Ketika Semua Terlihat Normal: Pelajaran dari Animal Farm
Animal Farm mengangkat dinamika masyarakat dalam keseharian
Sumber Gambar: Wikipedia
Jika 1984 karya George Orwell menyentil negara secara struktural, maka Animal Farm menyentil masyarakat dalam keseharian. Bukan lewat aparat dan layar pengawas, melainkan lewat kebiasaan, pergaulan, dan kesepakatan yang perlahan dianggap wajar.
Animal Farm kerap dibaca sebagai cerita tentang kekuasaan besar dan rezim otoriter. Padahal ia justru paling akurat ketika ditarik ke ruang yang lebih kecil dan ke dalam lingkaran yang tidak pernah menyebut dirinya berkuasa, tetapi pelan-pelan menentukan arah.
Di sanalah cerita Orwell bekerja dengan tenang, tanpa perlu kekerasan dan ancaman terbuka.
Dalam setiap komunitas, selalu ada kelompok yang tampil paling aktif dan paling terorganisir. Bahasa yang digunakan rapi, niat yang dibawa terdengar mulia, dan kehadirannya sering dianggap representasi kepedulian.
Pada tahap awal, keberadaan mereka bahkan dibutuhkan. Persoalan muncul ketika aktivitas berubah menjadi legitimasi dan legitimasi berubah menjadi hak moral untuk menentukan segalanya.
Tidak ada pengumuman pengambilalihan. Semua berlangsung wajar, seolah memang seharusnya demikian.
Kekuasaan semacam ini jarang bekerja lewat larangan. Ia bekerja lewat selera. Ide-ide tertentu dirayakan, sementara yang lain dibiarkan tenggelam. Gagasan jangka panjang terdengar terlalu rumit.
Visi yang tidak langsung menghasilkan respons dianggap tidak relevan. Pada titik itu, diskusi tidak lagi berangkat dari pertanyaan benar atau salah, melainkan dari mana yang paling mudah disepakati bersama.
Di dalam situasi seperti ini, posisi tokoh Snowball dan tokoh Benjamin terasa berdekatan. Snowball percaya pada gagasan, pada sistem yang bisa diperbaiki, dan pada masa depan yang perlu dipikirkan sejak sekarang.
Namun, sejarah di Animal Farm menunjukkan bahwa ide tidak selalu kalah karena keliru, melainkan karena tidak populer. Ketika ruang lebih menyukai keseragaman yang praktis, Snowball akan selalu terdengar terlalu ribut.
Benjamin memilih bertahan dengan jarak. Ia tidak menyangkal apa yang terjadi, tetapi juga tidak lagi berharap banyak dari proses yang sudah condong.
Ia tahu bahwa kesadaran tidak selalu berarti pengaruh. Maka yang tersisa adalah mengamati, mencatat, dan menjaga sikap. Sikap ini kerap dibaca sebagai pasif, padahal bisa jadi ia adalah bentuk kewaspadaan yang paling jujur.
Novel Animal Farm mengingatkan bahwa masalah utama bukanlah lahirnya kelompok dominan, melainkan hilangnya ruang untuk berbeda tanpa dicurigai.
Ketika satu kelompok merasa dirinya representasi kebaikan bersama, kritik pelan-pelan berubah menjadi gangguan, dan pertanyaan dianggap memperlambat langkah. Pada titik itu, slogan tetap terdengar sama, tetapi maknanya tidak lagi dimiliki bersama.
Mungkin inilah alasan mengapa novel Animal Farm terus terasa relevan, karena kandang tidak selalu dibangun dari pagar yang keras, melainkan dari kebiasaan, kelelahan, dan kesepakatan diam-diam.
Melalui konsep kandang seperti itu, Snowball akan selalu disingkirkan atas nama efisiensi, sementara Benjamin hidup cukup lama untuk memastikan bahwa semua ini bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.
Resensi ini ditulis oleh Abimanyu Putra Nugroho, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro FT Unmul 2025.