) lalu.
Lebih lanjut, ia menyebut Unmul yang menggunakan ulin untuk trotoar juga menjadi penyebab trotoar kerap mengalami kerusakan berulang. Sebab bahan ini dapat mengalami pelapukan yang menyebabkan lubang. Kayu yang lepas juga mengancam keselamatan pejalan kaki.
“Sudah banyak yang lepas lepas. Itu juga harus hati-hati kecebur.”
Umumnya, jalur pejalan kaki menggunakan bahan dasar semen. Trotoar yang dicor dengan rata dapat memberikan kenyamanan tersendiri, sebab tidak menimbulkan rasa was-was.
“Bikin nyaman karena bisa santai sambil ngobrol,” lanjutnya.
Tidak hanya kondisi trotoar yang perlu diperhatikan. Ia menyebut, suhu di sekitar trotoar turut mempengaruhi kenyamanan. Idealnya, trotoar ditumbuhi pepohonan agar memberikan rasa sejuk dan terhindar dari panas.
Di sisi lain, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Humas, Nataniel Dengen menjelaskan akses trotoar yang direncanakan sudah dipikirkan dan disiapkan, tetapi terhalang oleh anggaran.
“Gambar dan desain itu dari sisi perencanaan sudah kami siapkan. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah dari sisi anggaran,” ungkapnya saat diwawancara langsung, Kamis (16/4) lalu.
Ia juga menyebut angka ideal lebar trotoar yang diinginkan masih diperhitungkan menyesuaikan anggaran dan area yang tersedia di sekitar trotoar.
“Kalau dia (trotoar) ternyata tidak selebar itu berarti ada set anggaran. Kalau kita mau lebarin, berarti ada area yang terpotong, kalau tidak ada bangunan di situ tidak masalah,” tuturnya.
Nathaniel turut menanggapi keluhan suhu panas di sekitar trotoar. Menurutnya, pepohonan di sekitar trotoar sudah cukup banyak, terkadang banyaknya pepohonan bisa berbahaya apabila tidak ada perawatan.
“Cuma ‘kan cuaca di Samarinda memang cuacanya panas dan untuk jalur-jalur tertentu kita lakukan penghijauan setiap saat sebenarnya atau seperti setiap ada acara Dies Natalis,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak kampus merencanakan merapikan jalanan dari Pramuka ke Gelatik dan membuat dua jalur trotoar agar mengurangi risiko kecelakaan.
“Karena lebar jalan terbatas, bagaimana membuat supaya pohon penyejuknya juga ada sepanjang jalan termasuk lampu,” ungkapnya. (mlt/gta/mau/aya)