Euforia Kurang, Hingga Sepi Peminat

Euforia Kurang, Hingga Sepi Peminat

Sumber gambar: Christnina

SKETSA - Proses Pemira Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sendiri sudah dihentikan dan dikembalikan ke dalam mekanisme Sidang Umum (Sidum) Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) FISIP.

Sidang umum rencananya akan dilaksanakan pada Desember mendatang, akan dibahas pendemisioneran BEM dan DPM FISIP. Sidum menjadi momen yang ditunggu untuk memperoleh kepastian, yakni musyawarah mufakat, aklamasi, dan vote, dalam hal ini adalah pemira.

Antusiasme Pemira FISIP tidak terlihat karena sepi peminat. Menyikapi hal tersebut, ketua DPM FISIP, Dody Kusuma turut menanggapi.

"Untuk tahun ini, tidak mengejutkan jika tidak ada peminat. Apakah kemunduran atau kemajuan, itu bergantung dari statement masing-masing orang. Saya menilai bahwa pemira tahun ini baik dari segi regulasi hukum dan kepanitiaan sudah berjalan maksimal," sebut mahasiswa angkatan 2016 ini.

Dia kemudian menambahkan salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya dorongan dari himpunan mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

"Namun, bisa jadi ini sebagai pertanda bahwa akan terjadi konsolidasi suara bulat untuk penentuan Presiden dan Wakil Presiden BEM FISIP serta ketua DPM FISIP, karena berangkat dari mekanisme mufakat pada forum tertinggi," lanjutnya.

Kemudian, dilansir dari Instagram @lensafisipunmul, terdapat postingan terkait pemira yang akan kembali diadakan. Berdasarkan postingan tersebut, DPM selaku penanggungjawab pelaksanaan pemira memutuskan untuk tetap melaksanakan pemira.

Hal ini didorong atas desakan anggota MPM FISIP untuk melangsungkan kembali pemira tahun ini. Disebutkan juga bahwa DPM FISIP telah melakukan sosialisasi TAP kepada lembaga kemahasiswaan FISIP.

Selain itu, pada Kamis (14/11) diadakan pertemuan MPM mengenai keberlanjutan pemira FISIP. Muncul dua opsi, yakni melakukan sidang umum terlebih dahulu pada Desember mendatang dan melaksanakan pemira di tahun berikutnya, atau kembali menggelar pemira saat ini.

Kemudian, tercapai kesepakatan bahwa pemira akan tetap berlangsung dan sidang umum diundur. Hal ini disepakati setelah muncul pertimbangan terkait kepengurusan yang akan datang dan pengkajian surat keputusan (SK). Sebab, per 1 Januari 2020, setiap lembaga di FISIP wajib menyerahkan SK terkait permohonan kepengurusan baru dan pengajuan Rancangan Anggaran Belanja (RAB).

Dalam pelaksanaan pemira, tentu harapannya semua mahasiswa dapat mengetahui agenda peralihan kepemimpinan ini. Sayangnya, tidak semua mahasiswa mengetahuinya, seperti Muhammad Arsyad, salah satu mahasiswa FISIP yang kurang memahami proses jalannya pemira tahun ini.

"Sebelumnya saya kurang paham mengenai pemira FISIP ini. Ada atau tidak adanya calon yang naik juga saya kurang paham. Yang saya tahu, pemira itu pemilihan raya yang diadakan tiap tahun sebagai acara seperti pemilu," ucapnya.

Tidak Ada Aktivitas

Tak jauh berbeda dengan FISIP yang terkesan sepi, perkembangan Pemira FMIPA masih berada pada tahap awal dan belum terdengar kabar pembentukan KPPR maupun Panwas. Tidak ada pula aktivitas yang berarti pada media sosial DPM FMIPA terkait pemira.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, Sketsa mencoba menghubungi pihak DPM FMIPA melalui pesan daring. Hesty Dwiyugo selaku Ketua Komisi B DPM FMIPA memberikan keterangannya terkait Pemira di kampusnya yang masih sepi kabarnya.

"Memang, untuk FMIPA sendiri bisa dibilang agak sedikit terlambat terkait pemira. Sejauh ini pun kami masih dalam tahap pemahaman kepada delegasi yang ditugaskan untuk melaksanakan pemira FMIPA.”

"Kami (dari) DPM mengusahakan untuk tetap terlaksananya pemira dan mengusahakan sekali untuk tidak aklamasi seperti beberapa tahun belakangan ini," tulisnya.

Sementara itu, ketua DPM FMIPA Tiara Halidah Ratnasari masih belum dapat dimintai keterangan mengenai kejelasan atas berlangsungnya pemira. (snh/omi/hlm/ina/len/wil)