Tentang Kami

Menyelam Lebih Dalam Soal Isu dan Foto Jurnalistik Lewat PJTD Sketsa 2026

LPM Sketsa Unmul kembali menggelar PJTD 2026 membekali peserta kemampuan mengolah isu dan fotografi jurnalistik. Peserta diajak mengasah kepekaan lewat praktik dan diskusi interaktif

Sumber Gambar: Rahman/Sketsa

SKETSA — Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 Wita saat barisan kursi di Aula FH Unmul mulai terisi. Satu per satu peserta mendatangi ruangan yang ada di lantai tiga Gedung FH itu dan mengantre untuk mengisi presensi. Pagi itu, mereka datang tidak hanya membawa semangat, tapi juga memboyong rasa ingin tahu yang begitu besar. 

Keingintahuan itu segera terjawab saat mereka memasuki ruangan dan mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026. Pelatihan yang digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Unmul pada Sabtu (29/8) ini mengusung tema “See. Think. Tell: The Journey to Story”.

Ketua Umum LPM Sketsa Unmul Periode 2025/2026, Ai Nasyrah Nurdea menyampaikan bahwa PJTD merupakan kegiatan rutin tahunan LPM Sketsa sebagai wadah belajar mengenai dasar-dasar jurnalistik. 

“Setiap tahun, kita punya tema dan materi yang berbeda-beda,” ucapnya. 

Ai, sapaan akrabnya, membeberkan alasan mengangkat materi isu dan fotografi dalam PJTD 2026. Menurutnya, fotografi cukup jarang dibahas dalam pelatihan jurnalistik tingkat dasar. Padahal, pembaca di era digital ini tidak hanya terpaut pada tulisan saja, melainkan juga tertarik pada foto yang dilihat di berita. 

“Biasanya hanya menulis, tapi kali ini kita belajar tentang foto juga,” ujar Ai. 

Hal itulah yang mendasari pelaksanaan PJTD 2026 dengan harapan tiap peserta dapat memahami konsep, nilai, dan karakter isu yang layak diberitakan hingga mampu menerapkan teknik dasar fotografi jurnalistik sehingga menghasilkan foto yang memiliki nilai berita. 

Pelatihan ini dibagi ke dalam dua sesi utama. Pada sesi pertama, peserta diberikan materi yang dibarengi dengan diskusi interaktif bersama narasumber. Lalu, pada sesi kedua, peserta diarahkan untuk mengambil foto di sekitar lokasi kegiatan sebagai praktik dari materi yang disampaikan sebelumnya. 

Melalui sesi praktik, peserta tidak hanya berlatih memotret dan membuat takarir singkat yang mencakup 5W+1H, melainkan juga mengasah kepekaan dalam mengolah data menjadi suatu berita yang menarik. 

Mengulik Ilmu dari Narasumber Berpengalaman 

Dua topik utama yang menjadi fokus dalam PJTD 2026 ini disampaikan langsung oleh narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Materi isu dibawakan langsung oleh Melisa, seorang jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Ayokaltim. Sementara itu, materi foto disampaikan oleh jurnalis dan fotografer Kaltim Today, Defrico Alfan Saputra. 

Dipandu oleh Alyda Khairunnisa sebagai moderator, keduanya menyampaikan materi selama 45 menit di hadapan hampir 60 peserta yang berasal dari anggota pers mahasiswa (Persma), mahasiswa, dan siswa SMA sederajat. 

Dalam penjelasannya, Melisa mengajak para peserta untuk mengenal perbedaan antara berita cepat dengan berita mendalam. 

“Berita cepat memberikan kita informasi agar kita mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan, berita mendalam membantu kita untuk memahami cerita di balik suatu isu atau masalah,” terangnya kepada peserta. 

Melisa menekankan agar berita yang dihasilkan dapat memberikan pemahaman bagi pembaca, bukan hanya sekadar tahu. 

Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya verifikasi pada berbagai sumber. Di antaranya ada sumber utama, sumber pembanding, ahli atau pakar, hingga dokumen dan data untuk menguji kebenaran klaim narasumber yang diwawancarai. 

“Semakin sensitif sebuah isu, semakin kuat kebutuhan verifikasinya,” tandasnya. 

Terakhir, Melisa berpesan agar ke depannya peserta tidak hanya menghasilkan sebuah berita, tapi juga mengungkap cerita.

“Jangan lupa, tetap mengedepankan kode etik jurnalistik,” pesannya. 

Materi berikutnya diisi oleh Defrico. Jurnalis yang akrab disapa Rico itu menyampaikan bahwa fotografi jurnalistik bertujuan untuk mendokumentasikan sebuah peristiwa secara akurat, cepat, dan menarik. 

Ada lima karakteristik foto jurnalistik yang ditekankan oleh Rico, yakni aktual dan faktual; memiliki nilai berita; mampu bercerita tanpa banyak teks; mengandung unsur human interest; serta tidak boleh dimanipulasi secara berlebihan. 

Tidak berhenti di situ, ia juga menunjukkan sejumlah peralatan fotografi jurnalistik yang umum digunakan hingga dasar pengaturan kamera dan teknik pengambilan foto. 

Terakhir, Rico berpesan bahwa foto yang baik adalah foto yang mampu menyampaikan informasi dengan cepat dan emosional. Fotografi jurnalistik bukan hanya soal teknis, tapi juga tentang cerita dan kepekaan. 

Ia juga menyampaikan agar para peserta terus konsisten berlatih dan belajar lewat diskusi-diskusi bersama orang-orang yang terjun dalam profesi tersebut. 

“Terus semangat, gali potensi kalian, baik itu bidang fotografi ataupun yang lain,” pungkas Rico. 

Antusiasme Peserta

Meski harus mengikuti rangkaian kegiatan yang cukup padat, semangat peserta tidak luntur. Sejak pagi, antusiasme mereka mewarnai ruangan hingga acara berakhir di sore hari. 

Tak ayal peserta merasa begitu, sebab pelatihan ini dikemas dengan memadukan kuis interaktif serta gim yang kompetitif. 

Salah satu peserta dari MAN 1 Samarinda, Fauzan Abiyyu Rahman, mengungkapkan antusiasmenya. 

“Sangat senang, luar biasa sekali. Saat ngerjain kuis asik banget,” bebernya. 

Tidak hanya itu, Fauzan juga mengaku senang karena mendapatkan ilmu baru soal berita mendalam. 

“Saya baru tahu itu, kita bahkan belajar mendalami suatu isu untuk berita.”

Diwawancara secara terpisah, perwakilan LPM Cakrawala Uinsi, Rifa Rahmasari turut mengamini pernyataan Fauzan. Baginya, materi terkait berita mendalam menjadi suatu ilmu baru yang ia dapat lewat PJTD 2026. 

“Nggak cuma itu, kita juga jadi tahu kalau foto bukan hanya soal menangkap momen, tapi jadi bukti suatu kejadian,” tuturnya dengan semangat. (ali/mou)



Kolom Komentar

Share this article