Kolektor Banyak Buku, Minat Literasi Mati
Ketika orang yang telah membeli buku justru kehilangan minat baca karena telah terpuaskan hanya dalam membeli saja
Sumber Gambar: Pinterest
SKETSA - Saat ini, buku sedang marak-maraknya dibeli masyarakat. Tidak tahu karena memang ingin dibaca atau hanya takut ketinggalan atau biasa disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO).
FOMO dalam membaca bukan masalah, melainkan ketakutan akan tertinggal yang baik karena buku adalah jendela untuk membuka rasa ingin tahu, penasaran, dan memperluas rasa empati dalam diri jika membaca fiksi maupun nonfiksi.
Namun, yang sangat disayangkan adalah ketika orang yang telah membeli buku justru kehilangan minat baca karena telah terpuaskan hanya dalam membeli saja. Ketika ingin membacanya, baru membuka 1 atau 2 lembar halaman pun sudah menutup kembali buku itu. Tidak benar-benar dibaca.
Di Jepang, istilah ini dinamakan Tsundoku, mulai dari Zaman Meiji (1868–1912). Ini merupakan istilah sindiran. Biasanya dipakai untuk orang-orang yang raknya penuh dengan buku, namun keinginan untuk membaca menyusut.
Orang-orang seperti ini juga membutuhkan validasi publik. Membeli dan memotret, lalu mengunggah di media sosial. Padahal, ia tidak membedah isi buku tersebut. Orang-orang ditipu olehnya. Walaupun Sebenarnya mengunggah di media sosial itu tidak apa-apa, jika bukunya benar-benar dibaca.
Bagi mereka, membeli buku itu instan dan mudah. Namun, membacanya yang sulit karena membutuhkan konsentrasi besar dan berat di kepala serta membosankan. Aktivitas kognitif telah digantikan menjadi aktivitas konsumtif.
Jika terus dilanjutkan dari masa ke masa, bahayanya, individu akan MENJADI “kolektor barang”, BUKAN “seorang pemikir”. Seorang yang di rak bukunya penuh, tetapi pola pikirnya tidak kritis akan tetap dalam posisi jongkok di atas tanah.
Daripada mengoleksi banyak buku dan tidak membacanya, alangkah baiknya buku itu disumbangkan atau diberikan ke orang yang haus ilmu dan pengetahuan. Jangan hanya sanggup scroll media sosial berjam-jam, tetapi membaca buku sepuluh menit pun tidak sanggup. Silakan baca bukumu dan meskipun terlambat, Selamat Hari Buku Sedunia.
Opini ini ditulis oleh Lola Setia Hidayani, mahasiswa Program Studi Kehutanan FKLT Unmul 2023.