Hafidzaki, Menjejaki Pengalaman dan Bisnis di Usia Muda

Hafidzaki, Menjejaki Pengalaman dan Bisnis di Usia Muda

Istimewa

SKETSA - Tak ada yang lebih menyenangkan selain sore kala itu. Ditemani pepohonan rindang, bangku kayu yang memanggil untuk disinggahi, hingga mentari yang malu-malu kembali ke peraduannya. Suasana ini meneduhkan perjumpaan awak Sketsa dengan Hafidzaki Monocikadiwa. Sosok pemuda yang berhasil merangkai kisahnya sendiri untuk kemudian dibagi kepada rekan generasi muda lainnya. Dari ceritanya, tersirat pesan bahwa mimpi itu bukan sekadar angan, namun juga harus diperjuangkan.

Pria yang akrab disapa Dzaki ini lahir di salah satu ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu, tepatnya di Rengat, Pekanbaru. Seakan ingin menjelajah, Dzaki yang menghabiskan masa kecilnya selama 5 tahun di Tanah Melayu, pindah ke Bangka Belitung. Ya, tempat di mana sebuah karya besar lahir di sana. Bersama dengan keluarganya, Dzaki tumbuh besar di sana. Sebelum akhirnya memutuskan kembali pindah. Kali ini Jakarta menjadi tujuan. Tidak masalah, Dzaki bersemangat menceritakan masa kecil yang ia habiskan di beberapa daerah.

Di ibu kota, Dzaki menjadi santri di salah satu pesantren di Jakarta Selatan. Dari sini, ia mengatakan bahwa salah satu hal yang melatih kemampuannya berbicara di depan umum di mulai saat ia menjadi santri. "Dulu ada semacam kewajiban buat kita yang mondok untuk ceramah di depan umum. Jadinya semakin sering, semakin biasa hingga sekarang," paparnya.

Hingga menyelesaikan pendidikan SMA, ia memutuskan untuk kembali menjajal daerah lain. Samarinda menjadi pelabuhannya. Menjadi mahasiswa di tahun 2013 lalu membuatnya menemukan begitu banyak hal-hal baru. Mulai dari kegiatan belajar mengajar di kampus, organisasi, hingga ia berhasil menemukan dan mengembangkan passion-nya.

Bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Menemukan passion dinilai menjadi persoalan yang merepotkan. Tapi tidak untuk pemuda kelahiran 1996 silam ini. Ia yang terbiasa untuk mencoba hal baru dengan mudah dan dapat mengenali apa yang memang menjadi minatnya, yakni dunia desain.

Langit malam perlahan melahap sinar senja. Namun Sketsa masih setia mendengarkan cerita menarik pria kelulusan 2017 silam ini. Terjun ke bangku perkuliahan, ia memilih untuk terjun mencicipi dunia organisasi. Mulanya, ia menjadi sekretaris malam keakraban yang diadakan di fakultasnya. Dari sana keberaniannya untuk berbagi seputar dunia desain semakin meningkat.

Namun organisasi di fakultas nampaknya belum cukup memuaskan hasratnya untuk mencoba hal-hal baru di Unmul. Dzaki memberanikan diri untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik atau yang saat ini dikenal dengan LPM Sketsa. Mendaftarkan posisinya sebagai desainer, menjadi batu loncatan lainnya bagi karier Dzaki. Hingga saat ini, meski telah berstatus alumni, namun ia tak sungkan untuk bersilaturahmi dan dan berbagi ilmu. Bahkan, karena kebolehannya di dunia desain dan pemrograman aplikasi, dia dipercaya untuk membantu mengembangkan website LPM Sketsa Unmul.

Merintis 3 Usaha di Usia Muda

Memanfaatkan kesukaannya terhadap dunia menggambar, ia tentu tak serta merta melewatkan kesempatan ini.

Dzaki melihat peluang lain selain desain melalui aplikasi. Ia menyadari bakat lainnya, yakni menggambar. Beragam kemampuan yang dimilikinya akhirnya membuat Dzaki menjadi orang yang mampu merintis tiga bidang bisnis yang berbeda. Meski begitu, ketiganya masih berada dalam satu rumpun, yakni bisnis digital media.

Sama seperti yang sering dikatakan orang lain, kesuksesan dapat dimulai dengan keberanian untuk mengambil langkah kecil terlebih dahulu. Sama dengan Dzaki, ia juga memulai perjalanan kariernya dengan mendesain beberapa logo kecil-kecilan dan saat itu ia tidak memberikan harga, alias gratis.

Tetapi dari usaha itulah Dzaki berhasil merintis bisnisnya saat ini. Ia tak sendiri, bersama timnya, pemuda ini mantap untuk mendirikan sebuah konsultan desain bernama Kawalan Studio.

"Di Kawalan Studio aku biasa menjual hasil desainku," ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, pemuda ini juga sudah punya target marketing sendiri yakni para pelanggan yang rata-rata berasal dari luar negeri.

"Hasilnya lumayan lah, bisa sampai dapat 500 dollar tahun lalu," tambahnya.

Sekarang ia diberi kesempatan untuk tidak sekadar memproduksi desain, namun juga berkesempatan untuk mengelola bisnis secara keseluruhan. Seperti menggaet pelanggan, promosi, hingga produksi.

Bukan hanya Kawalan Studio, ada juga Sinergi Receh yang siap memajukan bisnismu. Ia berujar bahwa Sinergi Receh merupakan platform online yang dibangun untuk memfasilitasi dan mempertemukan antara sebuah bisnis dengan investor. Selain itu, ada juga sebuah social media management bernama Ceritakan. Pada dasarnya tidak semua orang memiliki waktu yang cukup untuk mengorganisir sosial media mereka. Untuk itulah Ceritakan hadir. Tujuannya untuk memfasilitasi orang-orang yang tidak punya cukup waktu mengelola sosial media mereka. Ceritakan akan memberikan solusi dan masukan tentang apa-apa saja yang cocok dimasukkan ke dalam sosial media tersebut.

Cerita lain yang turut mendukung kesuksesannya saat ini ialah di 2017 lalu, ia bekerja sebagai fasilitator di Telkom Indonesia.

"Dulu hanya sebagai fasilitator. Akhirnya bisa sharing-sharing mengenai masalah desain ke orang-orang banyak," katanya.

Kini ia banyak mengisi acara talkshow sebagai pembicara. Hingga yang terbaru, ia dipilih sebagai pembicara di event yang dihelat oleh Telkom Indonesia bersama dengan Rumah Krearif Indonesia BUMN. Di sana ia berkesempatan untuk menyampaikan bagaimana sistematika mendesain dan membangun promosi melalui aplikasi edit foto sederhana di kalangan millenials bernama Canva.

Menurutnya, saat ini tidak perlu mengeluarkan budget banyak untuk dapat berkarya. Karena sekarang semuanya sudah didukung oleh perkembangan teknologi yang canggih.

Saat ini bukan lagi menjadi hebat untuk diri sendiri, tetapi juga bagaimana cara kita agar dapat menghebatkan orang lain. Salah satunya dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Dzaki menjadi salah satunya.Melalui tiga bisnis yang sedang dirintis, ia berharap agar dapat memberikan manfaat dan menebarkan kebaikan. Baik itu dari segi konten, maupun sisi humanis.

“Cintai apa yang kamu cintai. Masa mudamu masih panjang. Perbanyaklah pengalaman hidup, karena kehidupan ini tidak melulu soal uang," tutupnya. (sut/fqh/adl)