Resensi

Toko Kelontong Namiya: Kisah Nasihat Melintasi Waktu

Sebuah toko tua, surat dari masa lalu, dan nasihat yang mengubah hidup.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: IDN Times

SKETSA - Toko Kelontong Namiya adalah novel fiksi karya penulis Jepang, Keigo Higashino, yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Faira Ammadea. Berlatar sebuah toko kelontong tua yang terlihat biasa saja, namun menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini melalui surat-surat misterius yang melintasi batas waktu. 

Melalui konsep perjalanan waktu tersebut, Keigo Higashino menyajikan kisah-kisah kehidupan manusia yang saling berkaitan, memperlihatkan bagaimana keputusan yang diambil di masa lalu dapat mempengaruhi masa depan. 

Novel ini tidak hanya menawarkan unsur fantasi dan misteri, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang pilihan hidup, penyesalan, dan harapan.

Cerita ini dimulai pada 2012, terdapat tiga pemuda bermasalah bernama Atsuya, Shota, dan Kohei yang sedang melarikan diri setelah melakukan kesalahan.   Tanpa sengaja, mereka bersembunyi di sebuah toko kelontong tua bernama Toko Kelontong Namiya yang sudah lama tidak beroperasi.

Awalnya, tempat itu terlihat biasa saja, bahkan terkesan sepi dan terbengkalai. Namun, suasana berubah. Mereka dikejutkan saat menemukan sebuah surat misterius yang masuk melalui celah kotak surat toko tersebut, padahal sudah jelas terlihat bahwa toko itu sudah lama tutup.

Surat yang datang ternyata berasal dari masa lalu dan berisi permintaan nasihat masalah hidup yang sedang dihadapi sang pengirim. 

Meskipun awalnya ragu dan menganggap hal itu tidak masuk akal, ketiga pemuda tersebut akhirnya memutuskan membalas surat itu. 

Sejak saat itu, semakin banyak surat-surat dari masa lalu yang datang. Masing-masing membawa cerita tentang kebimbangan, impian, dan pilihan hidup mereka yang sulit. 

Tanpa mereka sadari, jawaban yang mereka berikan ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan para pengirim surat di masa lalu.

Seiring berjalannya cerita, pembaca akan diajak berpindah-pindah waktu mengikuti kehidupan para penulis surat dan melihat dampak nasihat yang diberikan ketiga pemuda tersebut. 

Hubungan antar tokoh yang awalnya terpisah perlahan mulai terhubung membentuk satu rangkaian cerita yang saling berkaitan.

“Manusia sering kali telah memiliki jawaban di dalam hati, namun mereka hanya butuh keberanian untuk menjalankannya.”

Kutipan ini mewakili pesan yang ingin disampaikan dalam novel Toko Kelontong Namiya. Keigo Higashino menunjukkan bahwa para tokoh sebenarnya telah mengetahui apa yang mereka inginkan, tetapi terjebak dalam keraguan dan ketakutan dalam mengambil keputusan. 

Novel ini mengajarkan bahwa nasihat orang lain hanyalah pemicu, tetapi keputusan dan keberanian tetap berada dalam kendali diri masing masing. (gya)



Kolom Komentar

Share this article