Berita Kampus

Debat Pemira Sepi, Panelis Kecewa Calon Tak Kuasai Masalah

Rangkaian peristiwa menuju Pemira Unmul 2016 nyaris menemui ujung.

SKETSA Rangkaian peristiwa menuju Pemira Unmul 2016 nyaris menemui ujung. Berdasarkan timeline yang ditetapkan KPPR, hari ini (22/10) merupakan waktunya dua pasangan calon beradu gagasan dalam kemasan acara debat kandidat yang memang rutin digelar tiap tahun.

Berlangsung di Auditorium Unmul sejak pukul 11.00 Wita, agenda hari ini memang menjadi titik akhir dua pasangan calon memperkenalkan visi, misi, dan program andalannya jika terpilih. Sebab, besok (23/10), akan mulai dilakukan pencabutan atribut kampanye. Sedangkan lusa, sudah masuk masa tenang.

Debat kandidat tahun ini terbilang tak begitu mencuatkan kesan gegap gempita. Sesekali sempat memanas, nyatanya tak banyak dihadiri mahasiswa umum. Kursi-kursi yang disiapkan KPPR selaku penyelenggara dominan kosong. Hanya diisi tim sukses dan beberapa tamu undangan. Meski begitu, agenda tersebut khidmat dibuka oleh La Hasan, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan mewakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, La Hasan mengatakan, BEM KM Unmul selama dua tahun terakhir telah mereguk sukses dan mencapai perubahan ke arah yang semakin baik. Dia berharap, pasangan calon yang kelak memenangkan Pemira mampu melanjutkan itu dengan mampu menyuarakan dan meyakinkan pemangku kebijakan dalam rangka memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Adapun, minimnya kehadiran mahasiswa, juga tak luput dari penyampaiannya. Dia bahkan memiliki sekelebat pemikiran untuk meningkatkan partisipan pada Pemira mendatang.

“Mahasiswa yang hadir hari ini sangat sedikit. Bisa jadi saat Pemira juga hanya segini (sedikit) yang menggunakan hak pilih. Kita mesti pikirkan cara mengajak mereka yang tidak hadir untuk berpartisipasi dalam organisasi dan berpartisipasi saat Pemira. Mungkin kita bisa jadikan bukti keterlibatan Pemira sebagai syarat mengurus administrasi. Tapi, tentu saja itu perlu dibicarakan dulu,” tuturnya.

Debat kandidat, dipandu oleh Harish Jundana. Sementara dari meja panelis, diisi oleh tiga kalangan berbeda. Pertama, dari kalangan akademisi, ada Sri Murlianti, dosen Sosiologi FISIP Unmul. Kemudian, dari kalangan aktivis, Abdul Rohim yang pernah menjabat sebagai Presiden BEM Unmul periode 2004/2005. Terakhir, ada Jahruni, Pemimpin Redaksi Tepian TV, sebagai perwakilan dari kalangan jurnalis. Mereka mengajukan pertanyaan cukup menohok sesuai kajian keilmuan masing-masing. Detik-detik tanya jawab inilah yang membuat suasana debat cukup hangat selama satu jam.

Pertanyaan pertama dilontarkan Sri Murlianti. Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mempertanyakan perihal pusat kajian riset dan pengembangan wilayah yang masih minim di Unmul. Dia meminta langkah konkret dua pasangan calon untuk menghidupkannya. Namun, jawaban pertanyaan itu dinilai Sri kurang sesuai baik dari kubu Endra-Dicky maupun Norman-Bhakti. Endra-Dicky mengaku bakal menghidupkan publikasi lewat website kampus, gerakan cinta literasi, dan pendekatan kepada birokrat dan kelembagaan. Sementara Norman-Bhakti bakal melakukan kampanye dan sosialisasi lewat media sosial.

Melalui status Facebook-nya Sri menulis pemandangan pesta demokrasi mahasiswa yang dilihatnya hari ini sangat menyedihkan. “Para calon tidak menguasai discourse baik pada level lokal, maupun nasional. Program-program mereka mencerminkan event organizer ketimbang membangun visi misi presiden sebuah universitas,” tulisnya.

Sementara Rohim mengatakan, dirinya tercengang dengan jargon yang dibawa masing-masing calon. Visi-misi dua pasangan calon dikritisnya terlalu sibuk mengurusi bagian yang mestinya dikerjakan oleh UKM. Bagi dia, periode yang sebenarnya kurang dari satu tahun tak bakal cukup jika dua calon hanya fokus pada hal-hal yang tidak penting. Pun perihal program unggulannya, Rohim tegas menyebut dua calon hanyalah makelar proposal dengan titik fokus menjadi penyelenggara event kemahasiswaan. Hal itu sangat dia sayangkan.

“Mestinya kerja BEM KM Unmul itu lebih mengurusi karut marut masalah lokal hingga nasional, bukan cuma tukang bikin proposal untuk jadi event organizer,” tukasnya.

Selanjutnya Jahruni, mempertanyakan seberapa banyak dua pasangan calon membaca koran atau menonton berita. Dia ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dua pasang kandidat berikut kepekaannya terhadap isu-isu lokal serta nasional. Baginya, pemimpin mesti peka terhadap isu. Tak hanya di kampus, tapi juga di Samarinda, bahkan Indonesia. Tak hanya itu, dia pun menanyakan buku apa yang telah dibaca dan apa isinya.

Pertanyaan itu nyatanya cukup membuat dua pasangan calon kelimpungan. Melalui jawaban mereka, nyatanya hanya mengetahui beberapa isu sehingga menjawabnya malu-malu.

Pasca tanya jawab dengan panelis, debat kandidat dilanjutkan dengan tanya jawab antar pasangan calon. Saling adu kebolehan, sesekali mereka saling sindir kekurangan. Endra menuding Norman tidak disiplin. Sebaliknya, Norman menyebut Endra terlalu berambisi untuk mengambil banyak jabatan strategis.

Berakhir pukul 13.00 Wita, dua pasangan calon disaksikan Ketua KPPR, Ketua Panwas, dan Ketua DPM KM Unmul menandatangani deklarasi siap menang dan siap kalah. (aml/im)



Kolom Komentar

Share this article